Tampilkan postingan dengan label dakwah islam : khairuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah islam : khairuddin. Tampilkan semua postingan

03 Desember 2009

Peringatan: Cadar, Celana Ngatung dan Janggut bukan Ciri-ciri Teroris

Ketahuilah wahai kaum Muslimin, menggunakan cadar bagi wanita muslimah, mengangkat celana jangan sampai menutupi mata kaki dan membiarkan janggut tumbuh bagi seorang laki-laki Muslim adalah kewajiban agama dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan terorisme, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti bukti-buktinya insya Allah dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta penjelasan para Ulama ummat.

Benar bahwa sebagian Teroris juga mengamalkan kewajiban-kewajiban di atas, namun apakah setiap yang mengamalkannya dituduh Teroris?! Kalau begitu bersiaplah menjadi bangsa yang teramat dangkal pemahamannya… Maka inilah keterangan ringkas yang insya Allah dapat meluruskan kesalah pahaman.

Pertama: Dasar kewajiban menggunakan cadar bagi Muslimah
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Perhatikanlah, ayat ini memerintahkan para wanita untuk menutup seluruh tubuh mereka tanpa kecuali. Berkata As-Suyuthi rahimahullah, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasatul Fadhilah, hal. 51, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah).
Istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang mulia: ‘Aisyah radhiyallahu’anha dan para wanita di zamannya juga menggunakan cadar, sebagaimana penuturan ‘Aisyah radhiyallahu’anha berikut:
“Para pengendara (laki-laki) melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka telah dekat kepada kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).

Kedua: Dasar kewajiban mengangkat celana, jangan sampai menutupi mata kaki bagi laki-laki Muslim
Banyak sekali dalil yang melarang isbal (memanjangkan pakaian sampai menutupi mata kaki), diantaranya sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu:
“Bagian kain sarung yang terletak di bawah kedua mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Al-Bukhori, no. 5787).
Dan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha:
“Bagian kain sarung yang terletak di bawah mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Ahmad, 6/59,257).

Ketiga: Dasar kewajiban membiarkan janggut tumbuh bagi laki-laki Muslim
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan janggut.” (HR. Muslim no. 624).
Juga dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Berbedalah dengan orang-orang musyrik; potonglah kumis dan biarkanlah janggut.” (HR. Muslim no. 625).
Dan masih banyak hadits lain yang menunjukkan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk membiarkan janggut tumbuh, sedang perintah hukum asalnya adalah wajib sepanjang tidak ada dalil yang memalingkannya dari hukum asal.

Demikianlah penjelasan ringkas dari kami, semoga setelah mengetahui ini kita lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi orang-orang yang mengamalkan sejumlah kewajiban di atas. Tentu sangat tidak bijaksana apabila kita mengeneralisir setiap orang yang nampak kesungguhannya dalam menjalankan agama sebagai teroris atau bagian dari jaringan teroris, bahkan minimal ada dua resiko berbahaya apabila seorang mencela dan membenci satu kewajiban agama atau membenci orang-orang yang mengamalkannya (disebabkan karena amalan tersebut):
Pertama: Berbuat zhalim kepada wali-wali Allah, sebab wali-wali Allah adalah orang-orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik perintah itu wajib maupun sunnah. Dan barangsiapa yang memusuhi wali Allah dia akan mendapatkan kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Yunus: 62-63)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah sampai Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Kalau dia meminta kepada-Ku pasti akan Aku beri. Dan kalau dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti akan Aku lindungi.’.” (HR. Bukhari, lihat hadits Arba’in ke-38).
Faidah: Para Ulama menjelasakan bahwa makna, “Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah” adalah hidayah dari Allah Ta’ala kepada wali-Nya, sehingga ia tidak mendengar kecuali yang diridhai Allah, tidak melihat kepada apa yang diharamkan Allah dan tidak menggunakan kaki dan tangannya kecuali untuk melakukan kebaikan.
Kedua: Perbuatan tersebut bisa menyebabkan kekafiran, sebab mencela dan membenci satu bagian dari syari’at Allah Jalla wa ‘Ala, baik yang wajib maupun yang sunnah, atau membenci pelakunya (disebabkan karena syari’at yang dia amalkan) merupakan kekafiran kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pada pembatal keislaman yang kelima:
“Barangsiapa membenci suatu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Yang demikian karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (Muhammad: 9)
Maka berhati-hatilah wahai kaum Muslimin.
Dan kepada Ikhwan dan Akhwat yang telah diberikan hidayah oleh Allah untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban di atas hendaklah bersabar dan tetap tsabat (kokoh) di atas sunnah, karena memang demikianlah konsekuensi keimanan, mesti ada ujian yang menyertainya.
Dan wajib bagi kalian untuk senantiasa menuntut ilmu agama dan menjelaskan kepada ummat dengan hikmah dan lemah lembut, serta hujjah yang kuat agar terbuka hati mereka insya Allah, untuk menerima kebenaran ilmu yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, bukan pemahaman Teroris. Wallohul Musta’an.

Tanah Baru, Depok, 3 Ramadhan 1430 H.

Sumber :
Publikasi Ahlussunnah Jakarta

Lelaki Keledai dan Wanita Celaka...... استغفر الله العظيم

Hati-hati berbicara dan menulis kata-kata….ALLAH kuasa membalasnya seketika itu juga

Kisah 1 : Lelaki Keledai

Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan diekspos oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.
Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas Mesir, berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!.".

Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menit pun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?."

Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.

Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab.

Dia masuk rumah, dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke 'Wastapel' di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.

Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.

Mengenai hal ini, Dr.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!.".

Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati ?!!!.

(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)





Kisah 2 : Wanita celaka….Ketika Allah mengabulkan permintaan 'vila'nya di neraka….

Kisah ini ditulis oleh redaksi majalah Al-Manar, Mesir. Ia mengisahkan, "Musim panas merupakan ujian yang cukup berat bagi seorang muslimah. Ia dituntut untuk tetap mempertahankan pakaian kesopannanya. Gerah dan panas tak lantas menjadikan mereka menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan jilbab, kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki manfaat multi fungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari kairo ke Alexandria, di sebuah mikrobus, ada seorang gadis muda yang berpakaian kurang layak untuk di deskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan.

Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja, cara berpakaiannya mengundang "perhatian" orang didalam mikrobus tersebut.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa cara berpakaiannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi dirinya sendiri. Di samping mengingatkan bahwa cara berpakaian seperti itu melanggar aturan syar'i. Orang tua tersebut berbicara agak hati-hati dan pelan-pelan, sebagaimana layaknya seorang bapak berbicara kepada anaknya.

Tapi apa respon perempuan muda tersebut ? rupanya dia tersinggung lalu ia mengekspresikan kemarahannya dengan berkata, "Jika memang bapak mau, ini ponsel saya, tolong pesankan saya tempat di neraka tuhan anda !" Orang tua tersebut hanya bisa beristighfar sembari mengelus dadanya; kasihan nian gadis itu, semoga Allah memberinya hidayah.



Detik-detik berikutnya suasana begitu senyap, penumpang mikrobus mulai terlelap dalam kantuk.

Hingga sampailah perjalanan di ujung tujuan. Kini para penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi terhalangi oleh perempuan muda itu yang masih terlihat tidur.

"Bangunkan saja !" teriak seorang penumpang.
"Iya bangunkan saja" teriak penumpang lainnya.

Tapi perempuan muda tersebut tetap bungkam. Salah seorang penumpang lain mencoba mendekati si perempuan muda tersebut dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.

Namun Astaghfirullahal 'Azhim ! Apakah yang terjadi ? ternyata perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi, ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan NERAKA.

Kontan seisi Mikrobus berucap Istghifar sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah akhir kehidupan yang menakutkan; mati dalam keadaan menantang ALLAH. Apakah Allah langsung memenuhi permintaan 'vila'nya untuk tinggal di neraka sana ????

30 November 2009

Kumpulan Kisah-Kisah Hikmah Tarbawiyah dalam Keluarga

Afwan sebelumnya, Catatan ini teruntuk bagi yang haus ilmu dan bersabar dalam membacanya sehingga mendapat manfaatnya, bukan untuk pembaca yang tidak menghargai ilmu…..


Rosululloh صلى الله عليه وسلم pernah bersabda,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِى الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَارَبِّ أَنَّى لِى هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ ».
Di riwayatkan dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah ’Azza Wa Jalla benar-benar akan meninggikan derajat hamba-Nya yang sholih ketika berada di surga,” kemudian dia bertanya, ‘Wahai Robb ku, dari manakah kiranya derajat yang ku peroleh ini ?’ Allah menjawab, “Dari istighfar anakmu untukmu.” ( Lihat : Sunan Ibnu Majah 2/1207 dan Musnad Imam Ahmad 2/509. )


Kisah 1 : Demi kebaikanmu, wahai anakku
Di riwayatkan bahwa pada suatu malam, Shohabat Abdulloh bin Abbas رضي الله عنه sedang melaksanakan Qiyamul lail sedangkan putranya yang masih kecil tidur terlelap. Ketika beliau melihat putranya, beliau berkata, “Demi kebaikanmu, wahai anakku.”
Dan ketika membaca QS. Al-Kahfi ayat 82, “Sedangkan ayahnya adalah seorang yang sholih.” beliau menangis.

Sa’id bin Jubair juga pernah berkata, “Sesungguhnya aku betul-betul akan menambah sholatku untuk kebaikan putraku ini.” (Hilyatul Auliya’ : 4/279)


Kisah 2 : Indahnya saudara seiman
Diriwayatkan oleh Ka’ab Al-Ahbar رضي الله عنه bahwa beliau berkata, “Berapa banyak orang yang Qiyamul lail dikaruniai rasa syukur oleh Allah dan berapa banyak orang yang tidur terlelap diampuni oleh Allah; yaitu pada dua insan yang saling mencinta karena Allah. Kemudian salah seorang dari keduanya melaksanakan sholat malam lalu Allah meridhoi sholat dan do’anya sehingga Dia tidak menolak do’anya sedikitpun. Di sela-sela do'an tersebut, dia tertidur saudaranya yang tertidur dengan berdo’a, “Ya Allah, ampunilah saudaraku, fulan.” Allah pun mengampuni saudaranya padahal dia dalam keadaan tidur. (Hilyatul Auliya’ : 6/31 dan Al-Faiq karya Az-Zamahsyary : 3/234-235)

Kisah 3 : Anakku, Aku telah berbuat baik kepada kalian ketika kalian besar, ketika kalian masih kecil dan ketika kalian belum dilahirkan.”
Tabi’in yang mulia, Abul Aswad Ad-Du’ali yang di kenal sebagai Qodhi di bashroh dan pencetus ilmu nahwu yang meninggal pada tahun 69 H, pernah berkata kepada putra-putrinya, “Aku telah berbuat baik kepada kalian ketika kalian besar, ketika kalian masih kecil dan ketika kalian belum dilahirkan oleh ibu kalian.”

“Bagaimana ayah bisa berbuat baik kepada kami sebelum kami dilahirkan ?” tanya mereka keheranan.

“Aku telah memilih ibu yang tidak kalian cela untuk kalian.” Jawab beliau menerangkan. ( At-Tarikhul Kabir : 4/273, Al-‘Ibar Fi Khobarin Man Ghabar : 1/77, Al-Kamil Fit Tarikh : 4/91 dan Syadzarotud Dzahab : 1/76)



Kisah 4 : “Kami telah kehilangan moment untuk mendidik putra-putri kami.”
Ar-Roghib Al-Asfahani pernah berkisah, “Bahwa Kholifah Abbasiyah, Al-Manshur, mengutus seseorang kepada para tawanan dari kalangan bani Umayyah untuk menanyakan kondisi mereka, ‘Apa penderitaan paling berat yang kalian rasakan di dalam penjara ini ?’ “Kami telah kehilangan moment untuk mendidik putra-putri kami.” jawab mereka.

Kisah 5 : Pahala untuk ayahku
Seorang pemuda yang hidup pada abad ke 5 hijriyah pernah bercerita, “Saya mewajibkan sholat dua roka’at untuk diriku sendiri pada setiap malamnya dengan banyak membaca Al-Qur’an pada dua roka’at tersebut.

Dan aku hadiahkan pahala sholat dan tilawahku untuk ayahku, sehingga aku bermimpi melihat ayah sembari berkata kepadaku, ‘Jazaakallohu, Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepadamu, wahai putraku. Sungguh, kebaikan dan apa saja yang engkau hadiahkan kepadaku telah sampai kepadaku.’ ( Mu’jamu As-Safar : 1/217 )

Kisah 6 : Tangisilah Akheratku
Di masa tabi'in, ada seorang ahli ibadah bashroh yang sedang menghadapi kematian, kemudian para kerabatnya datang menjenguk sedangkan dia kelihatan tersiksa dengan apa yang dialaminya, sehingga ayahnya menangis.

Ketika melihat ayahnya menangis, ahli ibadah ini bertanya, "Wahai ayah, apa yang membuatmu menangis ?"

“Wahai putraku, aku menangis karena akan kehilangan dirimu dan kepayahan yang sedang engkau rasakan.” Jawab Ayahnya.

Mendengar percakapan keduanya, ibunya pun ikut menangis juga.
"Wahai ibu yang penuh cinta dan kasih, apa yang membuatmu menangis tersedu sedan ?” tanya ahli ibadah bashroh ini.

Ibunya menjawab, “Wahai putraku, aku menangis karena akan berpisah denganmu dan aku bersedih karena akan merasa kesepian sepeninggalmu.”

Kemudian keluarga dan putra-putranya ikut menangis juga.

Melihat mereka menangis, ahli ibadah bertanya kepada mereka, "Wahai putra-putraku yang akan menjadi yatim sepeninggalku, apa yang membuat kalian menangis ?”

“Wahai ayah, kami menangis karena akan berpisah denganmu dan akan menjadi yatim sepeninggalmu.” Jawab putra-putranya.

Sang ahli ibadah pun berkata, “Dudukkanlah aku, dudukkanlah aku. Menurutku, kalian semua hanya menangisi duniaku. Tidakkah ada di antara kalian yang menangisi akheratku ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis ketika Allah menelungkupkan wajahku ke dasar bumi ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis karena pertanyaan malaikat munkar nakir yang ditujukan kepadaku ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis ketika aku berdiri di hadapan Robbku, Allah Ta’ala ?”.


Kemudian beliau berteriak dengan teriakan yang keras lalu meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. ( Shifatus Shofwah : 4/18 ).

Kisah 7 : Hati-hati dengan doa orang tua
Di riwayatkan dari Al-Hasan bin Ali رضي الله عنه bahwa beliau pernah bercerita, "Ketika aku dan ayah sedang melaksanakan thowaf di sekitar Ka'bah di malam yang gelap gulita, tepatnya di saat mata sudah terlelap tidur dan suasana sunyi sepi, tiba-tiba ayahku mendengar suara rintihan yang memelas dengan menyenandungkan do'a,

Duhai Dzat yang menjawab do'a orang yang berada dalam kesulitan di kegelapan malam
Wahai Dzat yang menyingkap mudhorot, musibah dan penyakit
Utusan yang mendatangimu di sekitar Ka'bah telah tidur lalu mereka terjaga
Namun mata-Mu tidak pernah tidur, wahai Dzat yang Maha selalu mengurusi hamba-Nya
Dengan kedermawanan-Mu, karuniakanlah ampunan-Mu atas dosa-dosa hamba
Wahai Dzat yang d tuju oleh seluruh hamba yang pergi ke tanah haram
Jika ampunan-Mu tidak bisa di raih oleh orang yang melampaui batas
Maka siapakah yang dengan kedermawanannya mampu memberikan ampunan kepada orang-orang yang bergelimang dosa?



Maka ayah berkata kepadaku, "Tolong cari orang yang mengucapkan do'a tersebut."

Akupun pergi mendatanginya sembari berkata, 'penuhilah panggilan Amirul mukminin !'
Lalu dia pergi menghadap Amirul mukminin dengan menarik setengah bagian tubuhnya sebelah kanan karena lumpuh, hingga sampai di hadapan Ayah.

Ayahku bertanya, "Aku telah mendengar keluh kesahmu, maka ceritakanlah kepadaku perihal musibah apa yang menimpamu ?"

Dia pun bercerita, 'Aku adalah seorang laki-laki yang menyibukkan diri dengan lumpuran dosa dan maksiat dan ayahku selalu menasehatiku, "Hati-hatilah terhadap kesalahan dan ketergelinciran di masa muda karena Allah memiliki kekuasaan dan amarah yang tidak akan jauh dari orang-orang yang berbuat dzolim.” Ketika ayah berulang-ulang menasehatiku dengan nasehat tersebut, aku memukulnya dengan pukulan yang amat keras, lalu ayah bersumpah dengan nama Allah dan dengan penuh kesungguhan bahwa beliau benar-benar akan mendatangi Baitulloh Al-Haram kemudian menggantungkan dirinya kepada Allah di tabir-tabir ka'bah untuk mendo'akan kecelakaan bagiku.
Akhirnya Ayah pergi keluar hingga sampai di Baitul Haram lalu bersimpuh di tabir-tabir ka'bah dan berdo'a di sana. Belum selesai lantunan do'anya, bagian tubuhku yang sebelah kanan tidak bisa bergerak –terkena lumpuh pada setengah tubuhnya -.

Akupun menyesali perbuatan yang ku lakukan terhadap ayahku. Aku pun berusaha membujuk agar ayah menaruh iba dan meridhoiku, sehingga beliau menjamin akan mendo'akan kesembuhan bagiku sebagaimana beliau mendo'akan kecelakaan bagiku di Ka'bah.

Akupun mempersiapkan onta untuk ayah dan menaikkan beliau di atas onta namun malang nian, onta tersebut lari dan menjatuhkan ayah di antara dua batu besar sehingga beliau meninggal dunia.
Mendengar alur ceritanya, Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه berkata kepadanya, "Bergembiralah, karena pertolongan Allah telah datang kepadamu."

Al-Hasan melanjutkan ceritanya, “Kemudian ayah berdiri untuk melaksanakan sholat dua roka'at lalu memerintahkan pemuda tersebut untuk menyingkapkan tubuh bagian kanannya yang lumpuh, dengan tangannya. Ayahku langsung mendo'akan kesembuhan baginya berulang-berulang kali. Sehingga dia kembali sehat sebagaimana semula.”

Kemudian ayah berkata kepadanya, "Kalau kamu tidak bersumpah bahwa ayahmu ridho kepadamu, aku tidak akan berdo'a untuk kesembuhanmu."

Ali juga pernah berkata, "Hati-hatilah kalian terhadap do'anya ke dua orang tua karena do'a mereka bisa menambah rizki dan memulihkan penyakit atau mendatangkan kebinasaan dan mengundang malapetaka.. (Thobaqotus Syafi'iyyah Al-Kubro : 2/328-329 dan At-Tawwabin : 1/237-241).



Kisah 8 : Barokah nasehat anak shaleh
Dan di riwayatkan juga bahwa As-Surry bin Muflis As-Saqothi membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada gurunya, yaitu ayat
وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا {86}
"Dan kami menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka jahannam dalam keadaan dahaga." ( QS. Maryam : 86 )

Kemudian As-Surry bertanya kepada gurunya, "Wahai ustadz, apa itu Al-Wirdu."
"Saya tidak tahu." Jawab gurunya.

As –Surry melanjutkan ayat setelahnya,
لاَيَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلاَّ مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا {87}
“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Allah Yang Maha Pemurah.” ( QS. Maryam : 87 )

Dan bertanya, "Wahai ustadz, apa makna dari Al-Ahdu ?"

"Saya tidak tahu." Jawab gurunya lagi.

Akhirnya, As-Surry menghentikan bacaannya dan berkata dengan lantang, "Kalau anda tidak tahu, mengapa anda menipu manusia ?"

Gurunya pun memukul As-Surry yang di anggap telah berbuat lancang.
"Wahai ustadz, tidak cukupkah kebodohan dan ketertipuan yang ada pada diri anda sehingga anda menambahnya dengan kedzoliman dan penganiayaan !" Jelas As-Surry

Kemudian sang guru sadar akan kekeliruannya dan meminta kehalalan apa yang telah dia lakukan kepada muridnya, As-Surry. Sang guru juga bertobat kepada Allah dan menuntut ilmu lagi.

Setelah beberapa waktu, Gurunya tersebut berkata, "As-Surry telah membebaskan aku dari kebodohan. ( Anba'u Nujaba'il Abna' : 146-148 ).



Kisah 9 : Bebaskan ayahmu dari neraka nak…
Kebiasaan Umar bin Abdul Aziz Rohimahulloh setelah melaksanakan sholat Isya', menemui putri-putrinya dengan memberi salam kepada mereka. Pada suatu malam, ketika beliau datang, putrid-putrinya meletakkan tangan-tangan mereka di mulut, kemudian mereka buru-buru pergi ke dekat pintu untuk menjauh dari Umar bin Abdul Aziz.

Melihat tingkah laku mereka, Umar bertanya kepada pengasuhnya, "Kenapa mereka berbuat demikian ?"
"Mereka tidak memiliki makan malam kecuali hanya kacang adas dan bawang merah sehingga mereka tidak suka kalau anda sampai mencium bau tak sedap dari mulut-mulut mereka" Jawab sang pengasuh.
Setelah mendengar hal tersebut, Umar menangis kemudian berkata kepada mereka, "Wahai putri-putriku, jika kalian bisa makan dengan berbagai macam menu makanan, maka itu tidak akan memberi manfaat kepada kalian bila dengan hal tersebut ayah kalian di perintahkan untuk masuk neraka."
Merekapun menangis hingga suara mereka meninggi. Kemudian Umar pergi meninggalkan mereka. ( Siyaru A'lamin Nubala' : 1/54 )

Kisah 10 : Anakku, ingatlah si empunya roti

Ketika Abu Musya Al-Asy'ari ingin meninggal dunia, beliau memanggil putra-putranya seraya berkisah kepada mereka, "Wahai putra-putraku, Ingatlah selalu kisah si empunya roti."



Beliau melanjutkan, "Dahulu, dari kalangan bani isro'il terdapat seorang laki-laki yang beribadah kepada Allah di sinagog selama 70 tahun. Lalu syetan berusaha menggodanya dengan menjelma menjadi seorang perempuan yang rupawan nan cantik jelita.

Lelaki tersebut tinggal bersama perempuan ini selama 7 malam secara tidak halal. Setelah itu, aibnya tersingkap. Lalu dia pergi meninggalkan perkampungannya untuk bertaubat kepada Allah.

Setiap menginjakkan satu langkah kaki, dia selalu sholat dan sujud. Hingga datangnya malam membuatnya menginap di sebuah gubuk yang dihuni oleh 12 orang-orang miskin.

Dia langsung menyelusup di antara dua orang miskin. Dan kebetulan pada waktu malam hari, seorang rahib membawa dan memberikan 12 roti sesuai dengan jumlah orang-orang miskin yang bertempat tinggal di sana.

Rohib tersebut membagi satu persatu hingga roti tersebut habis. Namun ada satu orang miskin yang datang terlambat, dia tidak mendapat roti. Lalu bertanya kepada rohib, "Mengapa kamu tidak memberikan roti kepadaku ?"

Sang rohib menjawab, "Apakah kamu melihat aku masih membawa dan menahannya darimu ? Tanyakan kepada mereka, apakah ada di antara mereka yang aku beri dua roti ?"

"Tidak." Jawab mereka secara serempak.

Rohib berkata lagi, "Apakah kamu melihatku menahannya darimu. Demi Allah, aku tidak akan memberimu apa-apa malam ini."

Kemudian ahlul ibadah yang sejak tadi mendengar percakapan mereka berdua, langsung memberikan rotinya kepada lelaki yang tidak mendapat rotinya. Ketika hari memasuki waktu pagi, ternyata ahlul ibadah yang bertaubat tersebut meninggal dunia.

Abu Musa Al-Asy'ari melanjutkan kisahnya, "Lalu ibadah yang dia kerjakan selama 70 puluh tahun di timbang dengan dosa yang dia lakukan selama 7 malam. Ternyata, dosa yang dia kerjakan selama 7 malam lebih berat dari pada ibadahnya selama 70 tahun. Kemudian roti yang dia berikan kepada orang miskin ditimbang dengan dosanya selama 7 malam. Ajaibnya, pahala roti yang dia berikan lebih berat timbangannya dari pada dosa yang dia lakukan selama 7 malam."



Setelah selesai berkisah, Abu Musa menasehati putra-putranya, "Wahai putra-putraku, Ingatlah selalu kisah si empunya roti…( Shifatus Shofwah : 1/ 561-562 -dengan sedikit perubahan.)

