04 Mei 2009

Mengucapkan Allahu A'lam Bila Tidak Tahu

Allah berfirman:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu
bersyukur. (An-Nahl: 78)

Inilah keadaan gambaran manusia ketika pertama kali ia lahir ke dunia yang fana
ini. Ia tidak mengetahui apa-apa, hanya menangis dan tidur yang bisa ia lakukan.
Akan tetapi, Allah yang maha Pemurah memberikan kepadanya beberapa sarana dari
anggota tubuhnya yang dapat dipergunakan untuk mengetahui banyak hal yang masih
asing baginya.

Pendengaran, penglihatan, dan hati (akal). Inilah sarana yang sangat berperan
dalam menuntut ilmu. Yaitu untuk mendengar, melihat, dan memahami ayat-ayat
tanda kebesaran Allah dengan tujuan pada akahirnya manusia dapat mengetahui dan
mewujudkan tujuan penciptaannya di muka bumi ini, yaitu beribadah semata-mata
kepada Allah.

Allah telah memberi peringatan dan ancaman yang keras bagi manusia dan jin yang
tidak menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hati mereka pada tempat
semestinya yang diridhoi dan diperintahkan Allah, yaitu untuk mentauhidkannya.
Mereka digambarkan bagaikan binatang ternak, bahkan lebih hina.

Di antara manusia ada yang mampu menggunakan sarana-sarana di anggota tubuhnya
untuk menuntut ilmu syar'i yang digali dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.
Merekalah para ulama dan penuntut ilmu di jalan Allah.

Namun, berapapun banyaknya pembendaharaan ilmu yang dimiliki oleh manusia,
seluas apapun bidang ilmu yang mampudikuasainya, hanyalah sedikit sekali dari
pemberian Allah: Allah berfirman:

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit (Al-Isra:85)

Hendaklah seorang alim maupun penuntut ilmu mengetahui kadar ilmu yang ia
miliki. Agar ia hanya berkata dan menjawab sebatas apa yang diketahuinya ketika
ia memikul tangggung jawab untuk menjawab pertanyaan orang-orang awam.
Selebihnya, ia hanya bisa menyerahkan kepada Allah dengan menjawab Allahu A'lam
(Allah lebih mengetahui) atau Saya tidak tahu.

Ucapan ini bukanlah menunjukkan kebodohan seseorang, tapi malah merupakan suatu
sikap yang sangat terpuji dan mulia, akhlaq sunni yang diwariskan dari
Rasulullah dan para Sahabat beliau, menunjukkan sifat wara' dan tawadhu'
seseorang di hadapan syariat Allah. Karena, di atas orang alim ada yang lebih
alim.

Telah mendahului kita para hamba Allah yang mulia dalam mengakui
ketidaktahuannya. Beberapa contoh di antaranya:

1. Para malaikat.

Firman Allah Dalam Al-Quran:

Allah berkata kepada para malaikat, Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda
itu jika kamu memang benar !Para malaikat menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada
yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya
Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah: 31-32)

2. Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam.

Firman Allah Dalam Al-Quran:

Katakanlah (hai Muhammad): Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu (atas
dakwahku), dan aku bukan termasuk orang yang mengada-ada.(shad: 86)

Ibnu Mas'ud berkata: Barang siapa mengetahui sesuatu hendaklah ia berkata dengan
pengetahuannya itu. Sedangkan yang tidak mengetahui hendaklah ia mengucapkan
Allahu A'lam (Allah lebih mengetahui). Karena, sesungguhnya Allah memerintahkan
kepada Rasul-Nya: Katakanlah (hai Muhammad): Aku tidak meminta upah sedikitpun
kepadamu (atas dakwahku), dan aku bukan termasuk orang-orang yang mengada-ada.

Begitu pula ketika Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam ditanya oleh Malaikat
Jibril (dalam sebuah hadis yang panjang) tentang kapan terjadinya Hari Kiamat.
Beliau menjawab:Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada yang
bertanya.(HR. Muslim)

3. Kisah para Sahabat Rasulullah dan para ulama yang berjalan mengikuti jejak
mereka. Di antaranya:

- Abu Bakar. Beliau pernah ditanya tentang ayat-ayat Al-Quran. Beliau berkata:
Bumi manakah yang akan menampungku, dan langit mana yang akan menaungiku
(maksudnya kemanakah aku akan pergi melangkah), jika aku berkata tentang
ayat-ayat dalam Kitab Allah, berbeda dengan maksud yang diinginkan Allah.

Beliau merasa khawatir untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Quran tanpa ilmu.

- Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang suatu permasalahan, beliau menjawab
Saya tidak tahu. Kemudian beliau berkata lagi Alangkah sejuknya hati ini (tiga
kali). Orang- orang bertanya: Ya Amirul Mukminin, apa maksud perkataanmu itu ?.
Beliau menjawab: Yaitu apabila seseorang ditanya tentang sesuatu yang tidak
diketahuinya ia menjawab Allahu A'lam.

- Ibnu Umar pernah ditanya: Apakah bibi dari pihak bapak ikut mewarisi harta
warisan ?. Beliau menjawab: Saya tidak tahu. Yang bertanya menimpali: Jadi anda
tidak tahu dan kami pun tidak tahu ?. Ibnu Umar menjawab: Ya, pergilah ke
ulama-ulama di Madinah dan tanyailah mereka. Setelah orang yang bertanya tadi
berlalu, Ibnu Umar mencium kedua tangannya seraya berkata: Alangkah indahnya
perkataan Abu Abdurrahman (Ibnu Umar) ketika ia ditanya yang tidak diketahuinya
ia berkata ' Saya tidak tahu' .

- Para Shahabat Rasulullah lainnya juga selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam yang tidak mereka ketahui dengan ucapan
Allahu wa Rasuluhu A'lam (Allah dan Rasulullah lebih mengetahui)

Seperti kisah Umar bin Khattab ketika beliau ditanya Rasulullah tentang
laki-laki berpakaian serba putih dan berambut hitam legam yang datang bertanya
kepada Rasulullah masalah Islam, Iman, Ihsan, dan Hari Kiamat. Umar bin Khattab
menjawab Allahu wa Rasuluhu A'lam (Allah dan Rasulullah lebih mengetahui)

- Imam Asy-Sya'by pernah ditanya tentang sesuatu, beliau menjawab: Saya tidak
tahu. Tapi beliau malah ditanya lagi: Apakah engkau tidak malu mengucapkan tidak
tahu, sedangkan engkau seorang ahli fiqih di Iraq ?. Asy-Sya'by menjawab: Tetapi
Malaikat tidak malu untuk berkata: 'Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami
ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami' .

- Ibnu Wahb berkata: Saya mendengar Imam Malik sering berkata 'saya tidak tahu',
seandainya kami menulis ucapannya itu pasti akan memenuhi lembaran yang banyak.

Itulah ketawadhuan yang dimiliki oleh orang-orang yang terbaik dari umat ini,
kemudian diwarisi oleh para ulama sesudah mereka. Mereka tidak segan untuk
mengucapkan tidak tahu, dan tidak malu untuk mengucapkan Allahu A'lam.

Mereka sangat paham, bahwa ucapan itu tidak akan menurunkan derajat keilmuan
mereka. Bahkan, ucapan itu menunjukkan keilmuan dan kefaqihan seseorang.

Karena, hanya orang-orang bodohlah yang berani berbicara tanpa dilandasi ilmu.
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Sesunggahnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara sekaligus. Tetapi,Allah
mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Sehingga, apabila tidaktersisa
lagi orang alim, manusia mengangkat pemimpin yang bodoh, mereka ditanyai dan
berfatwa tanpa didasari ilmu, mererka sesat lagi menyesatkan.(HR. Bukhari dan
Muslim)

Alangkah sangat memilukan pemandangan yang dapat kita saksikan di sekitar kita.
Memasyarakatnya bid'ah dan menyebarnya kerancuan, salah satu penyebabnya adalah
karena fatwa yang tidak didasari ilmu dari orang-orang yang diulamakan; dianggap
cendekiawan; atau dijuluki pemikir Islam oleh mayarakat awam. Mungkin merasa
gengsi untuk mengucapkan tidak tahu di depan para penggemarnya. Allahu
Musta'an…… .

Marilah kita mengoreksi diri kita masing-masing, agar kita mengetahui kedudukan
kita dibanding para sahabat Rasulullah dan ulama umat ini untuk berfatwa dalam
syariat Allah. Mari kita ambil pelajaran dari nasehat Abu Dziyal: Belajarlah
mengucapkan 'saya tidak tahu', jangan kamu belajar mengucapkan 'saya tahu'.
Karena, jika kamu mengatakan 'saya tidak tahu’, kamu akan diajarkan sampai kamu
tahu. Tapi,kalau kamu mengatakan 'saya tahu', kamu akan terus ditanyai sampai
akhirnya kamu mengucapkan 'tidak tahu' .

Maraji': Hilyatul 'Alimil Mu'allim wa Bulghatut Thalibil Muta'allim, Salim
Al-Hilaly.

Penulis: Muhammad Yassir. Wisma Al-Kahfy, Gg. Mulwo No. 11, Karang Wuni,
Yogyakarta 55281, sekarang mahasiswa Jami'ah Islamiyyah Madinah.

Tidak ada komentar: