BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan adalah perubahan-perubahan kearah yang lebih maju, lebih dewasa dan lebih matang.
Perkembangan anak didik merupakan suatu yang komplek. Artinya banyak faktor yang mempengaruhinya, baik faktor bawaan maupun lingkungan. Yang kedua-duanya sama-sama mempengaruhi.
Pada bab I ini akan diuraikan beberapa konsep tentang perkembangan.
1. Pengertian Perkembangan
Perkembangan adalah pada perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat, yang berlanjut secara sistematik, progresif dan berkesinambungan baik mengenai fisik (jasmani) maupun psikis (rohani) nya. Namun perlu diingat bahwa tidak setiap perubahan yang dialami organism merupakan perkembangan.
Perubahan-perubahan yang bukan karena perkembangan, misalnya individu yang menggunakan obat-obatan.
Untuk memperjelas tentang perubahan-perubahan sebagai hasil dari perkembangan.
a. Perkembangan terakar pada unsur biologis sehingga terjadi dalam periode yang lama dan bersifat umum, tidak berhubungan dengan peristiwa atau pengalaman khusus tertentu. Namun pengalaman belajar anak turut mempengaruhi proses perkembangan yang bersangkutan.
b. Perkembangan dapat dipandang dari sisi sturuktur maupun fungsi, atau perubahan fisik maupun psikis. Perubahan pada sisi sturuktur berkaitan dengan perubahan fisik baik ukuran maupun bentuknya. Seperti perubahan lengan, kaki, otot, sedangkan perubahan dari sisi fungsi yaitu perubahan yang berhubungan dengan psikis misalnya, perubahan tentang kemampuan berpikir, mengingat, reaksi emosional.
c. Perkembangan itu bersifat terpola, teratur, dapat diprediksi. Ini berarti bila anak berkembang secara normal, ia akan mengikuti pola-pola tertentu yang sudah dapat dpperkirakan misalnya, stelah anak bisa duduk akan merangkak dan berdiri dan seterusnya.
d. Perkembangan itu bersifat unik bagi setiap individu. Berarti perkembangan itu disamping ada kasamaan tetapi ada perbedaanya. Bahkan dalam sisi tertentu tidak ada satu individu sama dengan individu lainnya.
e. Perkembangan itu terjadi secara bertahap dalam jangka waktu yang relatif lama. Maksudnya bahwa perubahan yang sifatnya sesaat, melainkanterjadi dalam suatu proses yang berlangsung secara berkelanjutan dalam waktu yang relatif lama.
f. Perkembangan adalah perubahan yang terjadi sepanjang hayat dari mulai sejak masa konsepsi hingga meniggal dunia. Konsepsi ialah saat berlangsungnya pembuatan atau perkawinan benih manusia yang kemudian berkembang menjadi organisme atau janin sebagai calon manusia yang dikenal sebagai petus (bayi dalam kandungan).
B. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
1. Faktor turunan (warisan)
Turunan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari ibu-bapaknya atau nenek dan kakek. Warisan tersebut yang terpenting antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, bakat, sifat-sifat atau watak dan penyakit.
2. Faktor lingkungan
Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul, bermain dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya.
a. Keluarga.
Keluarga, tempat anak di asuh dan di besarkan, berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, terutama keadaan ekonomi rumah tangga serta tingkat kemampuan orang tua dalam merawat yang sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan anak.
b. Sekolah.
Sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya. Anak yang tidak pernah sekolah akan tertinggal dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak di 100 sekolah mereka dapat belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir serta kepribadian.
c. Masyarakat.
Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak. Mereka juga termasuk teman-teman anak diluar sekolah. Kondisi orang-orang didesa atau kota tempat tinggal ia juga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya. Anak-anak yang besarkan di kota berbeda pola pikirnya dengan anak desa. Anak kota umumnya lebih bersikap dinamis dan aktif bila dibandingkan dengan anak desa yang cenderung bersikap statis dan lamban.
d. Keadaan Alam Sekitar.
Keadaan alam sekitar tempat anak tinggal juga berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Keadaan alam sekitar adalah lokasi tempat anak bertempat tinggal, di desa atau dikota, tepi pantai atau pegunungan, desa terpencil atau dekat dengan kota. Sebagai contoh, anak desa lebih suka terhadap keadaan yang tenang atau agak sepi, sedangkan anak kota menginginkan keadaan yang ramai. Perbedaan kejiwaan tersebut adalah akiba pengaruh keadaan alam yang berbeda antara desa dengan kota.
BAB II
PERKEMBANGAN MASA KANAK-KANAK SAMPAI MASA PRA REMAJA
A. Perkembangan Aspek Fisik
Studi tentang pertumbuhan fisik telah menunjukkan bahwa pertumbuhan anak dapat di bagi menjadi 4 periode utama, dua periode ditandai dengan pertumbuhan yang cepat da dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat. Selama periode pralahir dan 6 bulan setelah lahir, pertumbuhan tubuhnya sagat cepat. Pada akhir tahu pertama kehidupan pascalahirnya, pertumbuhan memperlihatkan tempo yang sedikit lambat dan kemudian menjadi stabil sampai si anak memasuki tahap remaja, atau tahap kemataga kehidupan seksualnya.
Ukuran dan bangun tubuh yag diwariskan secara genetik, juga mempengaruhi laju pertumbuhan tersebut. Anak-anak yang mempunyai bangun tubuh kekar biyasanya akan tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan mereka yang bangun tubuhnya kecil atau sedang. Anak-anak dengan bangun tubuh besar ini, biyasanya akan memasuki tahap remaja lebih cepat dari pada teman sebayanya yang mempunyai bangun tubuh lebih kecil.
Besar kecilya tubuh seseorang dipengaruhi oleh factor keturunan dan juga factor lingkungan. Faktor keturunan menentukan cara kerja hormon yang mengatur pertumbuhan fisik yang dikelurka oleh lobus anterior dari kelenjar pituitary, suatu kelejar kecil yang terletak didasar sebelah bawah otak.
Pada saat seseorang dilahirkan, dia sudah mempunyai serabut otot, tetapi masih belum berkembang. Setelah kelahiraya, serabut ini akan berubah ukuran, betuk dan komposisi. Pajag, lebar, dan ketebalan otot ini akan mengalami proses pertumbuhan. Memasuki usia dewasa, otot ini telah berkembang sebanyak lima kali dari saat dilahirkan.
Dalam perkembangan pembentukan sel lemak ada tiga periode kriis. Periode pertama selama tiga bulan terakhir kehidupan pra lahir, periode kedua selama dua sampai tiga tahun kehidupa pasca lahir dan periode ke tiga atara usia sebelas sampai tiga belas tahun.
B. Perkembangan Aspek Bahasa (berbicara)
Perkembangan bahasa di tingkat pemula (bayi) dapat dianggap semacam persiapan berbicara.
a. Pada bulan-bulan pertama, bayi hanya pandai menangis. Dalam hal ini tangisan bayi dianggap sebagai pernyataan rasa tidak senang.
b. Kemudian ia menangis dengan cara yang berbeda-beda menurut maksud yang hendak dinyatakannya.
c. Selanjutnya ia mengeluarkan bunyi ( suara-suara ) yang banyak ragamnya. tetapi bunyi-bunyi itu belum mempunyai arti , hanya untuk melatih pernapasan saja.
d. Menjelang usia pertengahan di tahu pertama, ia meniru suara-suara yang didengarkannya, kemudian mengulangi suara tersebut, tetapi bukan karna dia sudah mengerti apa yang dikatakan kepadanya.
Ada dua alasan mengapa bayi belum pandai berbicara: pertama, alat-alat bicaranya belum sempurna. Kedua, untuk dapat berbicara, ia memerlukan kemampuan berpikir yang belum dimiliki oleh anak bayi. Kemampuan berbicara dapat dikembangkan melalui belajar dan berkomunikasi dengan orang lain secara timbal balik.
Pada mulanya motif anak mempelajari bahasa adalah agar dapat memenuhi:
1. keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya, diri sendiri, dan kawan-kawannya ini terlihat pada anak usia 2 setengah – 3 tahun.
2. Memberi perintah dan menyatakan kemauannya.
3. Pergaulan social dengan orang lain.
4. Menyatakan pendapat dan ide-idenya.
Perkembangan bahasa seorang anak menurut Clara dan William Stern, ilmuan bangsa Jerman, dibagi dalam empat masa, yaitu: masa kalimat satu kata, masa memberi nama, masa kalimat tunggal dan masa kalimat majemuk.
C. Perkembangan Aspek Moral
Untuk mempermudah dalam membahas perkembangan moral, perlu untuk dimengerti arti istilah tersebut. Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. “Moral”berasal dari kata latinyang berarti tatacara, kebiasaan dan adat. Perilaku moral dikendalikan oleh konsep-konsep moral- peraturan perilakuyang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan popla perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.
Perilaku tak bermoral berarti perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. perilaku demikian tidak disebabkan oleh ketidak acuhan akan harapan sosial, melainkan ketidak setujuan dengan standart sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri.
Perilaku amoral berarti perilaku yang lebih disebabkan ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standart kelompok. Beberapa diantara perilaku anak kecil lebih bersifat amoral dari pad takbermoral.
Pola Perkembangan Moral
Menurut Peaget perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. Tahap kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik)
Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai, dan cendrung menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Yang paling penting menurut Piaget bahwa anak menilai suatu perbuatan benar atu salah berdasarkan hukuman bukan pada nilai moralnya.
Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah.
D. PERKEMBANGAN AGAMA
1). Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:
1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.
2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)
4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.
5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 – 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 – 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 – 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.
E. PERKEMBANGAN SOSIAL
Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilahirkan dengan sifat social dan sebagian tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri sendiri daripada bersama-sama dengan orang lain, atau mereka yang bersifat social pikirannya lebih banyak tertuju pada hal-hal diluar dirinya, secara ‘alamiah’ memang sudah bersifat demikian, atau karena factor keturunan. Juga orang yang menentang masyarakat yaitu orang yang anti social.
1). Mulainya Perilaku Sosial
Pada waktu lahir, bayi tidak suka bergaul dengan orang lain. Selama kebutuhan fisik mereka terpenuhi, mereka tidak mempunyai minat terhadap orang lain. Pada vulan pertama atau kedua sejak bayai dilahirkan, mereka semata-mata bereaksi terhadap rangsangan dilingkungan mereka, terlepas dari apakah asal rangsangan itu manusia atau benda, sebagai contoh, mereka tidak dapat membedakan dengan jelas antara suara manusia dan suara lainnya.
Sosialisasi dalam bentuk perilaku yang suka bergaul dimulai pada bulan ketiga, tatkala bayidapat membedakan antaramanusia dan benda dilingkungan mereka dan mereka bereaksi secara berbeda terhadap keduanya. Pada saat itu otot mereka cukup kuat dan terkoordinasi sehingga memunginkan untuk menatap orang atau benda dan mengikuti gerak orang ataubenda tersebut, dan melihat sasaran itu dengan jelas. Pendengaran mereka juga cukup berkembang sehingga memungkinkan mereka mengenal suara. Akibat dari perkembangan ini, ditinjau dari sudut kematangan, mereka telah siap untuk belajar bermasyarakat.
2). Reaksi Terhadap Orang Deewasa
Reaksi social pertama bayi adalah terhadap orang dewasa karena, secara normal, orang dewasa merupakan hubungan social pertama bayi. Pada masa bayi menginjak usia tiga bulan, mereka memalingkan muka kearah suara maa dan tersenyum membalas senyuman atau berketuk. Bayi mengeksperesikan kegembiraan terhadap kehadiran orang lain dengan tersenyum, menyepakkan kaki, atau melambaikan tangan. Senyuman social, atau senyuman sebagai reaksi terhadap orang yang dibedakan dari senyuman reflek yang timbul olehrabaan pada pipi atau bibir bayi, dipandang sebagai awal perkembangan social.
F. PERKEMBANGAN EMOSI
Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir. Gejala pertama perilaku emosional adalah keterangsangan umum terhadap stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan ini tercermin dalam aktivitas yang banyak pada bayi yang baru lahir. Meskipun demikian, pada saat bayi lahir, bayi tidak memperlihatkan reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional yang spesifik.
Seringkali sebelum lewatnya periode neonate, keterangsangan umum pada bayi yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan. Reaksi yang tidak menyenangkan dapat diperoleh dengan cara mengubah posisi secara tiba-tiba, sekonyong-konyong membuat suara keras, merintangi gerakan bayi, membiarkan bayi mengenakan popok yang basah, dan menempelkan sesuatu yang dingin pada kulitnya. Rangsangan semacam itu menyebabkan timbulnya tangisan dan aktivitas besar. Sebaliknya, reaksi yang menyenangkan tampak jelas tatkala bayi menetek. Reaksi semacam itu juga dapat diperoleh dengan cara mengayun-ayunkannya, menepuk-nepuknya, memberikan kehangatan, dan membopongnya dengan mesra. Rasa senang pada bayi dapat terlihat dari relaksasi yang menyeluruh pada tubuhnya, dan dari suara yang menyenangkan berupa mendekut dan mendeguk.
Terdapat variasi dari segi frekuensi, intesitas serta jangka waktu dari berbagai macam emosi, dan juga usia pemunculannya. Variasi ini sudah mulai terlihat sebelum masa bayi berakhir dan semakin sering terjadi dan lebih menyolok dengan meningkatnya usia kanak-kanak.
Ciri Khas Penampilan Emosi Anak
• Emosi yang kuat
• Emosi sering kali tampak
• Emosi bersifat sementara
• Reaksi mencerminkan individualitas
• Emosi berubah kekuatannya
• Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku
G. PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perbedaan-perbedaan individual dalam perkembangan kognitif bayi telah dipelajari melalui penggunaan skala perkembangan atau tes intelegensi bayi. Adalah penting untuk mengetahui apakah seorang bayi berkembang pada tingkat yang lambat , normal, atau cepat. Kalau seorang bayi berkembang pada tingkat yang lambat, beberapa bentuk pengayaan cukup penting. Akan tetapi bila seorang bayi berkembang pada suatu tahapan yang lebih maju, orang tua dapat dinasehati untuk memberi mainan yang lebih “sulit” guna merangsang pertumbuhan kognitif mereka. Dan skala mental pda perkembangan kognitif bayi meliputi pengukuran sebagai berikut : Perhatian pendengaran dan penglihatan terhadap rangsangan yang diberikan. Manipulasi, seperti mengkombinasikan benda-benda atau menggoyang-goyangkan Suatu mainan yang dapat menghasilkan bunyi.
BAB III
KESIMPULAN
Perkembangan adalah perubahan-perubahan kearah yang lebih maju, lebih dewasa dan lebih matang. Perkembangan itu bersifat unik bagi setiap individu. Berarti perkembangan itu disamping ada kasamaan tetapi ada perbedaanya. Bahkan dalam sisi tertentu tidak ada satu individu sama dengan individu lainnya.
Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak. Mereka juga termasuk teman-teman anak diluar sekolah. Kondisi orang-orang didesa atau kota tempat tinggal ia juga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya. Anak-anak yang besarkan di kota berbeda pola pikirnya dengan anak desa.
Studi tentang pertumbuhan fisik telah menunjukkan bahwa pertumbuhan anak dapat di bagi menjadi 4 periode utama, dua periode ditandai dengan pertumbuhan yang cepat da dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat.
Ada dua alasan mengapa bayi belum pandai berbicara: pertama, alat-alat bicaranya belum sempurna. Kedua, untuk dapat berbicara, ia memerlukan kemampuan berpikir yang belum dimiliki oleh anak bayi. Kemampuan berbicara dapat dikembangkan melalui belajar dan berkomunikasi dengan orang lain secara timbal balik.
Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. “Moral”berasal dari kata latinyang berarti tatacara, kebiasaan dan adat. Perilaku moral dikendalikan oleh konsep-konsep moral- peraturan perilakuyang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan popla perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.
Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilahirkan dengan sifat social dan sebagian tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri sendiri daripada bersama-sama dengan orang lain, atau mereka yang bersifat social pikirannya lebih banyak tertuju pada hal-hal diluar dirinya, secara ‘alamiah’ memang sudah bersifat demikian, atau karena factor keturunan. Juga orang yang menentang masyarakat yaitu orang yang anti social.
Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir. Gejala pertama perilaku emosional adalah keterangsangan umum terhadap stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan ini tercermin dalam aktivitas yang banyak pada bayi yang baru lahir. Meskipun demikian, pada saat bayi lahir, bayi tidak memperlihatkan reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional yang spesifik.
Perbedaan-perbedaan individual dalam perkembangan kognitif bayi telah dipelajari melalui penggunaan skala perkembangan atau tes intelegensi bayi. Adalah penting untuk mengetahui apakah seorang bayi berkembang pada tingkat yang lambat , normal, atau cepat. Kalau seorang bayi berkembang pada tingkat yang lambat, beberapa bentuk pengayaan cukup penting. Akan tetapi bila seorang bayi berkembang pada suatu tahapan yang lebih maju, orang tua dapat dinasehati untuk memberi mainan yang lebih “sulit” guna merangsang pertumbuhan kognitif mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. PT. Rineka Cipta : Jakarta.
MuhibbinSyah, M.Ed. 2008. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung.
Djiwandono, Sri Esti. 2006. Psikologi Pendidikan. PT Grasindo : Jakarta.
Sarwono. S. W. 1999. Psikologi Remaja. PT. Raja Gizfinto Persada : Jakarta.
Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan
05 November 2009
03 April 2009
PSIKOLOGI REMAJA 2
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatiK, psikologik, dan social.
Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.
Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
BAB II
PSIKOLOGI AGAMA PADA REMAJA
A. Agama dan Psikologi Agama
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban. Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)
Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird) Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley) Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang keTuhanan disertai keimanan dan peribadatan.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup 2 bidang kajian yang sama sekali berlainan , sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan , tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan , pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan.
B. Psikologi Agama Pada Remaja
Konsep ”remaja” tidak dikenal dalam sebagian undang-undang yang berlaku.
Contoh data : Hukum Perdata
Usia ≥ 21 tahun (atau kurang tapi sdh menikah) dewasa
Usia < 21 tahun (dan belum menikah) masih butuh wali untuk melakukan tindakan hukum perdata (mis. Mendirikan perusahaan atau membuat perjanjian di hadapan pejabat hukum)
Hukum Pidana
Usia ≥ 18 tahun (atau kurang tapi sdh menikah) dewasa
Usia < 18 tahun (blm menikah) anak-anak (msh mjd tgjwb orang tua), contoh: jika melakukan pencurian tdk disebut tindakan kejahatan (kriminal) tapi disebut ”kenakalan”, jika tindakan tersebut patut dijatuhi hukuman negara dan orang tuanya ternyata tidak mempu mendidik anak itu lebih lanjut maka menjadi tanggungjawab negara dan dimasukkan ke dalam lembaga pemasyarakatan khusus anak-anak (di bawah Departemen Kehakiman)
Remaja adalah cikal bakal calon pemimpin Negara, membentuk psikologi yang benar pada remaja telah di atur di dalam Islam sebagai agama yang satu-satunya Haq. Dalam Al-Qur’an dijelaskan tahapan yang dilalui manusia. Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman, :
•
19. Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),
Yang dimaksud dengan tingkat demi tingkat ialah dari setetes air mani sampai dilahirkan, kemudian melalui masa kanak-kanak, remaja dan sampai dewasa. dari hidup menjadi mati kemudian dibangkitkan kembali.
Psikologi agama pada remaja adalah tanggung jawab bersama antara, remaja itu sendiri, orang tua, lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Apabila baik keluarga, masyarakat dan lingkungannya, Insya Allah baiklah si remaja tadi secara psikologinya. Dan seperti ayat diatas tadi maka hendaknya pembentukan psikologi mestinya sudah dibina dari masa balita.
BAB III KESIMPULAN
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban
Remaja adalah cikal bakal calon pemimpin Negara, membentuk psikologi yang benar pada remaja telah di atur di dalam Islam sebagai agama yang satu-satunya Haq.
Iman yang bersikap dinamis , kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan.
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama sebuah Pengantar, Mizan 2004
Dr. Nico Syukur Dister, Psikologi Agama, penerbit Kanisius,
Endang Saifuddun Anshari M. A. Ilmu , Filsafat dan Agama, Penerbit Bina Ilmu 1979
Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
PENDAHULUAN
Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatiK, psikologik, dan social.
Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.
Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
BAB II
PSIKOLOGI AGAMA PADA REMAJA
A. Agama dan Psikologi Agama
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban. Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)
Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird) Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley) Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang keTuhanan disertai keimanan dan peribadatan.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup 2 bidang kajian yang sama sekali berlainan , sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan , tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan , pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan.
B. Psikologi Agama Pada Remaja
Konsep ”remaja” tidak dikenal dalam sebagian undang-undang yang berlaku.
Contoh data : Hukum Perdata
Usia ≥ 21 tahun (atau kurang tapi sdh menikah) dewasa
Usia < 21 tahun (dan belum menikah) masih butuh wali untuk melakukan tindakan hukum perdata (mis. Mendirikan perusahaan atau membuat perjanjian di hadapan pejabat hukum)
Hukum Pidana
Usia ≥ 18 tahun (atau kurang tapi sdh menikah) dewasa
Usia < 18 tahun (blm menikah) anak-anak (msh mjd tgjwb orang tua), contoh: jika melakukan pencurian tdk disebut tindakan kejahatan (kriminal) tapi disebut ”kenakalan”, jika tindakan tersebut patut dijatuhi hukuman negara dan orang tuanya ternyata tidak mempu mendidik anak itu lebih lanjut maka menjadi tanggungjawab negara dan dimasukkan ke dalam lembaga pemasyarakatan khusus anak-anak (di bawah Departemen Kehakiman)
Remaja adalah cikal bakal calon pemimpin Negara, membentuk psikologi yang benar pada remaja telah di atur di dalam Islam sebagai agama yang satu-satunya Haq. Dalam Al-Qur’an dijelaskan tahapan yang dilalui manusia. Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman, :
•
19. Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),
Yang dimaksud dengan tingkat demi tingkat ialah dari setetes air mani sampai dilahirkan, kemudian melalui masa kanak-kanak, remaja dan sampai dewasa. dari hidup menjadi mati kemudian dibangkitkan kembali.
Psikologi agama pada remaja adalah tanggung jawab bersama antara, remaja itu sendiri, orang tua, lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Apabila baik keluarga, masyarakat dan lingkungannya, Insya Allah baiklah si remaja tadi secara psikologinya. Dan seperti ayat diatas tadi maka hendaknya pembentukan psikologi mestinya sudah dibina dari masa balita.
BAB III KESIMPULAN
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban
Remaja adalah cikal bakal calon pemimpin Negara, membentuk psikologi yang benar pada remaja telah di atur di dalam Islam sebagai agama yang satu-satunya Haq.
Iman yang bersikap dinamis , kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan.
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama sebuah Pengantar, Mizan 2004
Dr. Nico Syukur Dister, Psikologi Agama, penerbit Kanisius,
Endang Saifuddun Anshari M. A. Ilmu , Filsafat dan Agama, Penerbit Bina Ilmu 1979
Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
PSIKOLOGI ANAK 3
BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi adalah ilmu jiwa. Pentingnya kita mempelajari dan memahami kejiwaan pada anak, karena pada masa kanak-kanak adalah masa awal diberi pemahaman tentang agama. Jadi, untuk mempermudah dalam memberi pemahaman agama pada anak maka sebaiknya orang tua, pendidik memahami dan mengerti kondisi anak terlebih dahulu, setelah itu baru membari pemahaman dengan cara-cara yang menarik dan dapat memberi pendekatan dan metode yang dipakai, sehingga anak terangsang untuk mendengarkan dan membiasakan diri sesuai dengan pemahaman dari orang tuanya.
BAB II
PSIKOLOGI DAN AQIDAH ANAK USIA 3-6 TAHUN
A. Pengertian Psikologi
Istilah psikologi berasal dari kata-kata YUNANI psyche = jiwa, dan logos = ilmu. Jadi secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.
Perkembangan ilmu pengetahuan, terutama Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan banyak tergantung dari perubahan-perubahan dalam masyarakat.
Mempelajari psikologi berarti ada usaha untuk mengenal manusia. Mengenal berarti dapat memahami, yaitu kita dapat menguraikan dan menggambarkan tingkah laku dan kepribadian manusia beserta aspek-aspeknya.
Dewasa ini psikologi berpegang pada kenyataan hakiki, bahwa manusia adalah mahluk yang terus-menerus merelasasikan diri dalam suatu alam (lingkungan), yang tidak henti-hentinya melakukan kontak dengan alam sekitarnya, dan yang tidak berisolasi. Manusia bukan sekedar hidup melainkan adalah suatu “esistensi”.
B. Psikologi Anak Dalam Islam
Secara psikologis pada dasarnya sikap anak telah mempunyai fitrah (bawaan) keimanan atau keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Fitrah tersebut tidak akan bisa berkembang sesuai dengan pedoman dan petunjuk yang ada dalam AL-Quran dan Sunnah Rasul. Tanpa peran dari kedua orang tua / pendidik yang memberikan pedoman dan petunjuk kepada anak. John Locke berpendapat, yang terkenal dengan teori tabularasa “bahwa anak itu bagaikan sehelai kertas putih”. Artinya perkembangan anak dalam pendidikan tergantung bagaimana orang tua / lingkungan / pendidikan yang diberikan kepadanya.
8Materi pendidikan aqiqah terlebih dahulu untuk mencari kesesuaian antara tingkat perkembangan agama anak / perkembangan intelektualnya dengan materi pendidikan. Anak belum bisa menganalisa dan mengambil kesimpulan dalam pikiran mereka.
C. Pendekatan Psikologi Pada Anak
Langkah untuk mencapai tujuan pendekatan psikologi yang meliputi :
1. Pendekatan emosional : usaha untuk menggugah perasaan dan emosi anak dalam meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.
2. Pendekatan pengalaman : memberikan pengalaman mengenai keadilan, kekuasaan, dan kebijaksanaan sifat Allah yang lain. Kejujuran dan kepahlawanan para Nabi dan Rasul serta kebaikan para malaikat.
3. Pendekatan Estetis (keindahan) : usaha dalam menanamkan aqidah dalam hati anak dengan pendekatan keindahan, seperti dengan nyanyian, rekreasi dan berimajinasi.
BAB III
KESIMPULAN
Demikian pentingnya psikologi memahami kondisi anak dan penerapan pendidikan aqidah dengan cara metode, pendekatan yang dapat dijadikan sarana dalam usaha menanamkan aqidah kepada anak, apabila pendidik atau orang tua bisa sabar dan teliti dalam memahami kondisi psikologis anak, karakter dan pola berfikirnya, maka insya Allah tujuan pendidikan akan diraih. Yakni anak tumbuh dan berkembang dengan keyakinan agama, bukan sekedara bersifat ikutan atau warisan dari orang tua, akan tetapi iman yang benar- benar yakin.
DAFTAR PUSTAKA
- Sutrsna Sumadi, S.Ag, Rafi‘udin, S.Ag. Pendekatan Psikologi Bagi Anak, 2007.
- Drs. Noehi Nasution, M.A, dkk. Psikologi Pendidikan, 1998.
PENDAHULUAN
Psikologi adalah ilmu jiwa. Pentingnya kita mempelajari dan memahami kejiwaan pada anak, karena pada masa kanak-kanak adalah masa awal diberi pemahaman tentang agama. Jadi, untuk mempermudah dalam memberi pemahaman agama pada anak maka sebaiknya orang tua, pendidik memahami dan mengerti kondisi anak terlebih dahulu, setelah itu baru membari pemahaman dengan cara-cara yang menarik dan dapat memberi pendekatan dan metode yang dipakai, sehingga anak terangsang untuk mendengarkan dan membiasakan diri sesuai dengan pemahaman dari orang tuanya.
BAB II
PSIKOLOGI DAN AQIDAH ANAK USIA 3-6 TAHUN
A. Pengertian Psikologi
Istilah psikologi berasal dari kata-kata YUNANI psyche = jiwa, dan logos = ilmu. Jadi secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.
Perkembangan ilmu pengetahuan, terutama Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan banyak tergantung dari perubahan-perubahan dalam masyarakat.
Mempelajari psikologi berarti ada usaha untuk mengenal manusia. Mengenal berarti dapat memahami, yaitu kita dapat menguraikan dan menggambarkan tingkah laku dan kepribadian manusia beserta aspek-aspeknya.
Dewasa ini psikologi berpegang pada kenyataan hakiki, bahwa manusia adalah mahluk yang terus-menerus merelasasikan diri dalam suatu alam (lingkungan), yang tidak henti-hentinya melakukan kontak dengan alam sekitarnya, dan yang tidak berisolasi. Manusia bukan sekedar hidup melainkan adalah suatu “esistensi”.
B. Psikologi Anak Dalam Islam
Secara psikologis pada dasarnya sikap anak telah mempunyai fitrah (bawaan) keimanan atau keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Fitrah tersebut tidak akan bisa berkembang sesuai dengan pedoman dan petunjuk yang ada dalam AL-Quran dan Sunnah Rasul. Tanpa peran dari kedua orang tua / pendidik yang memberikan pedoman dan petunjuk kepada anak. John Locke berpendapat, yang terkenal dengan teori tabularasa “bahwa anak itu bagaikan sehelai kertas putih”. Artinya perkembangan anak dalam pendidikan tergantung bagaimana orang tua / lingkungan / pendidikan yang diberikan kepadanya.
8Materi pendidikan aqiqah terlebih dahulu untuk mencari kesesuaian antara tingkat perkembangan agama anak / perkembangan intelektualnya dengan materi pendidikan. Anak belum bisa menganalisa dan mengambil kesimpulan dalam pikiran mereka.
C. Pendekatan Psikologi Pada Anak
Langkah untuk mencapai tujuan pendekatan psikologi yang meliputi :
1. Pendekatan emosional : usaha untuk menggugah perasaan dan emosi anak dalam meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.
2. Pendekatan pengalaman : memberikan pengalaman mengenai keadilan, kekuasaan, dan kebijaksanaan sifat Allah yang lain. Kejujuran dan kepahlawanan para Nabi dan Rasul serta kebaikan para malaikat.
3. Pendekatan Estetis (keindahan) : usaha dalam menanamkan aqidah dalam hati anak dengan pendekatan keindahan, seperti dengan nyanyian, rekreasi dan berimajinasi.
BAB III
KESIMPULAN
Demikian pentingnya psikologi memahami kondisi anak dan penerapan pendidikan aqidah dengan cara metode, pendekatan yang dapat dijadikan sarana dalam usaha menanamkan aqidah kepada anak, apabila pendidik atau orang tua bisa sabar dan teliti dalam memahami kondisi psikologis anak, karakter dan pola berfikirnya, maka insya Allah tujuan pendidikan akan diraih. Yakni anak tumbuh dan berkembang dengan keyakinan agama, bukan sekedara bersifat ikutan atau warisan dari orang tua, akan tetapi iman yang benar- benar yakin.
DAFTAR PUSTAKA
- Sutrsna Sumadi, S.Ag, Rafi‘udin, S.Ag. Pendekatan Psikologi Bagi Anak, 2007.
- Drs. Noehi Nasution, M.A, dkk. Psikologi Pendidikan, 1998.
PSIKOLOGI ANAK 2
BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan seseorang Yang mana dalam hal ini membicarakan tentang gejal-gejala yang tampak pada diri anak-anak. Psikologi ini terbagi ke dalam psikologi anak, psikologi remaja, psikologi keluarga dan lain-lain.
Di sini kita akan mengetahui perkembangan anak, perilaku anak dan kegiatan yang dilakukan anak-anak hingga ia beranjak dewasa. Dua minggu pertama masa bayi yang baru lahir harus mengatasi penyesuaiannya terhadap kondisi yang baru di luar rahim. Ia harus mengatasi trauma kelahiran. Ia lahir dalam suatu ketergantungan penuh kepada orang lain agar bisa mempertahankan hidupnya. Bayi mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang menghasilkan perubahan bertahap dalam ukuran, bentuk tubuh, perasaan dan perilakunya.
Untuk lebih jelasnya kita bicara tentang perkembangan anak, saya akan mencoba menjelaskan kembali pada bab yang selanjutnya.
BAB II
PSIKOLOGI ANAK
A. Psikologi Perkembangan Anak
Perilaku dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu:
1. Perilaku tertutup / terselubung (covert behavior). Aspek-aspek mental antara lain persepsi, ingatan, perhatian (perseption, attention, memory).
2. Perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku yang langsung dapat dilihat ; jalan, lari, tertawa, menulis dan lain-lain.
Perilaku adalah setiap cara reaksi atau respons manusia, makhluk hidup terhadap lingkungannya. Perilaku adalah aksi, reaksi, terhadap perangsangan dari lingkungan.
Perilaku seseorang juga mengalami perubahan, bahkan perubahan yang kira-kira sama akan terlihat pada umur dalam batas-batas tertentu. Akhirnya terlihat bahwa manusia mengalami suatu perkembangan jiwa.
B. Masa Bayi (infancy).
Dua minggu pertama masa bayi yang baru lahir harus mengatasi penyesuaian nya terhadap kondisi yang baru diluar rahim.
Masa Balita, masa pra sekolah (2 – 5 tahun).
Pada masa ini anak kelihatan berperilaku agresif, memberontak, menentang keinginan orang lain, khususnya orang tua. Ia sudah mulai mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri.
C. Masa Anak Sekolah (6 – 12 tahun).
Anak-anak pada masa ini harus menjalani tugas-tugas perkembangan yakni:
Belajar keterampilan fisik untuk permainan biasa.
Membentuk sikap sehat mengenai dirinya sendiri.
Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya.
Belajar peranan jenis yang sesuai dengan jenisnya.
Membentuk keterampilan dasar : membaca, menulis dan berhitung.
Membentuk konsep-konsep yang perlu untuk hidup sehari-hari.
Membentuk hati nurani, nilai moral dan nilai sosial.
Memperoleh kebebasan pribadi.
Membentuk sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
D. Perkembangan kepribadian.
a. Pembentukan hati nurani sebagai inti pribadi, petunjuk bagi tingkah laku dan sensor terhadap keinginan dan dorongan yang tidak wajar disalurkan.
b. Sifat egosentris mulai dikikis dan sifat lebih mengingat orang lain mulai dipupuk.
c. dorongan ingin tahu tersalur melalui pertanyaan yang perlu jawaban.
d. penanaman disiplin dan tanggung jawab secara bertahap.
BAB III
P E N U T U P
A. Kesimpulan
Psikologi anak adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku yang timbul di dalam diri seorang anak.
Manusia mengalami suatu perkembangan.
Masa Bayi.
b. Masa Balita.
c. Masa Anak Sekolah.
d. Masa Anak Tanggung / Menginjak Dewasa.
Perkembangan moral meliputi 6 tahap yang terbagi atas 3 tingkat.
Tingkat pra konvensional.
Tingkat konvensional.
Tingkat post. konvensional.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Kartini Kartono, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan), Penerbit : CV. Mandar Maju, Bandung, 1990.
Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Dra, Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Kelurga, Penerbit: PT. Bpk Gunung Mulia, Jakarta, 1995.
Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Penerbit, PT. Bpk Gunung Mulia, Jakarta, 1997
PENDAHULUAN
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan seseorang Yang mana dalam hal ini membicarakan tentang gejal-gejala yang tampak pada diri anak-anak. Psikologi ini terbagi ke dalam psikologi anak, psikologi remaja, psikologi keluarga dan lain-lain.
Di sini kita akan mengetahui perkembangan anak, perilaku anak dan kegiatan yang dilakukan anak-anak hingga ia beranjak dewasa. Dua minggu pertama masa bayi yang baru lahir harus mengatasi penyesuaiannya terhadap kondisi yang baru di luar rahim. Ia harus mengatasi trauma kelahiran. Ia lahir dalam suatu ketergantungan penuh kepada orang lain agar bisa mempertahankan hidupnya. Bayi mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang menghasilkan perubahan bertahap dalam ukuran, bentuk tubuh, perasaan dan perilakunya.
Untuk lebih jelasnya kita bicara tentang perkembangan anak, saya akan mencoba menjelaskan kembali pada bab yang selanjutnya.
BAB II
PSIKOLOGI ANAK
A. Psikologi Perkembangan Anak
Perilaku dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu:
1. Perilaku tertutup / terselubung (covert behavior). Aspek-aspek mental antara lain persepsi, ingatan, perhatian (perseption, attention, memory).
2. Perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku yang langsung dapat dilihat ; jalan, lari, tertawa, menulis dan lain-lain.
Perilaku adalah setiap cara reaksi atau respons manusia, makhluk hidup terhadap lingkungannya. Perilaku adalah aksi, reaksi, terhadap perangsangan dari lingkungan.
Perilaku seseorang juga mengalami perubahan, bahkan perubahan yang kira-kira sama akan terlihat pada umur dalam batas-batas tertentu. Akhirnya terlihat bahwa manusia mengalami suatu perkembangan jiwa.
B. Masa Bayi (infancy).
Dua minggu pertama masa bayi yang baru lahir harus mengatasi penyesuaian nya terhadap kondisi yang baru diluar rahim.
Masa Balita, masa pra sekolah (2 – 5 tahun).
Pada masa ini anak kelihatan berperilaku agresif, memberontak, menentang keinginan orang lain, khususnya orang tua. Ia sudah mulai mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri.
C. Masa Anak Sekolah (6 – 12 tahun).
Anak-anak pada masa ini harus menjalani tugas-tugas perkembangan yakni:
Belajar keterampilan fisik untuk permainan biasa.
Membentuk sikap sehat mengenai dirinya sendiri.
Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya.
Belajar peranan jenis yang sesuai dengan jenisnya.
Membentuk keterampilan dasar : membaca, menulis dan berhitung.
Membentuk konsep-konsep yang perlu untuk hidup sehari-hari.
Membentuk hati nurani, nilai moral dan nilai sosial.
Memperoleh kebebasan pribadi.
Membentuk sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
D. Perkembangan kepribadian.
a. Pembentukan hati nurani sebagai inti pribadi, petunjuk bagi tingkah laku dan sensor terhadap keinginan dan dorongan yang tidak wajar disalurkan.
b. Sifat egosentris mulai dikikis dan sifat lebih mengingat orang lain mulai dipupuk.
c. dorongan ingin tahu tersalur melalui pertanyaan yang perlu jawaban.
d. penanaman disiplin dan tanggung jawab secara bertahap.
BAB III
P E N U T U P
A. Kesimpulan
Psikologi anak adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku yang timbul di dalam diri seorang anak.
Manusia mengalami suatu perkembangan.
Masa Bayi.
b. Masa Balita.
c. Masa Anak Sekolah.
d. Masa Anak Tanggung / Menginjak Dewasa.
Perkembangan moral meliputi 6 tahap yang terbagi atas 3 tingkat.
Tingkat pra konvensional.
Tingkat konvensional.
Tingkat post. konvensional.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Kartini Kartono, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan), Penerbit : CV. Mandar Maju, Bandung, 1990.
Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Dra, Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Kelurga, Penerbit: PT. Bpk Gunung Mulia, Jakarta, 1995.
Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Penerbit, PT. Bpk Gunung Mulia, Jakarta, 1997
PSIKOLOGI REMAJA
BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi atau ilmu jiwa yang diajarkan dari tingkat dasar sampai strata terakhir dan direalisasikan ke dalam kehidupan manusia adalah bersumber dari Barat, kecuali sedikit yang mengambil referensi psikologi Islam. Hal ini didasari pilsapat materialisme mereka yang membuang sisi moral dalam kehidupan, maka mereka tidak memiliki metoda untuk melakukan studi jiwa (ruh), sehingga jauh dari gizi spritual sebagai solusi prilaku psikologi itu sendiri.
Dalam Islam ada yang namanya pendidikan spritual, Kaitannya dengan ini ada beberapa hal yang harus difahami untuk membangun psikolgi agama Islam.
Memahami 4 istilah penting, di Barat tidak mampu membedakan 4 hal ini, dari sini bisa ditangkap kesan kegagalan Barat dalam memberikan solusi psikologis.
1. Ruh, adalah sebutan umum untuk bagian dalam tubuh, lawannya jasad, esensinya hanya Allah yang mengetahui, secara khusus.
2. Nafs, adalah sifat dominasi dari kecendrungan-kecendrungan tubuh (jasad)
3. Aqal, sifat lain dari ruh yang berfunsi sebagai prangkat berpikir,
4. Hati, sebuah pusat atau bagian terpenting dalam ruh untuk memberikan membangun dominasi baik di anngota tubuh dan sebagai singgasana iman serta perangkat komunikasi efektif kepada Pensipta.