Kisah 11 : Kebahagiaan tidak terkira
Pada suatu hari Ma'ruf Al-Kurkhy –abid Baghdad yang wafat pada 200 H- duduk di tepian sungai dajlah yang terletak di kota Baghdad sambil berbincang-bincang dengan para sahabatnya, tiba-tiba ada sebagian pemuda yang melewati mereka dengan mengendarai sampan sembari mendendangkan alat-alat musik dan meminum khomer.

Para sahabat Ma'ruf berkata kepada beliau, "Tidakkah kamu melihat, mereka berada di sungai ini untuk bermaksiat kepada Allah, maka berdo'alah untuk kebinasaan mereka.”

Ma'ruf Al-Kurkhy pun mengangkat tangannya ke langit dan berdo'a, "Ya Allah, ya Tuhanku…., aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberikan kebahagiaan kepada mereka di jannah sebagaimana Engkau memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia."



Para sahabatnya mencela Ma'ruf dengan berkata, "Kami hanya menginginkan agar anda mendo'akan kecelakaan buat mereka bukan malah mendo'akan kebaikan untuk mereka."

"Jika Allah memberikan kebahagiaan mereka di akherat, Allah akan memberi pintu taubat bagi mereka ketika di dunia. Dan hal itu tidak memberikan mudhorot bagi kalian." Jawab Ma’ruf. ( Shifatus Shofwah : 2/321 )

Kisah 12 : Doa ayah untuk anaknya
Di riwayatkan bahwa Fudhoil bin Iyadh, abidul Haramain, pernah mendo'akan untuk kebaikan putranya, Ali dengan do'a, "Ya Allah, sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh untuk mendidik putraku, Ali namun aku tidak mampu untuk mendidiknya maka didiklah dia untukku, ya Allah."
Allah pun mengabulkan do'a beliau sehingga putra beliau, Ali menjadi ahli ibadah, zuhud, waro' dan bertaqwa. ( Siyaru A'lamin Nubala' : 8/445 dan Hilyatul Auliya' : 8/299 )

Kisah 13 : Menghargai Hadits Nabi.

Seorang pakar hadits yang terkenal zuhud, Ibrohim bin Adham berkata, “Ayah pernah berkata kepadaku, “Wahai putraku, carilah hadits Nabawi. Setiap hadits yang kamu dengar dan kamu hafalkan akan aku ganti dengan satu dirham." Lalu aku mencari hadits karena perintah ini… ( Lihat, Syarofu Ashabil Hadits, halaman : 10 )

Dikisahkan juga bahwa di kota Baghdad ada seorang pakar hadits, Amir bin Ashim yang hidup pada masa Abad 2 hijriyah. Beliau menceritakan pengalamannya dalam memburu hadits Nabi dengan berkata, “Ayahku akan membayar 100.000 dirham dan akan membelikan satu binatang tunggangan yang senilai dengan 1000 dirham kepadaku.”

Ayahku juga pernah berkata, “Pergilah memburu hadits Nabi hingga aku tidak melihat wajahmu kecuali engkau kembali dengan membawa 100.000 hadits Nabawi yang mulia.”
Ali bin Ashim melanjutkan kisahnya, “Aku pun melalang buana untuk mencari hadits Nabi hingga aku kembali dengan membawa 100.000 hadits untuk ayahku. (Al-Muntadzom : 10/103, Tarikhu Baghdad : 11/447 dan Al-Ansab : 4/473 )

.

Kisah 14 : Anakku, Hati-hatilah dengan Doa Orang yang Terdzalimi
Dahulu, Yahya Al-Barmaki adalah seorang menteri yang memiliki kekuasaan dan kekuatan di masa Kholifah Harun Ar-Rosyid. Kemudian kondisinya berubah, beliau dan putra-putranya masuk ke dalam penjara. Di kisahkan bahwa putra Yahya berkata kepada ayah dan orang yang berada dalam penjara dalam keadaan di borgol, “Wahai Ayah, setelah berkuasa memerintah dan melarang serta berkuasa dalam memegang harta, kita menjadi seperti ini…?"

Sang ayah, Yahya menjawab dengan bijak, “Wahai putraku, do’a orang terdzolimi yang bersembunyi di kegelapan malam lah yang membuat kita demikian. Kita mungkin lupa dengan do’a mereka namun Allah tidak akan pernah lalai akan do’a-do’a mereka. ( Siyaru A’lamin Nubala’ : 9/60-61 ) .

Kisah 15 : Apa Cita-citamu ?
Pada suatu hari, Umar bin Khottob رضي الله عنه berkata kepada orang-orang yang berada di sekitar beliau, “Ungkapkanlah harapan-harapan dan cita-cita kalian !”

Sebagian dari mereka berkata, “Saya berharap kalau seandainya rumah ini di penuhi dengan emas sehingga saya bisa menginfakkannya di jalan Allah.”

Umar رضي الله عنه berkata lagi, “Ungkapkanlah harapan-harapan dan cita-cita kalian !”
Lalu seorang laki-laki yang lain berkata dengan mantap, “Saya berharap kalau rumah ini penuh dengan intan, berlian dan permata, sehingga saya bisa menginfakkan dan mensedekahkannya di jalan Allah."

Sampai di sini, Umar bin Khottob رضي الله عنه berkata, “Saya berharap kalau seandainya rumah ini dipenuhi oleh para lelaki semisal Abu Ubaidah bin Jaroh, Muadz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah dan Hudzaifah bin Yaman رضي الله عنهم . ( Fadhoilus Shohabah : 2/740, Hilyatul Auliya’ : 1/102, Siyaru A’lamin Nubala’ : 1/14 dan Sifatush Sofwah : 1/367-368 )

Kisah 16 : Persiapkanlah Bekalmu, wahai anakku…

Ada orang sholih yang berkata bijak kepada putranya, “Wahai putraku, hanyasanya engkau hanyalah kumpulan hari-hari yang berbilang. Jika sebagian harimu hilang maka seluruh hidupmu juga ikut hilang. Wahai putraku, ketahuilah bahwa para penghuni kubur sedang menunggumu di antara waktu yang satu dengan waktu yang lain, maka waspadalah, jangan sampai kamu pergi menyusul mereka tanpa membawa perbekalan…”



Kisah 17 : Karena Surat Al-Fatihah Begitu Berharga….
Ketika Hammad bin Abu Hanifah menguasai surat Al-Fatihah dengan baik, Abu Hanifah memberi uang 500 dirham kepada gurunya padahal harga satu kambing pada saat itu adalah satu dirham. Sang guru menganggap bahwa apa yang di berikan oleh Abu Hanifah terlampau banyak karena dia tidak mengajari putranya kecuali hanya surat Al-Fatihah.

Maka Abu Hanifah berkata, “Janganlah kamu menganggap remeh perihal apa yang telah engkau ajarkan kepada putraku. Kalau seandainya kami memiliki dirham yang lebih banyak dari yang kami berikan niscaya kami akan memberikannya kepadamu juga demi menghormati Al-Qur’an. ( Fathu Babil ‘Inayah yang di tahqiq oleh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Hal : 19 )

.





Jazakumullah, Ibnu Abdul Bari el-‘Afifi. Semoga bermanfaat.
Disadur dari buku Syahrun Wahid li Tarbiyati Jilin Wa’id
karya Abdulloh Muhammad Abdul Mu'thi

24 November 2009

Siapa Pencetus Pertama Istilah Wahhabi ?

Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ‘ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ‘ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India.

Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali. Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.

Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan ‘Utsmâniyyah (Ottomans), Ibrâhîm Basyâ (Pasha), anak angkat Muhammad ‘Alî Basyâ (Pasha), juga menggunakan istilah ‘Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah (Heretics)’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb dan Negara Saudî. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah ‘Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan :

“Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan (menisbatkan) istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini.

- Margoliouth sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah ‘Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup ‘pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah ‘Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”.

- Thomas Patrick Hughes menggambarkan “Wahhâbiyyah” sebagai gerakan reformis Islâm yang didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb, yang menyatakan bahwa musuh-musuh mereka tidak mau menyebut mereka sebagai “Muhammadiyyah” (Muhammadans), malahan, mereka menyebutnya sebagai ‘Wahhâbî’, sebuah nama setelah namanya ayahnya Syaikh….

- George Rentz mengatakan bahwa istilah ‘Wahhâbî’ digunakan untuk mengambarkan para pengikut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb oleh musuh-musuh mereka sebagai ejekan bahwa Syaikh mendirikan sebuah sekte baru yang harus dihentikan dan aqidahnya ditentang. Mereka yang disebut dengan sebutan ‘Wahhâbî’ ini beranggapan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb hanyalah seorang pengikut Sunnah, oleh karena itulah mereka menolak istilah ini dan bahkan menuntut agar dakwah beliau disebut dengan ‘ad-Da’wah ila’t Tauhîd’, dimana istilah yang tepat untuk menggambarkan para pengikutnya adalah ‘Muwahhidŭn’…. Rentz juga mengatakan bahwa, para penulis barat ketika menggunakan istilah ‘Wahhâbî’ adalah dengan maksud ejekan, ia juga menyatakan bahwa ia menggunakan istilah itu sebagai klarifikasi.

Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya :

- Mereka menyebut dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb sebagai ‘Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh ‘Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad.

- Pada awalnya, ‘Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya.



Musuh-musuh dakwah, tidak menyebut dakwah ini dengan sebutan Muhammadiyyah –terutama semenjak Muhammad, bukan ayahnya, ‘Abdul Wahhâb, memulai dakwah ini- karena dengan menyebutkan kata ini, Muhammad, mereka bisa mendapatkan simpati dan dukungan dakwah, ketimbang permusuhan dan penolakan.

Istilah “Wahhâbi”, dimaksudkan sebagai ejekan dan untuk meyakinkan kaum muslimin supaya tidak mengambil ilmu atau menerima dakwah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb, yang telah digelari oleh mereka sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang tidak mencintai Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Walaupun demikian, penggunaan istilah ini telah menjadi sinonim dengan seruan (dakwah) untuk berpegang al-Qur`ân dan as-Sunnah dan suatu indikasi memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap salaf, yang berdakwah untuk mentauhîdkan Allôh semata serta memerintahkan untuk mentaati semua perintah Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.

Hal ini adalah kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh dakwah. Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya ‘alaihim`us Salâm untuknya (untuk dakwah tauhîd ini).

Menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah’ ini, tidak akan menghentikan penyebaran dakwah ini ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pada kenyataannya, walaupun berada di tengah-tengah dunia barat, banyak kaum muslimin yang mempraktekkan Islam murni ini, yang mana Imâm Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb secara antusias mendakwahkannya dan menjadikannya sebagai misi dakwah beliau. Semua ini disebabkan karena tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan al-Qur`ân dan as-Sunnah, tidak peduli sekuat apapun seseorang itu.

Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan (tashfiyah) dan mendidik (tarbiyah) bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ‘ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”.

Imâm Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik.

======
Oleh: Jalâl Abŭ Alrub dan Alâ Mencke (ed.), Biography and Mission of Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb (Orlando, Florida: Madinah Publisher, 1424/2003), hal. 677-81.

Sumber: Disini

23 November 2009

Suara Hati Ibu dan Ayah..........., ANAKKU, AKU MENCINTAIMU

Anakku yang ku sayangi….

Pada suatu saat di kala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku

Jika banyak makanan yang tercecer di kala aku makan…
Jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri….sabarlah !


Jika aku mengulang hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku ! Dengarlah aku !
Ketika kau masih kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulanga-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur. Dan aku lakukan itu untukmu !

Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan bilang kepadaku bahwa itu memalukan.
Ingatlah berapa banyak pengertian yang ku berikan padamu menyuruhmu mandi di kala kecilmu.

By seeing my ignorance towards the new technologies, do not laugh of me but leave me rather the time to undeerstand

Aku mengajarimu banyak hal…..cara makan yang baik…cara berpakaian yang baik….berperilaku yang baik….bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan……

Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku,
karena yang penting bagiku adalah…..aku dapat bersamamu dan dapat berbicara denganmu

Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku !
Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tidak lapar.

Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya….
Bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu…….

Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup……, ketika aku ingin mati….jangan marah…., karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti !

Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar “hidup” lagi, namun kita juga “tidak mati”

Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.

Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usiaku yang sudah bertambah tua.

Kau harus ada di dekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang ku lakukan pada saat kau lahir.

Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran.
Satu hal yang membuatku harus berterima kasih padamu adalah senyum dan kecintaanmu padaku.

