bismillahirrahmanirrahim
Download rekamannya ada sini (klik)
Maaf bila diri terlalu jauh dan bersalah
ampun bila maaf itu tidak cukup.
jangan salahkan orang lain atas kesalahan diri sendiri
sungguh aku tak pernah memburukkan dirimu pada orang lain
walau kutahu kau telah menburukkan ku pada orang lain.
kecil, pendek, batak dan semua yang telah kau katakan
pada siapa pun itu
akan ku tuntut dunia akhirat hinaan itu.
ingat hidup bisa saja masih panjang.
apa yang terjadi bila semua kejelekan itu mengalir pada darah keturunanmu.
yang ku minta hanya maaf dari mu atas semua ucapan mu pada teman dan rekanmu
yang telah menjatuhkan diriku dan menghinakanku.
Dashed
I do not understand what I think
longing that never an ever so badly
I love you more than you know
should you just never know
I already gave my love to you
I have sacrificed myself to you
but you're still dumb silent
and my little heart talk
I realize my love unrequited
you make my heart broken all
hopefully time will inspire your heart is frozen
hopefully a miracle will come to the end you also want
I love you more than you know
should you just never know
Tampilkan postingan dengan label adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adab. Tampilkan semua postingan
05 April 2011
03 Desember 2009
Peringatan: Cadar, Celana Ngatung dan Janggut bukan Ciri-ciri Teroris
Ketahuilah wahai kaum Muslimin, menggunakan cadar bagi wanita muslimah, mengangkat celana jangan sampai menutupi mata kaki dan membiarkan janggut tumbuh bagi seorang laki-laki Muslim adalah kewajiban agama dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan terorisme, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti bukti-buktinya insya Allah dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta penjelasan para Ulama ummat.
Benar bahwa sebagian Teroris juga mengamalkan kewajiban-kewajiban di atas, namun apakah setiap yang mengamalkannya dituduh Teroris?! Kalau begitu bersiaplah menjadi bangsa yang teramat dangkal pemahamannya… Maka inilah keterangan ringkas yang insya Allah dapat meluruskan kesalah pahaman.
Pertama: Dasar kewajiban menggunakan cadar bagi Muslimah
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Perhatikanlah, ayat ini memerintahkan para wanita untuk menutup seluruh tubuh mereka tanpa kecuali. Berkata As-Suyuthi rahimahullah, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasatul Fadhilah, hal. 51, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah).
Istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang mulia: ‘Aisyah radhiyallahu’anha dan para wanita di zamannya juga menggunakan cadar, sebagaimana penuturan ‘Aisyah radhiyallahu’anha berikut:
“Para pengendara (laki-laki) melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka telah dekat kepada kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).
Kedua: Dasar kewajiban mengangkat celana, jangan sampai menutupi mata kaki bagi laki-laki Muslim
Banyak sekali dalil yang melarang isbal (memanjangkan pakaian sampai menutupi mata kaki), diantaranya sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu:
“Bagian kain sarung yang terletak di bawah kedua mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Al-Bukhori, no. 5787).
Dan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha:
“Bagian kain sarung yang terletak di bawah mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Ahmad, 6/59,257).
Ketiga: Dasar kewajiban membiarkan janggut tumbuh bagi laki-laki Muslim
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan janggut.” (HR. Muslim no. 624).
Juga dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Berbedalah dengan orang-orang musyrik; potonglah kumis dan biarkanlah janggut.” (HR. Muslim no. 625).
Dan masih banyak hadits lain yang menunjukkan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk membiarkan janggut tumbuh, sedang perintah hukum asalnya adalah wajib sepanjang tidak ada dalil yang memalingkannya dari hukum asal.
Demikianlah penjelasan ringkas dari kami, semoga setelah mengetahui ini kita lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi orang-orang yang mengamalkan sejumlah kewajiban di atas. Tentu sangat tidak bijaksana apabila kita mengeneralisir setiap orang yang nampak kesungguhannya dalam menjalankan agama sebagai teroris atau bagian dari jaringan teroris, bahkan minimal ada dua resiko berbahaya apabila seorang mencela dan membenci satu kewajiban agama atau membenci orang-orang yang mengamalkannya (disebabkan karena amalan tersebut):
Pertama: Berbuat zhalim kepada wali-wali Allah, sebab wali-wali Allah adalah orang-orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik perintah itu wajib maupun sunnah. Dan barangsiapa yang memusuhi wali Allah dia akan mendapatkan kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Yunus: 62-63)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah sampai Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Kalau dia meminta kepada-Ku pasti akan Aku beri. Dan kalau dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti akan Aku lindungi.’.” (HR. Bukhari, lihat hadits Arba’in ke-38).