BAB II
PSIKOLOGI AGAMA PADA REMAJA
Dalam beberapa ayat Alquran terkadang terjadi silang istilah, untuk memahami psikolgi Islam kita memerlukan peranan ilmu agama. Ketahuilah bahwa Barat dalam membangun ilmu psikologi hanya berdasarkan nafs (itupun hanya sebatas kecendrungan jasad).
Tujuan psikologi dalam Islam adalah:
1. Menyingkap ayat Allah swt dan hukum-Nya dalam diri manusia.
2. Mengenal pedoman hidup yang ideal yang sesuai dengan hukum ilahy (alam) untuk kebahagiaan hidup dunia dan akherat
3. Mengenal motif-motif penyimpangan dari kehidupan ideal dan lurus, yang berdampak kepada penderitaan, kegelisahan dan penyakit jiwa lainnya.
Adapun psikologi Barat dengan alasan ilmiah, rasional dan objektif hanya bertujuan untuk melakukan interpretasi prilaku manusia melalui upaya mendapatkan undang-undang ilmiah dalam memahami dan menerka sebuah prilaku, sebagai prolog dan standar dalam bidang praktik.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia. Dalam Islam ada tiga factor penting yang kerap saling mendominasi dalam perkembangan manusia:
1. Keturunan (Lihat: Ali-Imran 23-24)
2. Lingkungan.
3. Metafisik (gaib).
A. Psikologi Remaja Muslim
Masa remaja pertama (early adolescence) – 13 s/d 17 pr dan 14 s/d 17 lk -
Fase ini adalah fase di mana anak diperlakukan sebagai teman, pada umumnya mereka tidak mau dibilang anak kecil walaupun belum matang, mereka pada saat ini duduk di sekolah menengah pertama dan atas.
Masa remaja kedua = pemuda (Late adolescence) 17 s/ 21.
Jika anak mulai meninggalkan 7 tahun kedua dan siap memasuki 7 tahun ketiga dan seterusnya, Islam memberikan rambu batasan dengan istilah balig atau taklif, di mana anak telah dinilai siap untuk menerima semua sapaan hukum dari Allah swt, sekaligus mempertanggungjawabkannya dihadapan-Nya kelak di hari akhir. Maka pada usia ini anak tidak lagi mau dibilang anak kecil walaupun belum matang. Maka pada saat ini tibalah peranan bapak secara utuh, di mana bapak berperan sebagai murabbi dalam memberikan qudwah serta bimbingan moral dan spritualnya. Berhasil dan gagalnya pada usia ini sangat bergantung kepada peranan bapak sebagai murabinya.
Lihat QS. Annisa, 6. dan Hadis Rasulullah saw: “Telah diangkat qalam (pencatat baik buruk) dari 3 hal: orang tidur sehingga terbangung, anak kecil sehingga ia dewasa, dan orang gila sehingga ia berakal. HR Ahmad & Abu Daud.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua khusunya bapak, kaitannya dengan pendidikan intelektual, social, spritual dan emosional seksualnya. Perkara ini sama sekali tidak mendapat perhatian dari psikologi Barat. Yaitu:
1. Tadabur ayat-ayat Alquran dan Hadis
2. Menghayati makna ukhuwah Islamiyah
3. Menghayati perjuangan ulama Islam salaf dan halaf serta Membaca perkembangan
Islam kontemporer
4. Mempermudah jalan perkawinan
5. Penghayatan kehidupan moralis, seperti; hukum bergaul bebas dengan lawan jenis, urgensi Gadl el-Bashar dari rangsanagan seksual (pemisahan tempat tidur & etika izin memasuki kamar orangtua di usia 7 tahun kedua sangat membantu pendidikan saat ini).
6. Penghayatan secara inten akan pentingnya upaya Mujahadah (seperti, puasa, etika makan, tidur dan bergaul), rutinitas ibadah, dan hidup iffah serta qana’ah (kehidupan sederhana anak dan penuh dengan qanaah pada 7 tahun kedua sangat membantu penghayatan hidup saat ini) agar terhindar dari perbuatan maksiat dan memperkokoh keimanan.
7. Mengenalkan segala dampak dan penyakit moral, social dan lainnya dalam kehidupan bebas.
B. Remaja dan Pembentukan Psikologinya
Remaja biasanya berada dalam masa transisi. Masyarakat transisi dalam istilah J. Useem dan R.H. Useem dinamakan ”modernizing society”. Masyarakat ini adalah masyarakat yang sedang mencoba untuk membebaskan diri dari nilai-nilai masa lalu dan menggapai masa depan dengan terus menerus membuat niali-nilai baru atau hal-hal baru.
Menurut Emile Durkheim, keadaan masyarakat transisi akan membawa individu anggota masyarakat kepada keadaan ’anomie’. Anomie menurut Durkheim adalah ”normlessness” yaitu suatu sistem sosial dimana tidak ada petunjuk atau pedoman buat tingkah laku. Jadi adalah keadaan ekternal seperti dalam keadaan hukum rimba yang terdapat dalam masyarakat yang tiba-tiba dilanda perang. Kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan yang biasa berlaku tiba-tiba tidak berlaku lagi. Akibatnya adalah ”individulaisme” dimana individu-individu bertindak hanya menurut kepentingannya masing-masing (Durkheim, 1951)
Kondisi anomie ini tentu saja berlaku terhadap anggota masyarakat terutama terhadapa para remaja. Merton selanjutnya menyatakan bahwa anomie juga menunjuk pada manusia yang ”ambivalent” (tidak jelas nilai yang dianutnya) dan ”ambigous” (tidak jelas bentuk kelakuannya) dalam masyarakat yang juga tidak konsisten (Merton,1957). Akibatnya memang ada manusia-manusia yang bertingkah laku konform, yaitu menerima nilai (oleh Merton diartikan sebagai tujuan umum dari suatu kebudayaan) dan norma (artinya aturan-aturan khusus dari lembaga masayarakat tertentu). Remaja-remaja yang menerima apa saja yang dikatakan orang tua mereka untuk mencapai gelar sarjana adalah contoh dari jenis konform ini.
Tingkah laku menentang yang biasanya ada dalam proses pembentukan psikologi remaja digolongkan ke dalam 4 jenis :
1. ”innovation”
Yaitu tingkah laku yang menyetujui nilai tetapi menentang norma. Akibatnya bisa negatif dan positif.
1. ”Ritualism”
Yaitu tingkah laku yang menolak nilai-nilai tetapi menerima norma.
1. ”Retreatism”
Yaitu pengingkaran terhadap nilai maupun norma. Bentuk reaksinya adalah pelarian-pelarian dari nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.
1. ”Rebellion”
Yaitu pemberontakan, menolak nilai-nilai dan norma-norma yang ada tapi mengadopsi nilai-nilai dan norma-norma yang lain yang berasal dari luar masyarakatnya.
BAB III
RINGKASAN
8Psikologi atau ilmu jiwa yang diajarkan dari tingkat dasar sampai strata terakhir dan direalisasikan ke dalam kehidupan manusia adalah bersumber dari Barat.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia. Dalam Islam ada tiga factor penting yang kerap saling mendominasi dalam perkembangan manusia:
1. Keturunan (Lihat: Ali-Imran 23-24)
2. Lingkungan.
3. Metafisik (gaib).
Masa remaja pertama (early adolescence) – 13 s/d 17 pr dan 14 s/d 17 lk -
Fase ini adalah fase di mana anak diperlakukan sebagai teman, pada umumnya mereka tidak mau dibilang anak kecil walaupun belum matang, mereka pada saat ini duduk di sekolah menengah pertama dan atas.
Remaja biasanya berada dalam masa transisi. Masyarakat transisi dalam istilah J. Useem dan R.H. Useem dinamakan ”modernizing society”. Masyarakat ini adalah masyarakat yang sedang mencoba untuk membebaskan diri dari nilai-nilai masa lalu dan menggapai masa depan dengan terus menerus membuat niali-nilai baru atau hal-hal baru.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hasan, Yusuf M. 2007. Pendidikan Anak Dalam Islam. Artikel diambil dari situs internet: http://wbumuadz.wordpress.com/2007/05/05/pendidikan-anak-dalam-islam/
Idris, Zahara. 1981. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarata: Angkasa Raya.
Kafrawi. 1979. Pola Bimbingan Masyarakat Islam. Jakarta: CV. Multi.
Rainul, dkk. 1987. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan UT.