Aku mencintaimu anakku……
Ayahmu, Ibumu……

Selagi ada waktu, mari kita banggain kedua Orang Tua kita . Jangan pernah lelah meminta doa mereka, karena doa mereka lah yang akan mengawali kesuksesan kita. Dan juga jangan pernah bosan tuk selalu berdoa dan beristighfar untuk keduanya. Semoga kita sekeluarga bisa berkumpul kembali di jannah-Nya. Amin.

Afwan hanya ditampilkan kata-katanya, akan lebih bermakna bila dilengkapi dengan gambar-gambarnya (sayang tidak bisa).

وفي أنفسكم أفلا تبصرون..........

Setiap hari, Bermilyaran Nikmat yang Kita Dapatkan

Manusia diciptakan الله dengan keunikan yang luar bisaa. Menurut hasil penelitian ilmu kedokteran, jika seorang dewasa dengan bobot tubuh rata-rata, maka selama 24 jam ia memiliki kesibukan :

1. Jantung berdenyut 103.689 kali
2. Darah menempuh perjalanan 168.000.000 mil
3. Bernapas sebanyak 23.040 kali
4. menghirup udara sebanyak 483 meter kubik
5. Menelan 1,5 kg makanan
6. meminum 3,5 liter cairan
7. berkata-kata sebanyak 25.000 kata ( termasuk kata-kata yang tidak perlu di ucapkan)
8. Menggerakkan 750 otot
9. Rambut memanjang 0,94353 cm
10. Kuku bertumbuh 0,00012 cm
11. Sel otak sebanyak 7.000 terus bekerja.

Kita bisa membayangkan, bagaimana kalau seandainya kita dibebani Allah untuk membayar setiap kali jantung berdenyut, darah mengalir, bernafas, menghidup udara, menelan makanan, meminum cairan, berkata-kata, otot yang kita gerakkan, rambut yang memanjang, kuku bertumbuh dan sel otak yang bekerja? Berapakah yang harus kita bayar, setiap harinya?

Masihkan kita tidak bersyukur dan berterima kasih kepada Dzat yang Maha Kaya?

فَبِأَيِّ أَلَاءِرَبِّكُمَا تُكَذِّبَان
"Maka terhadap nikmat Rabb-Mu yang manakah yang kamu dustakan ?"

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba Mu yang senantiasa bersyukur. Amien....

20 Oktober 2009

Aku Mencintaimu Ibu :’(

Kenanglah Ibu yang menyayangimu…
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kita pergi…
Ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu…
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu..? Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit..?

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan. Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.

Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang.

Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut. Jangan biarkan engkau kehilangan saat yang akan kau rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada… Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita…
Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia…
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya.
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.
Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan…
Tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit…
Tak ada lagi dan tak ada lagi yang meneteskan air mata mendo’akanmu di setiap hembusan nafasnya…

Kembalilah segera… Peluklah ibu yang selalu menyayangimu… Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.
Sahabat… berdo’alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya.
Jangan biarkan engkau menyesal di masa datang, kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu… Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya…

Ibu… maafkan aku… Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas.

I love you mom,….

Sumber : HORMATI IBUMU (Great Video)
–ummu zalfa–

09 Oktober 2009

KATAKAN TIDAK PADA DORAEMON, SINCHAN, DRAGON BALL

Anak-anak ibarat "kertas putih" yang dapat dituliskan apa saja pada dirinya. Pada masa anak-anak, apa saja yang dilihat dan didengar dapat membekas di dalam sanubarinya yang masih polos, jika telah terukir di dalam hatinya, akan tergambar dan tersalurkan jika kelak mereka menjadi dewasa.

Tidak dipungkiri lagi, banyak beredar kisah-kisah menarik yang dikemas sedemikian rupa agar disukai anak-anak; kebanyakannya termasuk kisah-kisah fiktif yang dibumbui dengan cerita-cerita kebohongan, syirik, kebobrokan akhlaq, dan gambar bernyawa.

Walhasil, kita dapat melihat betapa banyak anak-anak muslim yang lebih mengenal tokoh-tokoh fiktif hasil produksi orang-orang kafir daripada mengenal tokoh-tokoh muslim, seperti para sahabat, dan ulama’ Salaf; betapa banyak anak-anak muslim yang menghafal cerita-cerita khurafat dibandingkan kisah-kisah penuh ibroh (pelajaran) yang telah diceritakan dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

Ketika anak-anak bergerombol di depan televisi tak ada satu orang tua pun yang bergeming dan prihatin sikap anak-anaknya. Padahal apabila kita perhatikan, maka nasib anak-anak kita berada dalam kondisi memprihatinkan. Bagaimana tidak, sementara film-film kartun tersebut mengajarkan kepada mereka pelanggaran-pelanggaran syariat Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

Tulisan yang ada di depan Anda ini akan membongkar kesesatan, dan penyimpangan beberapa film kartun yang paling populer di tengah-tengah masyarakat yang menyesatkan dan meninabobokkan cikal bakal umat ini.

* Doraemon si Boneka Ajaib

Konon kabarnya, Doraemon bisa pergi menjelajah di masa lalu dan di masa yang akan datang. Katanya, ia dapat mengadakan sesuatu yang belum ada menjadi ada dengan "kantong ajaibnya". Dalam kartun, ia digambarkan sebagai tempat untuk dimintai segala sesuatu yang ghaib oleh temannya. Lihatlah bagaiman film kartun tersebut betul-betul menyimpang dari aqidah.

Segala sesuatu telah ditetapkan waktu dan ajalnya oleh Allah -Ta’ala-. Makhluk tak mampu mengatur waktu, baik itu memajukannya atau mengundurkannya. Makhluk tak akan mampu menyebrang dari zaman kekinian menuju zaman lampau atau sebaliknya.

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya". (QS. Al-A’raaf: 34)

Kartun Doraemon telah mengajarkan aqidah (keyakinan) batil dalam benak anak-anak kita tentang adanya makhluk yang memiliki kemampuan yang menyamai Allah -Ta’ala- ; makhluk ini mampu mengadakan segala sesuatu yang belum ada menjadi ada. Padahal telah paten dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa tak ada makhluk yang mampu melakukan segala sesuatu yang ia kehendaki, karena itu semua ada dalam kekuasaan Allah; itu hanyalah sifat yang dimiliki Allah. Dia berfirman,

"Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (QS. Al-Baqoroh:253)

" Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki". (QS.Huud :107)

Tak terasa si Doraemon pun mengajari anak kecil untuk meminta dan berdoa kepada selain Allah dalam perkara yang tak mampu dilakukan oleh seorang makhluk, hanya bisa dilakukan oleh Allah -Ta’ala- . Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

"Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada seseorangpun di dalamnya di samping Allah". (QS. Al-Jin:18 ).

Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata, "Firman Allah ini adalah celaan bagi orang-orang musyrikin saat mereka berdoa kepada selain Allah di samping Allah di Masjidil Haram. Mujahid berkata, "Dulu orang-orang Yahudi dan Nashrani, jika masuk ke gereja, dan kuil mereka, maka mereka mempersekutukan Allah (dalam beribadah). Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya, dan kaum mukminin agar mereka memurnikan doanya hanya kepada Allah, jika mereka masuk ke semua masjid". [Lihat Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an (19/21)]

* Dragon Ball

Cerita ini dalam film ini banyak mengandung unsur kebatilan, seperti adanya penyembahan dewa-dewa seperti Dewa Emperor, Dewa Bumi, Dewa Gunung, Dewa Naga, dan lain-lain. Keyakinan ini seluruhnya berasal dari agama Budha, Hindu dan Shinto yang penuh dengan kebatilan dan kesesatan, sementara Allah hanyalah meridhoi Islam sebagai agama yang benar.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imron : 19)

Mufassir ulung, Al-Imam Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata, "Firman Allah -Ta’ala- tersebut merupakan pengabaran dari-Nya bahwa tak ada agama di sisi-Nya yang Dia terima dari seorang pun selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul dalam perkara yang mereka diutus oleh Allah dengannya dalam setiap zaman sampai mereka (para rasul itu) ditutup dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang telah menutup semua jalan menuju kepada-Nya, selain dari arah Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Barangsiapa yang setelah diutusnya Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menemui Allah dengan suatu agama yang tidak berdasarkan syari’atnya, maka agama itu tak akan diterima". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (1/471)]

Jadi, agama apapun selain Islam, seperti agama Buddha, Hindu, Shinto, dan lainnya, semuanya tak akan diterima oleh Allah, dan pelakunya akan merugi, karena kekafiran dirinya. Allah -Ta’ala- berfirman,



"Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS. Ali Imron: 85 )

Seorang Imam Ahli Tafsir, Abul Fadhl Mahmud Al-Alusiy-rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini, "Allah -Ta’ala- menjelaskan bahwa barangsiapa yang–setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memilih selain syari’at beliau, maka agama itu tak akan diterima darinya. Sedangkan diterimanya sesuatu adalah diridhoinya, dan diberikannya balasan bagi pelakunya atas perbuatan itu". [Lihat Ruh Al-Ma'aniy (3/215)]

Jika kita telah mengetahui kebatilan agama selain Islam, maka tak layak bagi kita dan anak-anak kita untuk berbangga, meniru, dan memuji orang-orang kafir itu, dan gaya hidup mereka, apalagi sampai memilih agama mereka sebagai pedoman hidup !! Jauhkanlah anak-anak kita dari orang-orang kafir, jangan sampai mereka bangga dengan orang-orang kafir. Bersihkanlah mulut dan telinga mereka dari istilah-istilah orang-orang kafir, dan paganisme dengan jalan membersihkan rumah kita dari benda pembawa petaka (televisi) yang berisi tayangan yang mendangkalkan, bahkan menghanguskan agama. Kita harus baro’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir, dan sembahan-sembahan mereka,

"Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja". (QS. Al-Mumtahanah: 04).

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar punya pendirian terhadap orang-orang kafir. Kita harus tegas dalam menampakkan keyakinan kita. Jangan malah kita yang bangga dan tertipu dengan kekafiran mereka, karena hanya sekedar kemajuan semu yang mereka capai di dunia ini. Allah -Ta’ala- berfirman,

"Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri-negeri". (QS.Ali Imran : 196).

Imam Para Ahli Tafsir, Abu Ja’far Ath-Thobariy-rahimahullah- berkata, "Allah -Ta’ala Dzikruh- melarang Nabi-Nya -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar jangan tertipu dengan bergerak (bebas)nya orang-orang kafir di negeri-negeri, dan penangguhan Allah bagi mereka, padahal mereka berbuat syirik, mengingkari nikmat-nikmat-Nya, dan beribadahnya mereka kepada selain-Nya". [Lihat Jami' Al-Bayan (3/557)]

Jadi, bebasnya mereka di muka bumi ini, dan majunya mereka dalam segala lini kehidupan jangan membuat kita tertipu dengan mereka, sehingga akhirnya tak lagi mengingkari kekafiran mereka, dan malah memilih sikap toleran bersama mereka dalam urusan agama (aqidah, ibadah, akhlaq, dan lainnya).

* Sincan (Simbol Anak Durhaka)

Sincan adalah anak yang sering mendurhakai kedua orang tuanya, dia suka berbohong, mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar kepada kedua orang tuanya, dan suka membuat orang tuanya marah dan jengkel. Jadi, jangan heran kalau banyak anak-anak yang meniru watak Sincan tersebut, karena telah terpengaruh oleh cerita kartun tersebut.

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". (QS. Al-Isroo’: 23 ).

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebutkan diantara dosa-dosa besar,

"Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua". Kemudian Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- duduk -sebelumnya bersandar- sambil bersabda, "Ingatlah, dan juga perkataan dusta". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2511), Muslim Shohih-nya (87), At-Tirmidziy Sunan-nya (1901), Ahmad Musnad-nya (20401)]

Abu Amr Ibnush Sholah-rahimahullah- berkata, "Mungkin bisa dikatakan, Taat kepada kedua orang tua adalah wajib dalam segala sesuatu yang bukan maksiat; menyelisihi perintah keduanya dalam hal itu adalah kedurhakaan". [Lihat Umdah Al-Qoriy (13/216)]

Jadi, termasuk dosa besar, jika seseorang mencela, membentak, merendahkan orang tuanya. Semua ini adalah bentuk-bentuk durhaka yang terlarang di dalam agama kita yang memiliki aturan yang amat sempurna !!