Faidah: Para Ulama menjelasakan bahwa makna, “Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah” adalah hidayah dari Allah Ta’ala kepada wali-Nya, sehingga ia tidak mendengar kecuali yang diridhai Allah, tidak melihat kepada apa yang diharamkan Allah dan tidak menggunakan kaki dan tangannya kecuali untuk melakukan kebaikan.
Kedua: Perbuatan tersebut bisa menyebabkan kekafiran, sebab mencela dan membenci satu bagian dari syari’at Allah Jalla wa ‘Ala, baik yang wajib maupun yang sunnah, atau membenci pelakunya (disebabkan karena syari’at yang dia amalkan) merupakan kekafiran kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pada pembatal keislaman yang kelima:
“Barangsiapa membenci suatu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Yang demikian karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (Muhammad: 9)
Maka berhati-hatilah wahai kaum Muslimin.
Dan kepada Ikhwan dan Akhwat yang telah diberikan hidayah oleh Allah untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban di atas hendaklah bersabar dan tetap tsabat (kokoh) di atas sunnah, karena memang demikianlah konsekuensi keimanan, mesti ada ujian yang menyertainya.
Dan wajib bagi kalian untuk senantiasa menuntut ilmu agama dan menjelaskan kepada ummat dengan hikmah dan lemah lembut, serta hujjah yang kuat agar terbuka hati mereka insya Allah, untuk menerima kebenaran ilmu yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, bukan pemahaman Teroris. Wallohul Musta’an.
Tanah Baru, Depok, 3 Ramadhan 1430 H.
Sumber :
Publikasi Ahlussunnah Jakarta
Benar bahwa sebagian Teroris juga mengamalkan kewajiban-kewajiban di atas, namun apakah setiap yang mengamalkannya dituduh Teroris?! Kalau begitu bersiaplah menjadi bangsa yang teramat dangkal pemahamannya… Maka inilah keterangan ringkas yang insya Allah dapat meluruskan kesalah pahaman.
Pertama: Dasar kewajiban menggunakan cadar bagi Muslimah
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Perhatikanlah, ayat ini memerintahkan para wanita untuk menutup seluruh tubuh mereka tanpa kecuali. Berkata As-Suyuthi rahimahullah, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasatul Fadhilah, hal. 51, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah).
Istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang mulia: ‘Aisyah radhiyallahu’anha dan para wanita di zamannya juga menggunakan cadar, sebagaimana penuturan ‘Aisyah radhiyallahu’anha berikut:
“Para pengendara (laki-laki) melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka telah dekat kepada kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).
Kedua: Dasar kewajiban mengangkat celana, jangan sampai menutupi mata kaki bagi laki-laki Muslim
Banyak sekali dalil yang melarang isbal (memanjangkan pakaian sampai menutupi mata kaki), diantaranya sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu:
“Bagian kain sarung yang terletak di bawah kedua mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Al-Bukhori, no. 5787).
Dan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha:
“Bagian kain sarung yang terletak di bawah mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Ahmad, 6/59,257).
Ketiga: Dasar kewajiban membiarkan janggut tumbuh bagi laki-laki Muslim
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan janggut.” (HR. Muslim no. 624).
Juga dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Berbedalah dengan orang-orang musyrik; potonglah kumis dan biarkanlah janggut.” (HR. Muslim no. 625).
Dan masih banyak hadits lain yang menunjukkan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk membiarkan janggut tumbuh, sedang perintah hukum asalnya adalah wajib sepanjang tidak ada dalil yang memalingkannya dari hukum asal.
Demikianlah penjelasan ringkas dari kami, semoga setelah mengetahui ini kita lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi orang-orang yang mengamalkan sejumlah kewajiban di atas. Tentu sangat tidak bijaksana apabila kita mengeneralisir setiap orang yang nampak kesungguhannya dalam menjalankan agama sebagai teroris atau bagian dari jaringan teroris, bahkan minimal ada dua resiko berbahaya apabila seorang mencela dan membenci satu kewajiban agama atau membenci orang-orang yang mengamalkannya (disebabkan karena amalan tersebut):
Pertama: Berbuat zhalim kepada wali-wali Allah, sebab wali-wali Allah adalah orang-orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik perintah itu wajib maupun sunnah. Dan barangsiapa yang memusuhi wali Allah dia akan mendapatkan kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Yunus: 62-63)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah sampai Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Kalau dia meminta kepada-Ku pasti akan Aku beri. Dan kalau dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti akan Aku lindungi.’.” (HR. Bukhari, lihat hadits Arba’in ke-38).
Faidah: Para Ulama menjelasakan bahwa makna, “Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah” adalah hidayah dari Allah Ta’ala kepada wali-Nya, sehingga ia tidak mendengar kecuali yang diridhai Allah, tidak melihat kepada apa yang diharamkan Allah dan tidak menggunakan kaki dan tangannya kecuali untuk melakukan kebaikan.
Kedua: Perbuatan tersebut bisa menyebabkan kekafiran, sebab mencela dan membenci satu bagian dari syari’at Allah Jalla wa ‘Ala, baik yang wajib maupun yang sunnah, atau membenci pelakunya (disebabkan karena syari’at yang dia amalkan) merupakan kekafiran kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pada pembatal keislaman yang kelima:
“Barangsiapa membenci suatu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Yang demikian karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (Muhammad: 9)
Maka berhati-hatilah wahai kaum Muslimin.
Dan kepada Ikhwan dan Akhwat yang telah diberikan hidayah oleh Allah untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban di atas hendaklah bersabar dan tetap tsabat (kokoh) di atas sunnah, karena memang demikianlah konsekuensi keimanan, mesti ada ujian yang menyertainya.
Dan wajib bagi kalian untuk senantiasa menuntut ilmu agama dan menjelaskan kepada ummat dengan hikmah dan lemah lembut, serta hujjah yang kuat agar terbuka hati mereka insya Allah, untuk menerima kebenaran ilmu yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, bukan pemahaman Teroris. Wallohul Musta’an.
Tanah Baru, Depok, 3 Ramadhan 1430 H.
Sumber :
Publikasi Ahlussunnah Jakarta
Label:
adab,
aliran sesat,
dakwah islam : khairuddin,
manhaj
Lelaki Keledai dan Wanita Celaka...... استغفر الله العظيم
Hati-hati berbicara dan menulis kata-kata….ALLAH kuasa membalasnya seketika itu juga
Kisah 1 : Lelaki Keledai
Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan diekspos oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.
Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas Mesir, berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!.".
Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menit pun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?."
Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.
Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab.
Dia masuk rumah, dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke 'Wastapel' di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.
Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.
Mengenai hal ini, Dr.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!.".
Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati ?!!!.
(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)
Kisah 2 : Wanita celaka….Ketika Allah mengabulkan permintaan 'vila'nya di neraka….
Kisah ini ditulis oleh redaksi majalah Al-Manar, Mesir. Ia mengisahkan, "Musim panas merupakan ujian yang cukup berat bagi seorang muslimah. Ia dituntut untuk tetap mempertahankan pakaian kesopannanya. Gerah dan panas tak lantas menjadikan mereka menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan jilbab, kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki manfaat multi fungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari kairo ke Alexandria, di sebuah mikrobus, ada seorang gadis muda yang berpakaian kurang layak untuk di deskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan.
Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja, cara berpakaiannya mengundang "perhatian" orang didalam mikrobus tersebut.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa cara berpakaiannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi dirinya sendiri. Di samping mengingatkan bahwa cara berpakaian seperti itu melanggar aturan syar'i. Orang tua tersebut berbicara agak hati-hati dan pelan-pelan, sebagaimana layaknya seorang bapak berbicara kepada anaknya.
Tapi apa respon perempuan muda tersebut ? rupanya dia tersinggung lalu ia mengekspresikan kemarahannya dengan berkata, "Jika memang bapak mau, ini ponsel saya, tolong pesankan saya tempat di neraka tuhan anda !" Orang tua tersebut hanya bisa beristighfar sembari mengelus dadanya; kasihan nian gadis itu, semoga Allah memberinya hidayah.
Detik-detik berikutnya suasana begitu senyap, penumpang mikrobus mulai terlelap dalam kantuk.
Hingga sampailah perjalanan di ujung tujuan. Kini para penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi terhalangi oleh perempuan muda itu yang masih terlihat tidur.
"Bangunkan saja !" teriak seorang penumpang.