PENDAHULUAN
Psikologi atau ilmu jiwa yang diajarkan dari tingkat dasar sampai strata terakhir dan direalisasikan ke dalam kehidupan manusia adalah bersumber dari Barat, kecuali sedikit yang mengambil referensi psikologi Islam. Hal ini didasari pilsapat materialisme mereka yang membuang sisi moral dalam kehidupan, maka mereka tidak memiliki metoda untuk melakukan studi jiwa (ruh), sehingga jauh dari gizi spritual sebagai solusi prilaku psikologi itu sendiri.
Dalam Islam ada yang namanya pendidikan spritual, Kaitannya dengan ini ada beberapa hal yang harus difahami untuk membangun psikolgi agama Islam.
Memahami 4 istilah penting, di Barat tidak mampu membedakan 4 hal ini, dari sini bisa ditangkap kesan kegagalan Barat dalam memberikan solusi psikologis.
1. Ruh, adalah sebutan umum untuk bagian dalam tubuh, lawannya jasad, esensinya hanya Allah yang mengetahui, secara khusus.
2. Nafs, adalah sifat dominasi dari kecendrungan-kecendrungan tubuh (jasad)
3. Aqal, sifat lain dari ruh yang berfunsi sebagai prangkat berpikir,
4. Hati, sebuah pusat atau bagian terpenting dalam ruh untuk memberikan membangun dominasi baik di anngota tubuh dan sebagai singgasana iman serta perangkat komunikasi efektif kepada Pensipta.
BAB II
PSIKOLOGI AGAMA PADA REMAJA
Dalam beberapa ayat Alquran terkadang terjadi silang istilah, untuk memahami psikolgi Islam kita memerlukan peranan ilmu agama. Ketahuilah bahwa Barat dalam membangun ilmu psikologi hanya berdasarkan nafs (itupun hanya sebatas kecendrungan jasad).
Tujuan psikologi dalam Islam adalah:
1. Menyingkap ayat Allah swt dan hukum-Nya dalam diri manusia.
2. Mengenal pedoman hidup yang ideal yang sesuai dengan hukum ilahy (alam) untuk kebahagiaan hidup dunia dan akherat
3. Mengenal motif-motif penyimpangan dari kehidupan ideal dan lurus, yang berdampak kepada penderitaan, kegelisahan dan penyakit jiwa lainnya.
Adapun psikologi Barat dengan alasan ilmiah, rasional dan objektif hanya bertujuan untuk melakukan interpretasi prilaku manusia melalui upaya mendapatkan undang-undang ilmiah dalam memahami dan menerka sebuah prilaku, sebagai prolog dan standar dalam bidang praktik.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia. Dalam Islam ada tiga factor penting yang kerap saling mendominasi dalam perkembangan manusia:
1. Keturunan (Lihat: Ali-Imran 23-24)
2. Lingkungan.
3. Metafisik (gaib).
A. Psikologi Remaja Muslim
Masa remaja pertama (early adolescence) – 13 s/d 17 pr dan 14 s/d 17 lk -
Fase ini adalah fase di mana anak diperlakukan sebagai teman, pada umumnya mereka tidak mau dibilang anak kecil walaupun belum matang, mereka pada saat ini duduk di sekolah menengah pertama dan atas.
Masa remaja kedua = pemuda (Late adolescence) 17 s/ 21.
Jika anak mulai meninggalkan 7 tahun kedua dan siap memasuki 7 tahun ketiga dan seterusnya, Islam memberikan rambu batasan dengan istilah balig atau taklif, di mana anak telah dinilai siap untuk menerima semua sapaan hukum dari Allah swt, sekaligus mempertanggungjawabkannya dihadapan-Nya kelak di hari akhir. Maka pada usia ini anak tidak lagi mau dibilang anak kecil walaupun belum matang. Maka pada saat ini tibalah peranan bapak secara utuh, di mana bapak berperan sebagai murabbi dalam memberikan qudwah serta bimbingan moral dan spritualnya. Berhasil dan gagalnya pada usia ini sangat bergantung kepada peranan bapak sebagai murabinya.
Lihat QS. Annisa, 6. dan Hadis Rasulullah saw: “Telah diangkat qalam (pencatat baik buruk) dari 3 hal: orang tidur sehingga terbangung, anak kecil sehingga ia dewasa, dan orang gila sehingga ia berakal. HR Ahmad & Abu Daud.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua khusunya bapak, kaitannya dengan pendidikan intelektual, social, spritual dan emosional seksualnya. Perkara ini sama sekali tidak mendapat perhatian dari psikologi Barat. Yaitu:
1. Tadabur ayat-ayat Alquran dan Hadis
2. Menghayati makna ukhuwah Islamiyah
3. Menghayati perjuangan ulama Islam salaf dan halaf serta Membaca perkembangan
Islam kontemporer
4. Mempermudah jalan perkawinan
5. Penghayatan kehidupan moralis, seperti; hukum bergaul bebas dengan lawan jenis, urgensi Gadl el-Bashar dari rangsanagan seksual (pemisahan tempat tidur & etika izin memasuki kamar orangtua di usia 7 tahun kedua sangat membantu pendidikan saat ini).
6. Penghayatan secara inten akan pentingnya upaya Mujahadah (seperti, puasa, etika makan, tidur dan bergaul), rutinitas ibadah, dan hidup iffah serta qana’ah (kehidupan sederhana anak dan penuh dengan qanaah pada 7 tahun kedua sangat membantu penghayatan hidup saat ini) agar terhindar dari perbuatan maksiat dan memperkokoh keimanan.
7. Mengenalkan segala dampak dan penyakit moral, social dan lainnya dalam kehidupan bebas.
B. Remaja dan Pembentukan Psikologinya
Remaja biasanya berada dalam masa transisi. Masyarakat transisi dalam istilah J. Useem dan R.H. Useem dinamakan ”modernizing society”. Masyarakat ini adalah masyarakat yang sedang mencoba untuk membebaskan diri dari nilai-nilai masa lalu dan menggapai masa depan dengan terus menerus membuat niali-nilai baru atau hal-hal baru.
Menurut Emile Durkheim, keadaan masyarakat transisi akan membawa individu anggota masyarakat kepada keadaan ’anomie’. Anomie menurut Durkheim adalah ”normlessness” yaitu suatu sistem sosial dimana tidak ada petunjuk atau pedoman buat tingkah laku. Jadi adalah keadaan ekternal seperti dalam keadaan hukum rimba yang terdapat dalam masyarakat yang tiba-tiba dilanda perang. Kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan yang biasa berlaku tiba-tiba tidak berlaku lagi. Akibatnya adalah ”individulaisme” dimana individu-individu bertindak hanya menurut kepentingannya masing-masing (Durkheim, 1951)
Kondisi anomie ini tentu saja berlaku terhadap anggota masyarakat terutama terhadapa para remaja. Merton selanjutnya menyatakan bahwa anomie juga menunjuk pada manusia yang ”ambivalent” (tidak jelas nilai yang dianutnya) dan ”ambigous” (tidak jelas bentuk kelakuannya) dalam masyarakat yang juga tidak konsisten (Merton,1957). Akibatnya memang ada manusia-manusia yang bertingkah laku konform, yaitu menerima nilai (oleh Merton diartikan sebagai tujuan umum dari suatu kebudayaan) dan norma (artinya aturan-aturan khusus dari lembaga masayarakat tertentu). Remaja-remaja yang menerima apa saja yang dikatakan orang tua mereka untuk mencapai gelar sarjana adalah contoh dari jenis konform ini.
Tingkah laku menentang yang biasanya ada dalam proses pembentukan psikologi remaja digolongkan ke dalam 4 jenis :
1. ”innovation”
Yaitu tingkah laku yang menyetujui nilai tetapi menentang norma. Akibatnya bisa negatif dan positif.
1. ”Ritualism”
Yaitu tingkah laku yang menolak nilai-nilai tetapi menerima norma.
1. ”Retreatism”
Yaitu pengingkaran terhadap nilai maupun norma. Bentuk reaksinya adalah pelarian-pelarian dari nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.
1. ”Rebellion”
Yaitu pemberontakan, menolak nilai-nilai dan norma-norma yang ada tapi mengadopsi nilai-nilai dan norma-norma yang lain yang berasal dari luar masyarakatnya.