Inilah beberapa kesesatan film-film kartun tersebut. Namun kesalahan dan kesesatannya, sebenarnya masih banyak. Andaikan waktu dan tempat mencukupi, maka kami akan paparkan secara rinci sesuai tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah. Tapi sesuatu yang tak bisa dikerja dominannya, ya jangan ditinggalkan semuanya. Semoga pada waktu yang lain kami akan bahas kembali, Insya Allah.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 38 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

07 Oktober 2009

Syaikh Muqbil Keras Atas Terorisme, Usamah bin Ladin Cs. Syaefuddin Zuhri bukan muridnya !

Dalam sebuah pertemuan bersama ‘Allamatul Yaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, dalam surat kabar Ar-Ra’yul ‘Am Kuwait tertanggal 19 Desember 1998 edisi 11.503, beliau berkata :

“Aku berlepas diri di hadapan Allah dari (kesesatan) Bin Laden. Dia merupakan kejahatan dan musibah terhadap umat ini, dan aktivitasnya adalah aktivitas kejahatan.”

Dalam pertemuan yang sama, berkata seorang penanya :
"Kita dapati kaum muslimin selalu dihadapkan dengan tekanan-tekanan di negeri-negeri barat hanya dengan sebab adanya sebuah peledakan di mana saja terjadi di alam ini?“

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab :
“Saya mengetahui hal itu, dan saya telah dihubungi oleh beberapa ikhwan dari negeri Inggris yang mengeluhkan adanya tekanan-tekanan yang mereka alami. Mereka bertanya apakah boleh mengumumkan sikap berlepas diri mereka dari Usamah bin Laden. Maka aku menjawab :
Kami semua berlepas diri darinya dan aktivitas-aktivitasnya sejak jauh sebelum ini. Dan realita menyaksikan bahwa muslimin (yang hidup) di negeri-negeri barat tertekan dengan sebab adanya gerakan-gerakan yang diperankan oleh kelompok Al Ikhwanul Muslimun dan kelompok-kelompok yang lainnya. Wallahul Musta’an.“

Penanya tersebut berkata : “Tidakkah engkau memberikan nasehat kepada Usamah bin Laden?“

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab :
“Aku telah mengirim beberapa kritikan (kepada Usamah bin Laden), tetapi wallahu a’lam apakah nasehat-nasehat tersebut telah sampai kepadanya ataukah tidak. Telah datang kepadaku utusan dari mereka yang menawarkan bantuan pada kami untuk berda’wah. Namun setelah itu kami dikejutkan dengan sikap mereka yang mengirimkan sejumlah uang dan meminta kepada kami untuk membagikannya kepada para pimpinan qabilah untuk pembelian tank-tank dan senjata-senjata. Aku menolak tawaran mereka dan aku meminta kepada mereka untuk tidak datang lagi ke kediamanku. Kemudian aku jelaskan kepada mereka bahwa aktivitas kami adalah aktivitas da’wah saja. Dan tidak akan pernah kami ijinkan kepada murid-murid kami untuk melakukan kegiatan selain da’wah.”

-selesai dari Koran Ar Ra’yul ‘Am–

* * *
Asy-Syaikh Muqbil juga berkata dalam kitabnya Tuhfatul Mujib, hasil transkrip sebuah ceramah beliau tertanggal 18 Shafar 1417 H. dengan judul : “Di Balik Peristiwa Peledakan-peledakan di bumi Al Haramain” :
“…begitu pula adanya penyandaran perkara-perkara umat kepada orang-orang jahil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata :
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَ لَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتىَّ إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهًّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَ أَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dicabut dari qalbu-qalbu manusia. Akan tetapi Allah mencabutnya dengan mewafatkan para ‘ulama. Sehingga kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh, kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [HR. Al Bukhari & Muslim]

Seperti apa yang pernah dikatakan, bahwa sang ‘alim ini dia tidak mengetahui tentang realita umat sedikitpun, atau dijuluki dengan seorang ‘alim yang jumud, hal itu dalam rangka menjauhkan umat dari para ‘ulama tersebut, sebagaimana pernah dimuat dalam majalah “As Sunnah” [1]) –semestinya majalah tersebut diberi nama dengan majalah “Al Bid’ah“– yang telah nampak permusuhannya yang sangat besar terhadap ahlus sunnah sejak pecahnya perang teluk (th. 1990-1991 M).

Aku pun berkata, sesungguhnya kaum muslimin ketika mereka mulai meninggalkan sikap ruju’ (mengembalikan setiap permasalahan mereka) kepada para ‘ulama, akhirmya mereka tersesat. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
و إذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به، و لو ردوه إلى الرسول و إلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم و لو لا فضل الله عليكم و رحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا
Jika datang kepada mereka suatu berita tentang ketentraman atau ketakutan (kekacauan) mereka segera menyiarkannya/menyebarkannya. Seandainya mereka mau menyerahkan (jawaban) perkara tersebut kepada Rasul dan Ulil Amri (para ‘ulama) di tengah-tengah mereka, maka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan mengetahuinya dari mereka (yakni Rasul dan para ‘ulama). Kalaulah tidak karena karunia dan rahmat Allah pada kamu, tentu kamu mengikuti syaithan, kecuali sebagian kecil saja di antara kamu. [An Nisa : 83]

Yang dimaksud Ulil Amri pada ayat tersebut adalah para ‘ulama dan para umara’ (para penguasa) serta para ‘uqala (orang yang berakal jernih) yang shalih.
Begitu pula peristiwa yang terjadi pada masa Qarun, ketika dia keluar di hadapan kaumnya dengan menampilkan segala kekayaannya, maka orang-orang yang cinta dunia menyatakan :
يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون إنّه لذو حظّ عظيم * وقال الّذين أوتوا العلم ويلكم ثواب الله خير لمن آمن وعمل صالحًا ولا يلقّاها إلاّ الصّابرون
‘Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia (Qarun) benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. (Namun) ahlul ilmi berkata : ‘Kecelakaan yang besar bagimu, pahala yang Allah berikan adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala tersebut, kecuali oleh orang-orang yang sabar. [Al Qashash : 79-80]

Sementara para ‘ulama meletakkan semua perkara sesuai pada tempatnya masing-masing. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman :
وتلك الأمثال نضربها للنّاس وما يعقلها إلاّ العالمون
Dan itulah permisalan-permisalan yang Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. [Al ‘Ankabut : 43]

إنّ في ذلك لآيات للعالمين
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu. [Ar Rum : 22]

إنما يخشى الله من عباده العلماء
Sesungguhnya di antara hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ‘ulama. [Fathir : 28]

يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين أوتوا العلم درجات
Allah meninggikan orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat. [Al Mujadalah : 11]

Yang diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala para ‘ulama ataukah mereka para penyeru dan pelaku gerakan revolusi dan kudeta??! Telah disebutkan di dalam Shahih Al Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya :
مَتىَ السَّاعَةُ؟… فقال : إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
Kapan datangnya Hari Kiamat?
Beliau menjawab : “Jika setiap urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kedatangan Hari Kiamat tersebut.” [2])

Kebanyakan para pimpinan partai (kelompok-kelompok) adalah orang-orang jahil. Di antara contoh-contoh fitnah (yang menimpa kaum muslimin) adalah fitnah yang sudah hampir menguasai Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden, yang apabila datang seseorang mengatakan kepadanya : “Kami membutuhkan dana senilai 20 ribu Real Saudi untuk membangun sebuah masjid di suatu tempat tertentu.” Maka dia (Bin Laden) akan menjawab : “Kami tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dana tersebut. Insya Allah kami akan memberikan sebatas kemampuan kami.” Namun apabila dikatakan kepadanya : “Kami membutuhkan tank-tank dan senjata-senjata, dll.” (Serta merta) dia akan menjawab : “Silahkan ambil dana ini yang senilai 100 ribu Real Saudi (atau lebih) dan Insya Allah akan menyusul tambahan berikutnya.”

Asy-Syaikh Muqbil juga berkata di dalam kitab yang sama :
“…Lalu bagaimana pula dengan mereka-mereka yang telah membunuh 20 orang Amerika tetapi dengan itu mereka membikin takut penduduk negeri muslimin secara menyeluruh. Maka wajib bagi kita untuk membekali para pelajar dan para pemuda yang brutal dengan ilmu, dan didatangkan untuk mereka para ‘ulama yang akan membimbing mereka, seperti Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan yang semisalnya dari kalangan para ‘ulama yang mulia untuk menjelaskan kepada umat bahwasanya urusan agama ini tidak boleh diambil dari orang semisal Usamah bin Laden dan Al Mis’ari atau yang lainnya. Tetapi perkara agama ini harus diambil dari kalangan ‘ulama. …. Bahkan sesungguhnya umat ini masih sangat membutuhkan seribu ‘ulama semisal Asy-Syaikh Bin Baz, dan seribu ‘ulama lain semisal Asy-Syaikh Al-Albani.”

(Dari buku Mereka Adalah Teroris, Pustaka Qaulan Sadida, hal. 270 - 274/cet. II)
Benarkah Syaikh Muqbil Mengajarkan & Pro Terorisme ?

Benarkah Syaikh Muqbil pro terorisme, dan juga mengajarkan paham sesat tersebut kepada murid-muridnya?

Menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya kita mendapat verifikasi langsung dari para alumnus yang pernah belajar di Pesantren Syaikh Muqbil. Untuk itu di sini kami ketengahkan jawaban dari Ustadz Luqman.

Alumnus Pesantren Darul Hadits Dammaj yang belajar di sana sejak 1994 itu mengatakan, “Justru Syaikh Muqbil itu sangat dibenci oleh para teroris – khawarij. Karena memang beliau termasuk di antara ‘ulama yang gencar membantah paham terorisme – khawarij serta membongkar berbagai kerancuan dan dalih-dalih mereka,hal ini dapat diketahui dari berbagai pelajaran yang beliau sampaikan, serta berbagai ceramah dan karya tulis beliau. Hal ini mengakibatkan kebencian kaum teroris – khawarij kepada Syaikh Muqbil, sehingga telah dilakukan berkali-kali upaya pembunuhan terhadap beliau. Di antara yang saya ingat adalah kejadian pada akhir 90-an, upaya peledakan di kota ‘Adn, yang sengaja dilakukan oleh kaum teroris – khawarij di Yaman untuk membunuh beliau ketika berceramah di masjid jami’ kota tersebut. Namun dengan taqdir dan pertolongan Allah, beliau terselamatkan, sedangkan bom meledak dengan dahsyat sehingga membuat tubuh si teroris hancur berkeping-keping.”

Dakwah yang ditegakkan oleh Syaikh Muqbil adalah Dakwah Salafiyyah, yaitu dakwah yang ditegakkan di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan meniti jejak para salafush shalih (para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in). Demikian juga di pesantren beliau yang diajarkan adalah ilmu tafsir, hadits, fiqh, dan berbagai cabang ilmu agama lainnya dengan berdasarkan metode manhaj salafiyyah. Sama sekali tidak diajarkan terorisme. Bahkan justru beliau banyak membantah berbagai paham sesat yang ada, baik terorisme – khawarij, Syi’ah Rafidhah, Shufiyyah, Liberalisme, dan lainnya.

Demikian juga para murid syaikh Muqbil yang kini menjadi para ‘ulama besar di Yaman. Antara lain : di kota Al-Hudaidah ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, di Ma’bar ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, di Mafraqhubaisy ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i, di Shan’a ada Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shaumali, di Hadhramaut ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i, di ‘Aden ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i, demikian juga di desa Dzamar ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Adz-Dzamiri, dan lainnya, semuanya adalah para murid besar Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Untuk melihat kiprah mereka silakan kunjungi www.olamayemen.com .

Mereka semua mengajarkan manhaj salaf, ilmu yang benar, ketaatan kepada pemerintah muslim, mengajarkan kedamaian, kelembutan, kasih sayang. Di samping membantah berbagai aliran dan paham sesat, baik khawarij teroris, syi’ah rafidhah, liberalisme, shufi, dan sebagainya.