"Iya bangunkan saja" teriak penumpang lainnya.
Tapi perempuan muda tersebut tetap bungkam. Salah seorang penumpang lain mencoba mendekati si perempuan muda tersebut dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.
Namun Astaghfirullahal 'Azhim ! Apakah yang terjadi ? ternyata perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi, ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan NERAKA.
Kontan seisi Mikrobus berucap Istghifar sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah akhir kehidupan yang menakutkan; mati dalam keadaan menantang ALLAH. Apakah Allah langsung memenuhi permintaan 'vila'nya untuk tinggal di neraka sana ????
Kisah 1 : Lelaki Keledai
Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan diekspos oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.
Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas Mesir, berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!.".
Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menit pun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?."
Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.
Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab.
Dia masuk rumah, dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke 'Wastapel' di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.
Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.
Mengenai hal ini, Dr.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!.".
Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati ?!!!.
(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)
Kisah 2 : Wanita celaka….Ketika Allah mengabulkan permintaan 'vila'nya di neraka….
Kisah ini ditulis oleh redaksi majalah Al-Manar, Mesir. Ia mengisahkan, "Musim panas merupakan ujian yang cukup berat bagi seorang muslimah. Ia dituntut untuk tetap mempertahankan pakaian kesopannanya. Gerah dan panas tak lantas menjadikan mereka menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan jilbab, kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki manfaat multi fungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari kairo ke Alexandria, di sebuah mikrobus, ada seorang gadis muda yang berpakaian kurang layak untuk di deskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan.
Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja, cara berpakaiannya mengundang "perhatian" orang didalam mikrobus tersebut.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa cara berpakaiannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi dirinya sendiri. Di samping mengingatkan bahwa cara berpakaian seperti itu melanggar aturan syar'i. Orang tua tersebut berbicara agak hati-hati dan pelan-pelan, sebagaimana layaknya seorang bapak berbicara kepada anaknya.
Tapi apa respon perempuan muda tersebut ? rupanya dia tersinggung lalu ia mengekspresikan kemarahannya dengan berkata, "Jika memang bapak mau, ini ponsel saya, tolong pesankan saya tempat di neraka tuhan anda !" Orang tua tersebut hanya bisa beristighfar sembari mengelus dadanya; kasihan nian gadis itu, semoga Allah memberinya hidayah.
Detik-detik berikutnya suasana begitu senyap, penumpang mikrobus mulai terlelap dalam kantuk.
Hingga sampailah perjalanan di ujung tujuan. Kini para penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi terhalangi oleh perempuan muda itu yang masih terlihat tidur.
"Bangunkan saja !" teriak seorang penumpang.
"Iya bangunkan saja" teriak penumpang lainnya.
Tapi perempuan muda tersebut tetap bungkam. Salah seorang penumpang lain mencoba mendekati si perempuan muda tersebut dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.
Namun Astaghfirullahal 'Azhim ! Apakah yang terjadi ? ternyata perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi, ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan NERAKA.
Kontan seisi Mikrobus berucap Istghifar sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah akhir kehidupan yang menakutkan; mati dalam keadaan menantang ALLAH. Apakah Allah langsung memenuhi permintaan 'vila'nya untuk tinggal di neraka sana ????
Label:
adab,
aqidah,
dakwah islam : khairuddin,
manhaj,
Tazkiyatun Nufs
30 November 2009
Kumpulan Kisah-Kisah Hikmah Tarbawiyah dalam Keluarga
Afwan sebelumnya, Catatan ini teruntuk bagi yang haus ilmu dan bersabar dalam membacanya sehingga mendapat manfaatnya, bukan untuk pembaca yang tidak menghargai ilmu…..
Rosululloh صلى الله عليه وسلم pernah bersabda,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِى الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَارَبِّ أَنَّى لِى هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ ».
Di riwayatkan dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah ’Azza Wa Jalla benar-benar akan meninggikan derajat hamba-Nya yang sholih ketika berada di surga,” kemudian dia bertanya, ‘Wahai Robb ku, dari manakah kiranya derajat yang ku peroleh ini ?’ Allah menjawab, “Dari istighfar anakmu untukmu.” ( Lihat : Sunan Ibnu Majah 2/1207 dan Musnad Imam Ahmad 2/509. )
Kisah 1 : Demi kebaikanmu, wahai anakku
Di riwayatkan bahwa pada suatu malam, Shohabat Abdulloh bin Abbas رضي الله عنه sedang melaksanakan Qiyamul lail sedangkan putranya yang masih kecil tidur terlelap. Ketika beliau melihat putranya, beliau berkata, “Demi kebaikanmu, wahai anakku.”