BAB III
RINGKASAN
8Psikologi atau ilmu jiwa yang diajarkan dari tingkat dasar sampai strata terakhir dan direalisasikan ke dalam kehidupan manusia adalah bersumber dari Barat.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia. Dalam Islam ada tiga factor penting yang kerap saling mendominasi dalam perkembangan manusia:
1. Keturunan (Lihat: Ali-Imran 23-24)
2. Lingkungan.
3. Metafisik (gaib).
Masa remaja pertama (early adolescence) – 13 s/d 17 pr dan 14 s/d 17 lk -
Fase ini adalah fase di mana anak diperlakukan sebagai teman, pada umumnya mereka tidak mau dibilang anak kecil walaupun belum matang, mereka pada saat ini duduk di sekolah menengah pertama dan atas.
Remaja biasanya berada dalam masa transisi. Masyarakat transisi dalam istilah J. Useem dan R.H. Useem dinamakan ”modernizing society”. Masyarakat ini adalah masyarakat yang sedang mencoba untuk membebaskan diri dari nilai-nilai masa lalu dan menggapai masa depan dengan terus menerus membuat niali-nilai baru atau hal-hal baru.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hasan, Yusuf M. 2007. Pendidikan Anak Dalam Islam. Artikel diambil dari situs internet: http://wbumuadz.wordpress.com/2007/05/05/pendidikan-anak-dalam-islam/
Idris, Zahara. 1981. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarata: Angkasa Raya.
Kafrawi. 1979. Pola Bimbingan Masyarakat Islam. Jakarta: CV. Multi.
Rainul, dkk. 1987. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan UT.
PSIKOLOGI ANAK
BAB 1
PENDAHULUAN
Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatiK, psikologik, dan social.
Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia , seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya
Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak , apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya.
BAB 2
PSIKOLOGI ANAK DALAM ISLAM
A. Agama dan Psikologi Agama
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban
Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)
Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird)
Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley)
Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang keTuhanan disertai keimanan dan peribadatan
Jadi agama pertama-tama harus dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugestit esensi pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat personal/pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang
Yang kedua adalah adanya keimanan, yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan.
Menurut Einstein , pada pidato tahun 1939 di depan Princeton Theological seminar, ”ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta
Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentative dan tidak lengkap pada apapun yang ditanggapi atau yang secara implicit atau eksplisit dianggap layak diperhatikan secara serius dan sungguh-sungguh (Vergulius Ferm)
Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang , yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani , psikologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang
B. Psikologi Agama Pada Anak-Anak
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
1. Perkembangan Moral
Perkembangan moral meliputi 6 tahap yang terbagi atas 3 tingkat, sebagai berikut
a) Tingkat pra konvensional.
1. Tahap pertama (umur 0 – 7 tahun).
2. Tahap kedua (sekitar 10 tahun).
b) Tingkat konvensional.
1. Tahap ketiga (sekitar 13 tahun).
2. Tahap keempat (sekiat 16 tahun).
c) Tingkat post. Konvensional.
1. Tahap kelima (masa dewasa muda)
2. Tahap keenam (masa dewasa).
Hasil perkembangan pada masa anak sekolah dilihat dari terbentuknya ciri-ciri tertentu sebagai berikut:
2. Perkembangan kepribadian.
a. Pembentukan hati nurani sebagai inti pribadi, petunjuk bagi tingkah laku dan sensor terhadap keinginan dan dorongan yang tidak wajar disalurkan.
b. Sifat egosentris mulai dikikis dan sifat lebih mengingat orang lain mulai dipupuk.
c. dorongan ingin tahu tersalur melalui pertanyaan yang perlu jawaban.
d. penanaman disiplin dan tanggung jawab secara bertahap
Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, kadang-kadang muncul persoalan baru. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakat di sekelilingnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya kadang-kadang menjadi semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orang tua pun selalu cemas memikirkanya. Maka dalam hal ini, peranan orang tua sangat berpengaruh penting. Jadi, Pentingnya peranan orang tua dalam pembentukan psikologi anak ini disebabkan oleh karena pendidikan yang diperoleh anak dari pengalaman sehari-hari dengan sadar pada umumnya tidak teratur dan tidak sistematis.
KESIMPULAN
Psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban
Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)
Perkembangan moral meliputi 6 tahap yang terbagi atas 3 tingkat, sebagai berikut
a) Tingkat pra konvensional.
1. Tahap pertama (umur 0 – 7 tahun).
2. Tahap kedua (sekitar 10 tahun).
b) Tingkat konvensional.
1. Tahap ketiga (sekitar 13 tahun).
2. Tahap keempat (sekiat 16 tahun).
c) Tingkat post. Konvensional.
1. Tahap kelima (masa dewasa muda)
2. Tahap keenam (masa dewasa).
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan 2004
Prof Dr. H. Ramayulis, Psikologi Agama , Kalam Mulia 2004
Drs. H. Aziz Ahyadi , Psikologi Agama, Mertiana Bandung
WE Maramis, Ilmu Kedoteran Jiwa, Airlangga University Press, 1980
PENDAHULUAN
Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatiK, psikologik, dan social.
Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia , seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya
Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak , apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya.
BAB 2
PSIKOLOGI ANAK DALAM ISLAM
A. Agama dan Psikologi Agama
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban
Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)
Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird)
Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley)
Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang keTuhanan disertai keimanan dan peribadatan
Jadi agama pertama-tama harus dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugestit esensi pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat personal/pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang
Yang kedua adalah adanya keimanan, yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan.
Menurut Einstein , pada pidato tahun 1939 di depan Princeton Theological seminar, ”ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta
Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentative dan tidak lengkap pada apapun yang ditanggapi atau yang secara implicit atau eksplisit dianggap layak diperhatikan secara serius dan sungguh-sungguh (Vergulius Ferm)
Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang , yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani , psikologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang
B. Psikologi Agama Pada Anak-Anak
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
1. Perkembangan Moral
Perkembangan moral meliputi 6 tahap yang terbagi atas 3 tingkat, sebagai berikut
a) Tingkat pra konvensional.
1. Tahap pertama (umur 0 – 7 tahun).
2. Tahap kedua (sekitar 10 tahun).
b) Tingkat konvensional.
1. Tahap ketiga (sekitar 13 tahun).
2. Tahap keempat (sekiat 16 tahun).
c) Tingkat post. Konvensional.
1. Tahap kelima (masa dewasa muda)
2. Tahap keenam (masa dewasa).
Hasil perkembangan pada masa anak sekolah dilihat dari terbentuknya ciri-ciri tertentu sebagai berikut:
2. Perkembangan kepribadian.
a. Pembentukan hati nurani sebagai inti pribadi, petunjuk bagi tingkah laku dan sensor terhadap keinginan dan dorongan yang tidak wajar disalurkan.
b. Sifat egosentris mulai dikikis dan sifat lebih mengingat orang lain mulai dipupuk.
c. dorongan ingin tahu tersalur melalui pertanyaan yang perlu jawaban.
d. penanaman disiplin dan tanggung jawab secara bertahap
Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, kadang-kadang muncul persoalan baru. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakat di sekelilingnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya kadang-kadang menjadi semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orang tua pun selalu cemas memikirkanya. Maka dalam hal ini, peranan orang tua sangat berpengaruh penting. Jadi, Pentingnya peranan orang tua dalam pembentukan psikologi anak ini disebabkan oleh karena pendidikan yang diperoleh anak dari pengalaman sehari-hari dengan sadar pada umumnya tidak teratur dan tidak sistematis.
KESIMPULAN
Psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban
Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)
Perkembangan moral meliputi 6 tahap yang terbagi atas 3 tingkat, sebagai berikut
a) Tingkat pra konvensional.
1. Tahap pertama (umur 0 – 7 tahun).
2. Tahap kedua (sekitar 10 tahun).
b) Tingkat konvensional.
1. Tahap ketiga (sekitar 13 tahun).
2. Tahap keempat (sekiat 16 tahun).
c) Tingkat post. Konvensional.
1. Tahap kelima (masa dewasa muda)
2. Tahap keenam (masa dewasa).
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan 2004
Prof Dr. H. Ramayulis, Psikologi Agama , Kalam Mulia 2004
Drs. H. Aziz Ahyadi , Psikologi Agama, Mertiana Bandung
WE Maramis, Ilmu Kedoteran Jiwa, Airlangga University Press, 1980
Langganan:
Postingan (Atom)