Demikian juga di Indonesia banyak para alumnus yang kini mereka sebagai para ustadz pengasuh pondok pesantren ahlus sunnah, antara lain : Ust. Muhammad Sarbini pengasuh PP. Minhajus Sunnah Muntilan - Magelang, Ust. Askari pengasuh PP. Ibnul Qayyim di Balikpapan, Ust. Abdush Shamad Pengasuh Ahlus Sunnah di Pemalang, Ust. Syafruddin Abu Ubaidah pengasuh PP. Darul Atsar Al-Islamy di Sorong, Ust. Abdul Jabbar dan Ust. ‘Abdul Haq pengasuh PP. Darus Sunnah Al-Khairiyyah di Bantul, Ust. ‘Abdurrahman Lombok pengasuh PP. Imam Syafi’i Sumbawa Besar, Ust. ‘Abdul Mu’thi pengasuh PP. Al-Anshor di Yogyakarta, Ust. Muslim pengasuh PP. Al-Furqan Kroya – Cilacap, Ust. Azhari pengasuh PP. Darul Mufassirin di Pangkep – Makassar, Ust. Fauzan pengasuh PP. Darus Salaf di Sragen, Ust. Idral Harits pengasuh PP. Darus Salaf di Solo, Ust. Ja’far Shalih pengasuh PP. Madrasah Salafiyah di Depok, Ust. Abu Hamzah Yusuf pengasuh PP. Adhwaus Salaf di Bandung, Ust. Adnan pengasuh PP. Ahlus Sunnah di Manado, Ust. Mahmud Pondok Pesantren Ahlus Sunnah di Purwakarta, dan masih banyak lagi lainnya yang belum disebutkan di sini.

Kiprah para ustadz tersebut sangat jelas. Mereka tampil mengibarkan Dakwah Salafiyyah di Indonesia, dan sangat nampak kebenciannya terhadap paham teroris khawarij, dan berbagai paham sesat lainnya. Bisa dilihat pada ceramah-ceramah mereka, karya tulis mereka, taklim-taklim mereka di pondok pesantren masing-masing, ataupun situs-situs internet mereka.

“Sehingga kalau pun benar pengakuan Syaifuddin bahwa dirinya pernah belajar ke Syaikh Muqbil, maka dia sendirilah yang nyleneh, menyelisihi murid-murid Syaikh Muqbil. Dia bukanlah murid sejati yang bisa mengambil manfaat dari ilmu yang diajarkan oleh Syaikh Muqbil. Justru dia tetap berada di atas kesesatan, walaupun telah sampai di tempat ilmu yang benar. Dengan demikian Syaifuddin telah merusak nama baik Syaikh Muqbil rahimahullah dan Pondok Pesantrennya.”, tandas Ustadz Luqman.

Ustadz Luqman juga menambahkan, "Tentunya kita masih ingat kisah Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri dengan muridnya yang bernama Washil bin 'Atho pada masa tabi'in. Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang tokoh besar ahlus sunnah, di majelisnya beliau senantiasa mengajarkan metode pemahaman ahlus sunnah. Murid-muridnya pun menerima dan berpegang kepada metode pemahaman ahlus sunnah sebagaimana diajarkan oleh gurunya. Namun si Washil bin Atho' adalah seorang murid yang telah bercokol di kepalanya paham sesat Mu'tazilah. Ia tidak bisa menerima pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Maka ia pun pergi meninggalkan majelis sang gurunya. Sehingga dengan itu segala penyimpangan paham Washil bin Atho' tidak boleh dikaitkan dengan imam besar Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah."

(Dikutip dari email al Ustadz Abu Amr Ahmad dan dimuat di http://www.merekaadalahteroris.com/m

06 Oktober 2009

ISTRI, OH ISTRI SHOLEHAH DIMANA MENCARINYA ????

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kadang jika kita hanya sekedar menyampaikan untaian nasehat, mungkin sebagian orang belum tersentuh. Namun tatkala dikemukakan sebuah kisah, barulah hati kita mulai tersentuh dan baru bisa menarik pelajaran. Semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.terutama untuk saya juga.

Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’I … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah lainya agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…
Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.
Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.
Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.
Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.
Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.
Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar, lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.
Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu. Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???

Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “TIDAK!! Aku TIDAK mau MENIKAHIMU! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak SETIA kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”
Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.


Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.
Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.
Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.

27 September 2009

detik ramadhan : DI BELANDA IDUL FITRI TAK DIKENAL

-Meskipun menjadi hari raya terpopuler kedua di Belanda setelah Natal, namun orang Belanda secara umum tidak kenal apa itu Idul Fitri. Mereka lebih mengenalnya sebagai Suikerfeest (Hari Raya atau Pesta Gula).

Bagaimana itu bisa terjadi? Karena pada hari itu orang-orang muslim merayakannya dengan suguhan serba manis, begitu jawaban standar orang-orang Belanda yang ditanyai detikcom.

'Orang muslim' dalam pengertian umum masyarakat Belanda langsung terasosiasi pada warga Turki atau Marokko. Oleh sebab itu tradisi mereka juga kuat melekat sebagai citra tradisi muslim. Bahwa ada muslim Belanda asli, etnik lain, atau muslim Indonesia (termasuk generasi pertama dari Maluku) yang punya tradisi sendiri, dengan kuliner didominasi rasa gurih, nampaknya tak bisa mengubah citra itu.

Kalau pada hari Idul Fitri anda bertamu ke orang Turki atau Maroko, suguhan yang dominan memang serba manis. Di antaranya kue chorida (Maroko), lokum, halva (camilan dengan wijen, gula, madu) dan baklava (Turki). Suguhan ini biasanya dikombinasi dengan kopi atau teh dengan daun mint segar.

Orang Turki sendiri di negara asal dalam bahasa ibu mereka punya penamaan sendiri untuk Idul Fitri, yakni Seker Bayrami (seker = gula, bayrami = hari raya atau pesta). Kuat dugaan dari nama Seker Bayrami dan tradisi camilan serba manis itulah terjadi proses morfologi kata Suikerfeest di kalangan orang Belanda dan penutur bahasa Belanda.

Sebaliknya orang Indonesia di Belanda agak kurang terbiasa dengan nama Suikerfeest ini. Lidah orang Indonesia lebih nyaman menyebutnya Idul Fitri atau lebaran. Oleh sebab itu tradisi ketupat sayur, opor ayam, rendang, gulai ikan, dan sejenisnya tetap tak tergeser atau latah dengan sajian serba manis. Selama Idul Fitri ragam kuliner top Nusantara itu tetap mendominasi meja makan keluarga muslim Indonesia di Belanda.

Orang Indonesia umumnya juga lebih kritis dan kurang sreg menggunakan nama Suikerfeest. Zaman dulu gula memang simbol kemakmuran dan kesejahteraan, tetapi kini persepsi kesehatan terhadap gula justru kurang menguntungkan. Selain itu nama Suikerfeest juga dinilai dapat memunculkan bias dari makna Idul Fitri sebenarnya.

17 September 2009

“AHLI TAFSIR” KOQ NYELENEH, TANYA MENGAPA ?

“Ahli Tafsir” Koq Nyelenah, Tanya Mengapa ?
Innalillahi wa innailaihi raji’un,
Ya Allah semoga hamba dipermudah untuk menulis apa yang menjadi benalu di hati hamba.
Malam ini seorang yang “katanya” Direktur Pusat Penelitian Al-Qur’an hadir di Metro TV dalam acara Save Our Nation. Walaupun saya merasa saya salah karena melihat acara ini.
Dari sekian banyak pertanyaan yang ditanyakan kepadanya ada beberapa yang masih ter save di nation jiwa saya, antara lain :
1. Pandangan beliau mengenai Jihad.
2. Pandangan beliau mengenai Kesetaraan Jender
3. Pandangan beliau mengenai perempuan menjadi pemimpin
4. Pandangan beliau mengenai Volly (maaf salah) Poligami
Saya rasa cukuplah ke empat pandangan tadi yang menjadi tolak ukur pandangan keagamaan yang bersangkutan.
“Ahli Tafsir” yang biasanya ngucapin “eeee” ketika berbicara ini mengatakan pandangannya mengenai Jihad. Jihad dalam “anfus” menurut beliau adalah mengeluarkan segenap potensi yang ada untuk melawan musuh Islam. Dan musuh Islam menurut beliau adalah kedzaliman, kemiskinan, penindasan, ketidak-adilan dan sebagainya. Dan tidak ada lagi, bahkan menurut beliau tidak boleh lagi Jihad didefenisikan dengan perang. Jelas, eeeee ini merupakan Tafsir Anda sendiri Ustadz.
Coba kita lihat artikel dari www.asysyariah.com ini :
Jihad adalah puncaknya keimanan. Kata Al-Jihad (الْجِهاَدُ) dengan dikasrah huruf jim asalnya secara bahasa bermakna (الْمَشَقَّةُ) yang bermakna kesulitan, kesukaran, kepayahan.
Sedangkan secara syar’i bermakna: “Mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir atau musuh.” (Lihat Fathul Bari, 6/5; Nailul Authar, 7/208; Asy-Syarhul Mumti’, 8/7)
Berikut beberapa ucapan Ulama Salaf dalam memaknai Al-Jihad.
- Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma berkata: “(Jihad adalah) mencurahkan kemampuan padanya dan tidak takut karena Allah terhadap celaan orang yang suka mencela.”
- Muqatil rahimahullah berkata: “Beramallah kalian karena Allah dengan amalan yang sebenar-benarnya dan beribadahlah kepada-Nya dengan ibadah yang sebenar-benarnya.”
- Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata:“(Jihad adalah) melawan diri sendiri dan hawa nafsu.” (Zaadul Ma’ad, 3/8)
Dalam tinjauan syariat Islam (pengertian secara umum), jihad juga diistilahkan kepada mujahadatun nafs (jihad melawan diri sendiri), mujahadatusy syaithan (jihad melawan syaithan), mujahadatul kufar (jihad melawan orang-orang kafir) dan mujahadatul munafikin (jihad melawan kaum munafik).
Disyariatkannya Jihad dan hukumnya
Dalam permasalahan jihad, pada dasarnya manusia terbagi dalam dua keadaan:
1. Keadaan mereka pada masa kenabian
2. Keadaan mereka setelah kenabian

Masa Kenabian
Para ulama sepakat bahwa disyariatkannya jihad pertama kali ialah setelah hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah. Setelah itu muncul perselisihan di antara mereka tentang hukumnya, fardhu ‘ain atau fardhu kifayah?
Di dalam Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ada dua pendapat yang masyhur di kalangan para ulama. (Pertama adalah pendapat dari) Al-Mawardi, dia berkata: “(Hukumnya) fardhu ‘ain bagi orang-orang Muhajirin saja, bukan selain mereka.” Pendapat ini dikuatkan dengan perkara tentang wajibnya hijrah atas setiap muslim ke Madinah dalam rangka menolong Islam. (Kemudian) As-Suhaili, dia berkata: “Fardhu ‘ain atas orang-orang Anshar saja, bukan selain mereka.” Pendapat ini dikuatkan dengan baiat para shahabat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam Al-Aqabah untuk melindungi dan menolong Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari dua pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain atas dua thaifah (kelompok, red. Yakni Muhajirin dan Anshar) dan fardhu kifayah atas selain mereka.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dan kalangan Asy-Syafi’iyyah sepaham dengannya lebih menguatkan pendapat yang menyatakan fardhu kifayah (bagi kalangan Muhajirin maupun Anshar-ed). Beliau berhujjah bahwa dalam peperangan yang terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ada para shahabat yang ikut dan ada pula yang tidak. Kemudian, walaupun jihad menjadi kewajiban atas orang-orang Muhajirin dan Anshar, namun kewajiban ini tidak secara mutlak.
Sebagian berpendapat, jihad (hukumnya) wajib ‘ain dalam peperangan yang di dalamnya ada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan bukan (wajib ‘ain) pada selainnya. Yang benar dalam hal ini ialah, jihad menjadi fardhu ‘ain bagi orang yang dipilih (ditunjuk) oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun ia tidak keluar ke medan tempur.

Masa setelah Kenabian
Pendapat yang masyhur di kalangan ahlul ilmi adalah fardhu kifayah, kecuali jika ada keadaan mendesak, seperti ada musuh yang datang dengan tiba-tiba. Ada pula yang berkata, fardhu ‘ain bagi yang ditunjuk oleh imam (penguasa). Sebagian juga berpendapat wajib selama memungkinkan, dan pendapat ini cukup kuat. Namun yang nampak dalam masalah ini adalah jihad terus-menerus berlangsung pada jaman kenabian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai sempurnanya perluasan (ekspansi) ke beberapa negara besar dan Islam menyebar di muka bumi, kemudian setelah itu hukumnya seperti yang telah dijelaskan di atas.
Kesimpulan dari masalah ini adalah, jihad melawan orang kafir menjadi kewajiban atas setiap muslim baik dengan tangan (kekuatan), lisan, harta atau dengan hatinya, wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/47; Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13/12)
Berikut beberapa ayat dan hadits yang menjelaskan tentang disyariatkannya jihad.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

انْفِرُوا خِفَافاً وَثِقاَلاً وَجاَهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau berat. Dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah.” (At-Taubah: 41)

يآأَيُّهاَ النَّبِيُّ جاَهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُناَفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

“Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (At-Taubah: 73)

وَجاَهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj: 78)

فَلاَ تُطِعِ الْكاَفِرِيْنَ وَجاَهِدْهُمْ بِهِ جِهاَداً كَبِيْراًً

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.” (Al-Furqan: 52)

يآأَيُّهاَ النَّبِيُّ جاَهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُناَفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (At-Tahrim: 9)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata pada Yaumul Fath (Fathu Makkah): “Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, akan tetapi yang ada ialah jihad dan niat. Dan apabila kalian diminta untuk pergi atau berangkat berperang maka pergilah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Hafidz rahimahullah berkata: “Pada hadits ini terdapat berita gembira bahwa kota Mekkah akan tetap menjadi negeri Islam selamanya. Di dalamnya juga terdapat dalil tentang fardhu ‘ainnya keluar dalam perang (jihad) bagi orang yang dipilih oleh imam.” (Fathul Bari, 6/49)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Apabila imam (penguasa) memerintahkan kepada kalian untuk berjihad, maka keluarlah. Hal ini menunjukkan bahwa jihad bukanlah fardhu ‘ain, akan tetapi fardhu kifayah. Apabila sebagian telah menunaikannya, gugurlah kewajiban yang lain. Dan jika tidak ada yang melakukannya sama sekali, berdosalah mereka. Dari kalangan Asy-Syafi’iyyah berpendapat tentang jihad di masa sekarang hukumnya fardhu kifayah, kecuali jika orang-orang kafir menyerang negeri kaum muslimin, maka jihad menjadi fardhu ‘ain atas mereka. Dan jika mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup, wajib bagi negeri yang bersebelahan untuk membantunya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 12/11-12)
Setelah diketahui bahwa pendapat yang masyhur di kalangan ahlul ilmi tentang hukum jihad pada masa setelah kenabian adalah fardhu kifayah, berikut adalah beberapa keadaan yang menjadikan hukum tersebut berubah menjadi fardhu ‘ain, di mana sebagiannya telah disebut di atas:
1. Apabila bertemu dengan musuh yang sedang menyerang. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا إِذاَ لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا زَحْفاً فَلاَ تُوَلُّوْهُمُ اْلأَدْباَرَ. وَمَنْ يٌوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلاَّ مُتَحَرِّفاً لِقِتاَلٍ أَوْ مُتَحَيِّزاً إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 15-16)
Ayat ini menjelaskan tentang tidak bolehnya seseorang mundur atau berpaling dari menghadapi musuh. Karena yang demikian termasuk perkara terlarang dan tergolong dalam perkara yang membawa kepada kehancuran/ kebinasaan sehingga wajib untuk dijauhi. Sebagaimana yang disebut dalam sebuah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran atau kebinasaan.” Para shahabat bertanya: “Apakah ketujuh perkara itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot/ berpaling (desersi) dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina kepada wanita yang terjaga dari perbuatan dosa, tidak tahu-menahu dengannya (yakni dengan perbuatan zina tersebut-ed) dan (ia adalah wanita yang-ed) beriman kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dua hal yang diperbolehkan bagi seseorang untuk berpaling (mundur) ketika bertemu dengan musuh:
a. Berpaling dalam rangka mendatangkan kekuatan yang lebih besar atau siasat perang.
b. Berpaling dalam rangka menggabungkan diri dengan pasukan lain untuk menghimpun kekuatan.

2. Apabila negerinya dikepung oleh musuh. (Dalam keadaan ini) wajib atas penduduk negeri tersebut untuk mempertahankan negerinya. Keadaan ini serupa dengan orang yang berada di barisan peperangan. Sebab apabila musuh telah mengepung suatu negeri, tidak ada jalan lain bagi penduduknya kecuali untuk membela dan mempertahankannya. Dalam hal ini musuh juga akan menahan penduduk negeri tersebut untuk keluar dan mencegah masuknya bantuan baik berupa personil, makanan dan yang lainnya. Karena itu wajib atas penduduk negeri untuk berperang melawan musuh sebagai bentuk pembelaan terhadap negerinya.
3. Apabila diperintah oleh imam. Apabila seseorang diperintah oleh imam untuk berjihad, hendaknya ia mentaatinya. Imam dalam hal ini ialah pemimpin tertinggi negara dan tidak disyaratkan ia sebagai imam secara umum bagi kaum muslimin semuanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا ماَ لَكُمْ إِذاَ قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيْلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيْتُمْ بِالْحَياَةِ الدُّنْياَ مِنَ اْلآخِرَةِ فَماَ مَتاَعُ الْحَياَةِ الدُّنْياَ فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ. إِلاَّ تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيْماً وَيَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوْهُ شَيْئاً وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini di bandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan diganti-Nya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah: 38-39)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha dan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian diminta untuk berangkat berperang, maka berangkatlah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
4. Apabila diperlukan atau dibutuhkan.
Misal dalam hal ini, kaum muslimin memiliki senjata berat seperti artileri, pesawat, atau teknologi tempur lainnya, namun tidak ada yang mampu mengoperasikannya kecuali seseorang. Maka menjadi fardhu ‘ain atas orang tersebut dengan sebab ia dibutuhkan.
Kesimpulan dari penjelasan di atas, jihad menjadi fardhu ‘ain pada empat perkara:
1. Apabila bertemu dengan musuh
2. Apabila negerinya dikepung musuh
3. Apabila diperintah oleh imam
4. Apabila diperlukan atau dibutuhkan
Pembagian Jihad
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah membagi jihad menjadi tiga:
1. Jihadun Nafs, yaitu menundukkan jiwa dan menentangnya dalam bermaksiat kepada Allah. Berusaha menundukkan jiwa untuk selalu berada di atas ketaatan kepada Allah dan melawan seruan untuk bermaksiat kepada Allah. Jihad yang seperti ini tentunya akan terasa sangat berat bagi manusia, lebih-lebih saat mereka tinggal di lingkungan yang tidak baik. Karena lingkungan yang tidak baik akan melemahkan jiwa dan mengakibatkan manusia jatuh ke dalam perbuatan yang diharamkan Allah, juga meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya.
2. Jihadul Munafiqin, yaitu melawan orang-orang munafiq dengan ilmu dan bukan dengan senjata. Karena orang-orang munafiq tidak diperangi dengan senjata. Para shahabat pernah meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membunuh orang-orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya, kemudian beliau bersabda: “Jangan, supaya tidak terjadi pembicaraan oleh orang, bahwa Muhammad membunuh sahabatnya.” (HR. Muslim, dari shahabat Jabir radhiallahu 'anhu)
Jihad melawan mereka adalah dengan ilmu. Oleh karena itu wajib atas kita semua untuk mempersenjatai diri dengan ilmu di hadapan orang-orang munafiq yang senantiasa mendatangkan syubhat terhadap agama Allah untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah. Jika pada diri manusia tidak ada ilmu, maka syubhat, syahwat, dan perkara bid’ah yang datang terus-menerus (akan bisa merusak dirinya), sementara ia tidak mampu menolak dan membantahnya.
3. Jihadul Kuffar, yaitu memerangi orang-orang kafir yang menentang, yang memerangi kaum muslimin, dan yang terang-terangan menyatakan kekafirannya, (dan jihad ini dilakukan) dengan senjata. (Asy-Syarhul Mumti’, 8/7-8)
Ibnul Qayyim rahimahullah membagi jihad menjadi empat bagian:
1. Jihadun Nafs (Jihad melawan diri sendiri)
2. Jihadusy Syaithan (Jihad melawan syaithan)
3. Jihadul Kuffar (Jihad melawan kaum kuffar)
4. Jihadul Munafiqin (Jihad menghadapi kaum munafiqin)
Setiap bagian di atas, masing-masing memiliki tingkatan-tingkatan. Jihadun Nafs memiliki empat tingkatan:
a. Berjihad melawan diri sendiri dengan cara mempelajari kebenaran dan agama yang hak, di mana tidak ada kebahagiaan dan kemenangan dunia dan akhirat kecuali dengannya, dan bila terluputkan darinya akan mengakibatkan sengsara.
b. Berjihad melawan diri sendiri dengan mengamalkan ilmu yang dipelajari. Karena jika hanya sekedar ilmu tanpa amal, akan memberi mudharat kepada jiwa atau tidak akan ada manfaat baginya.
c. Berjihad melawan diri sendiri dengan mendakwahkan ilmu yang telah dipelajari dan diamalkannya, mengajarkan kepada orang yang belum mengetahui. Jika tidak demikian, ia akan tergolong ke dalam orang-orang yang menyembunyikan petunjuk dan penjelasan yang telah Allah turunkan. Dan ilmunya tidaklah bermanfaat serta tidak menyelamatkannya dari adzab Allah Subhanahu wa Ta'ala.
d. Berjihad melawan diri sendiri dengan bersikap sabar ketika mendapatkan ujian dan cobaan, baik saat belajar agama, beramal dan berdakwah. Barangsiapa telah menyempurnakan empat tingkatan ini, ia akan tegolong orang-orang yang Rabbani (pendidik). Karena para ulama Salaf sepakat bahwa seorang alim tidak berhak diberi gelar sebagai ulama yang Rabbani, sampai ia mengetahui Al-Haq, mengamalkan serta mengajarkannya. Barangsiapa yang berilmu, mengamalkan dan mengajarkannya, ia akan diagungkan di hadapan para malaikat yang berada di langit.
Dalil yang menjelaskan tentang jihadun nafs ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Fudhalah bin ‘Ubaid, beliau bersabda bersabda:
“Yang disebut mujahid adalah orang yang berjihad melawan (menundukkan) dirinya sendiri di jalan Allah.” (HR. Ahmad dan yang lain, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab Ash-Shahihul Musnad (2/156) dan kitab Al-Jami’ Ash-Shahih (3/184).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Ketika jihad melawan musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berada di luar diri sendiri (syaithan, kaum kuffar, dan munafikin) merupakan cabang dari jihad seorang hamba untuk menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka jihadun nafs lebih diutamakan daripada jihad lainnya. Karena barangsiapa yang tidak mengawali dalam berjihad melawan diri sendiri dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta memerangi diri sendiri di jalan Allah, tidak mungkin baginya untuk dapat berjihad melawan musuh yang datang dari luar. Bagaimana dia mampu berjihad melawan musuh dari luar, sementara musuh yang datang dari dirinya sendiri dapat menguasai dan mengalahkannya?”
Jihadusy Syaithan, ada dua tingkatan:
a. Berjihad untuk menghalau segala sesuatu yang dilontarkan oleh syaithan kepada manusia berupa syubhat dan keraguan yang dapat membahayakan perkara iman.
b. Berjihad untuk menghalau segala apa yang dilemparkan syaithan berupa kehendak buruk dan syahwat. Dari dua tingkatan ini, untuk tingkatan pertama barangsiapa yang mampu mengerjakannya akan membuahkan keyakinan. Dan tingkatan yang kedua akan membuahkan kesabaran.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَجَعَلْناَ مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِناَ لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآياَتِناَ يُوْقِنُوْنَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimipin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah: 24)
Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan bahwa kepemimpinan dalam agama hanya akan diperoleh dengan kesabaran dan keyakinan. Sabar akan menolak syahwat dan kehendak buruk, adapun keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.
Dalil yang menjelaskan tentang jihadusy syaithan, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ الشَّيْطاَنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Perintah Allah dalam ayat ini agar menjadikan syaithan sebagai musuh, menjadi peringatan akan adanya keharusan mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi syaithan, berjihad melawannya. Karena syaithan itu bagaikan musuh yang tidak mengenal putus asa, lesu, dan lemah dalam memerangi dan menggoda seorang hamba dalam selang beberapa nafas.” (Zaadul Ma’ad, 3/6)
Jihadul Kuffar wal Munafiqin ada empat tingkatan:
a. Berjihad dengan hati
b. Berjihad dengan lisan
c. Berjihad dengan harta
d. Berjihad dengan jiwa
Dalil yang menjelaskan tentang bagian ketiga dan keempat ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

يآأَيُّهاَ النَّبِيُّ جاَهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُناَفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

“Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (At-Taubah: 73)
Jihad melawan kaum kuffar lebih dikhususkan dengan tangan (kekuatan), sedangkan melawan kaum munafiq lebih dikhususkan dengan lisan.
Bagian berikutnya, adalah jihad melawan kedzaliman, bid’ah, dan kemungkaran. Terdapat tiga tingkatan:
a. Berjihad dengan tangan apabila mampu, jika tidak maka berpindah kepada yang berikutnya
b. Berjihad dengan lisan, jika tidak mampu berpindah kepada yang berikutnya
c. Berjihad dengan hati
Dalil yang menjelaskan tentang bagian akhir ini adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran hendaknya ia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hati. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari semua tingkatan dalam jihad yang tersebut di atas, terkumpullah tiga belas tingkatan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
“Barangsiapa yang meninggal dan belum berperang serta tidak pernah terbersit (cita-cita untuk berperang) dalam dirinya, (maka ia) meninggal di atas satu bagian dari nifaq.” (HR. Muslim)
Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, tidak sempurna jihad seseorang kecuali dengan hijrah. Dan tidak akan ada hijrah dan jihad kecuali dengan iman. Orang-orang yang mengharap rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka adalah yang mampu menegakkan tiga hal tersebut, yaitu iman, hijrah, dan jihad.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَةَ اللهِ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharap rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 218)
Sebagaimana iman merupakan kewajiban atas setiap orang, maka wajib atasnya pula untuk melakukan dua hijrah pada setiap waktunya, yaitu hijrah kepada Allah dengan (amalan) tauhid, ikhlas, inabah, tawakkal, khauf, raja’, mahabbah dan hijrah kepada Rasul-Nya dengan (amalan) mutaba’ah, menjalankan perintahnya, membenarkan segala berita yang datang darinya, dan mengedepankan perkara dan berita yang datang dari beliau atas selainnya.
Manusia yang paling sempurna di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala ialah yang menyempurnakan seluruh tingkatan jihad di atas. Mereka berbeda-beda tingkatannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, sesuai dengan penempatan diri mereka terhadap tingkatan jihad tersebut. Oleh karena itu, manusia yang paling sempurna dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah penutup para Nabi dan Rasul, yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena beliau telah menyempurnakan seluruh tingkatan jihad yang ada dan beliau telah berjihad dengan jihad yang sebenar-benarnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melakukan jihad sejak awal diutus hingga wafatnya, baik dengan tangan, lisan dan hati serta hartanya. (Zaadul Ma’ad, 3/9-11)
Wallahu a’lam.

1 Isyarat kepada hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari shahabat Mu’adz bin Jabal radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok pangkal dari semua urusan, tiangnya dan puncaknya yang tertinggi?” Aku berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Pokok pangkal dari urusan ini adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya yang tertinggi adalah jihad.” (HR. At-Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits hasan shahih.”)
Lalu bagimana bila hal ini kita pilih dengan pendapat beliau yang mengatakan jihad untuk melawan orang kafir itu tidak ada ? Na’udzubillah ya Ustadz bertaubatlah dan takutlah kepada Allah. Karena apa yang anda katakan didengar orang banyak dan banyak pula yang mengikutinya.
Pendapat nyeleneh yang kedua, sang “ahli tafsir” ini mengatakan bahwa pria dan wanita setara dalam segala hal. Baik itu pekerjaan, hobby, cita-cita, penampilan, pergaulan, bla dan bla-bla-bla. Ini juga bersinggungan dengan pendapatnya yang ketiga yang mengatakan bahwa perempuan boleh jadi pemimpin kapanpun dan sebagai apapun. Baik itu sebagai Gubernur, Bupati, bahkan Presiden. Dan yang lebih mengganaskan lagi beliau menafsirkan al-Qur’an saena udele dewe. Lihat bagaimana dia menafsirkan Surat annisa ayat 34 yang berbunyi :

34. kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
[289] Maksudnya: tidak Berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290] Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291] Nusyuz: Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Dia menafsirkan kata laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita bahwa yang dimaksud disini adalah suami itu pemimpin atas istri. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un….!!!!
Dia membatasi kata pemimpin itu hanya sebatas hubungan dalam rumah tangga, padahal sudah jelas bahwa semua hal mencakup bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Coba kita lihat bagaimana Ahli Hadits yang Sangat Terkenal Menafsirkan ayat ini, beliau adalah al-Imam al-‘Allamah Syaikh Ibnu Katsir yang terkenal dengan Tafsir Ibnu Katsirnya. Beliau mentafsirkan ayat ini dengan :
Maksud dari ayat diatas adalah laki-laki adalah yang menegakkan (menanggung jawab) kaum wanita, dalam arti pemimpin, kepala, hakim, dan pendidik para wanita ketika mereka menyimpang, dan laki-laki itu lebih utama daripada wanita, dan lebih baik dari mereka. Karena itu pulalah kenabian dikhususkan untuk kaum laki-laki begitu pula pemimpin Negara, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam “tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita (sebagai pemimpin) dalam urusan mereka (hadits riwayat Bukhori no 4425)
Lalu bagaimana lagi sang “ahli tafsir” ini bisa dibenarkan pendapatnya ???? yang pertama dia sudah menyelisihi pendapat ahli tafsir yang sudah diakui dunia dan seluruh ulama dalam menafsirkan ayat, yang kedua dia menafsirkan ayat dengan pendapatnya sendiri, lihat al-Imam al-‘Allamah Syaikh Ibnu Katsir yang menafsirkan ayat dengan hadits, yang ketiga bagaiman mungkin perempuan bisa memimpin sementara Rasul telah mengancam umatnya untuk tidak mengangkat perempuan sebagai pemimpin. Maka pendapat mana yang lebih haq ? sang “ahli tafsir” inikah atau Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saya rasa anak kecil saja tau jawabannya…!!!
Adapun pendapatnya yang keempat, cukuplah kita membaca Majalah As-Sunnah edisi 12/X/1428H/2007M. Kalau mau membaca silahkan hubungi bagian pemasarannya di 08121533647.
Dan berikut saya kutip dari http://www.abusulthon.com/2009/03/poligami-melindungi-wanita/
Poligami Melindungi Wanita
By abusulthon pada 18 Maret 2009
oleh Abu Syifa’
Menciptakan kemanfaatan sebesar-besarnya dan menepis bahaya, kendatipun kecil, itulah spirit yang menetap pada setiap aturan islam. Tidak ada satupun ketetapan hukum Illahi yang berimplikasikan buruk bagi umat manusia. Semua mengandung kemaslahatan demi kemaslahatan. Termasuk juga bolehnya melakukan poligami bagi kaum laki-laki, sama sekali tidak menimbulkan ekses negatif pada diri wanita. Justru poligami memberikan aspek positif pada mereka.
Oleh karena itu, poligami tidak perlu di takuti, apalagi sampai antipati. Sebelum islam datang, poligami sudah ada dan merupakan sesuatu yang wajar, bahkan di lingkungan kerajaan di negeri ini pada masa lalu. Tak sedikit para raja yang memiliki isteri lebih dari satu, bahkan mungkin tidak terhitung. Begitu pula yang terjadi pada masa jahilayah. Seorang laki-laki bisa memiliki isteri bisa lebih dari sepuluh, bahkan lebih. Yang lebih mengenaskan, seolah wanita diperlakukan layaknya barang, yang bisa di pindah kepemilikannya.
Kemudian islam datang dengan membawa pencerahan, mengoreksi kebiasaan buruk tersebut. Tidak lain ialah untuk “memanusiakan wanita”, yang keberadaannya tertindas. Tidak memiliki hak sebagai manusia merdeka. Islam datang untuk mengangkat derajat wanita setinggi-tingginya, memuliakannya, menjaga kehormatannya, dan memjauhkan mereka dari tempat yang hina. Nabi Sholallahu alaihi wasallam bersabda :
“Berwasiatlah kalian (kepada orang lain) untuk berbuat baik kepada wanita. (HR. Bukhari)
Data statistik dibanyak negara mengindikasikan kuantitas wanita melebihi kaum adam, jika sensus ini benar, sedang pernikahan di bolehkan hanya satu wanita, lantas bagaimana wanita-wanita yang belum bertemu jodohnya mencari perlindungan, keamanan, memenuhi kebutuhannya, dan menjaga kehormatannya ?
Tentu, siapapun tidak ingin menghabiskan hari-harinya sendirian. Ini sebuah permasalahan sosial. Meski para wanita ini dipaksa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, kemungkinan menjadi bumerang bagi keamanan dan kehormatannya.
Jika mau jujur, hidup sendiri tanpa pasangan resmi, bak orang yang berjalan dengan pincang, penuh resiko. Gelar berjejer, status sosial tinggi, atau seabreg kesibukan dalam karir, tidak mengobati kesendirian seorang wanita yang mendambakan kehadiran seorang lelaki. Dan demikian ini adalah fitrah bagi wanita. Mereka membutuhkan tempat bernaung yang bisa melindungi, membimbing, mencurahkan kata hatinya dan memdapatkan kasih sayang. Bahkan untuk mengobati kerinduannya di panggil ibu oleh anak-anaknya.
Dalam kontek ini, kemaslahatan poligami yang di dapatkan wanita lebih besar di bandingkan lelaki yang menjalankan poligami, sebagaimana telah di ungkapkan oleh Syaikh sholih al Fauzan saat di tanya mengenai solusi penanganan banyaknya jumlah wanita yang belum menikah. (lihat al muntaqa, 3/168). Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini termasuk asasi.
Ironisnya, meski mengetahui kemaslahatan poligami, tak kurang penentang poligami seolah selalu menutup mata terhadap keindahan yang terkandung dalam syari’at islam ini. Dengan berbagai alasan, propaganda penolakan di dengungkan dimana-mana, media massa, mimbar-mimbar bahkan di politisasi. Seolah poligami adalah buruk, sedangkan perzinaan sesuatu yang baik. Begitu pula para wanita, tidak sedikit yang merasa berat suaminya melakukan poligami, tetapi tak merasa terganggu jika suaminya melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Naudzubillah.
Padahal jika di telusuri secara mendalam, perzinaan telah menimbulkan keresahan. Dampak sosialnya sangat mahal di bayar. Perzinaan sangat meresahkan masyarakat, merancukan nasab, dan yang telah terjadi perzinaan telah memberikan saham sejumlah penyakit menular, sejak dikenal dengan spilis, raja singa hingga masa sekarang ini muncul Aids. Jadi, perzinaan sangat tidak menguntungkan bagi wanita.
Begitu pula dengan “wanita simpanan”, hakikatnya telah mempecundangi harkat dan martabat wanita. Dia tidak mendapat perlindungan, tetapi justru sekedar di jadikan pemuas nafsu belaka. Di hadapan hukum, bila terjadi kematian pasangan selingkuhnya, tidak ada pasal-pasal yang menguatkan posisinya. Ketidakpastian, lilitan dosa dan penyesalan akan mendera dan menghiasi hari-harinya.
Jadi jika kita mengupas poligami, sangat banyak maslahatnya dan faedah yang bisa di petik. Bahwa poligami itu indah, karena ia melindungi wanita.
Allahu A’lam.

Sedikit mencoba menegaskan bahwa poligami itu mengangkat derajat wanita. Kita misalkan ada seorang Bos Perusahaan yang mempunyai simpanan, lalu simpanan ini berjumpa dengan teman-teman si Bos ketika dia dan si Bos sedang berduaan. Apa kira-kira yang akan dijawab si Bos ketika temannya bertanya “ini siapa bos ?” Yakin dan percayalah dia pasti menjawab “eeeee…… rekan bisnis” atau mungkin “eeee….sepupu”
Lalu coba kita bandingkan dengan seseorang yang mempunyai istri dua. Ketika dia jalan dengan istri pertama dan berjumpa temannya lalu ditanya “ini Siapa ?” pastilah dia jawab “o.. pastinya ini istri saya!!!” lalu bila berjumpa dengan temannya yang tadi juga dalam keadaan si poligamer ini sedang jalan dengan istri kedua lalu ditanya “ini siapa lagi ?” dengan bangganya dia pasti akan menjawab “kalau ini istri saya yang satu lagi” MANTAB !!!
Saya coba memberi satu pertanyaan bagi wanita (yang jawab hanya wanita lho) mana lebih mulia dibilang rekan bisnis (padahal simpanan) dari pada istri kedua……????? Silahkan beri komen untuk jawaban.
Akhirnya saya hanya dapat berdoa semoga kita dan sang “ahli tafsir” dapat kembali kejalan yang Allah RasulNya tuntukan….
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.