Dan ketika membaca QS. Al-Kahfi ayat 82, “Sedangkan ayahnya adalah seorang yang sholih.” beliau menangis.
Sa’id bin Jubair juga pernah berkata, “Sesungguhnya aku betul-betul akan menambah sholatku untuk kebaikan putraku ini.” (Hilyatul Auliya’ : 4/279)
Kisah 2 : Indahnya saudara seiman
Diriwayatkan oleh Ka’ab Al-Ahbar رضي الله عنه bahwa beliau berkata, “Berapa banyak orang yang Qiyamul lail dikaruniai rasa syukur oleh Allah dan berapa banyak orang yang tidur terlelap diampuni oleh Allah; yaitu pada dua insan yang saling mencinta karena Allah. Kemudian salah seorang dari keduanya melaksanakan sholat malam lalu Allah meridhoi sholat dan do’anya sehingga Dia tidak menolak do’anya sedikitpun. Di sela-sela do'an tersebut, dia tertidur saudaranya yang tertidur dengan berdo’a, “Ya Allah, ampunilah saudaraku, fulan.” Allah pun mengampuni saudaranya padahal dia dalam keadaan tidur. (Hilyatul Auliya’ : 6/31 dan Al-Faiq karya Az-Zamahsyary : 3/234-235)
Kisah 3 : Anakku, Aku telah berbuat baik kepada kalian ketika kalian besar, ketika kalian masih kecil dan ketika kalian belum dilahirkan.”
Tabi’in yang mulia, Abul Aswad Ad-Du’ali yang di kenal sebagai Qodhi di bashroh dan pencetus ilmu nahwu yang meninggal pada tahun 69 H, pernah berkata kepada putra-putrinya, “Aku telah berbuat baik kepada kalian ketika kalian besar, ketika kalian masih kecil dan ketika kalian belum dilahirkan oleh ibu kalian.”
“Bagaimana ayah bisa berbuat baik kepada kami sebelum kami dilahirkan ?” tanya mereka keheranan.
“Aku telah memilih ibu yang tidak kalian cela untuk kalian.” Jawab beliau menerangkan. ( At-Tarikhul Kabir : 4/273, Al-‘Ibar Fi Khobarin Man Ghabar : 1/77, Al-Kamil Fit Tarikh : 4/91 dan Syadzarotud Dzahab : 1/76)
Kisah 4 : “Kami telah kehilangan moment untuk mendidik putra-putri kami.”
Ar-Roghib Al-Asfahani pernah berkisah, “Bahwa Kholifah Abbasiyah, Al-Manshur, mengutus seseorang kepada para tawanan dari kalangan bani Umayyah untuk menanyakan kondisi mereka, ‘Apa penderitaan paling berat yang kalian rasakan di dalam penjara ini ?’ “Kami telah kehilangan moment untuk mendidik putra-putri kami.” jawab mereka.
Kisah 5 : Pahala untuk ayahku
Seorang pemuda yang hidup pada abad ke 5 hijriyah pernah bercerita, “Saya mewajibkan sholat dua roka’at untuk diriku sendiri pada setiap malamnya dengan banyak membaca Al-Qur’an pada dua roka’at tersebut.
Dan aku hadiahkan pahala sholat dan tilawahku untuk ayahku, sehingga aku bermimpi melihat ayah sembari berkata kepadaku, ‘Jazaakallohu, Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepadamu, wahai putraku. Sungguh, kebaikan dan apa saja yang engkau hadiahkan kepadaku telah sampai kepadaku.’ ( Mu’jamu As-Safar : 1/217 )
Kisah 6 : Tangisilah Akheratku
Di masa tabi'in, ada seorang ahli ibadah bashroh yang sedang menghadapi kematian, kemudian para kerabatnya datang menjenguk sedangkan dia kelihatan tersiksa dengan apa yang dialaminya, sehingga ayahnya menangis.
Ketika melihat ayahnya menangis, ahli ibadah ini bertanya, "Wahai ayah, apa yang membuatmu menangis ?"
“Wahai putraku, aku menangis karena akan kehilangan dirimu dan kepayahan yang sedang engkau rasakan.” Jawab Ayahnya.
Mendengar percakapan keduanya, ibunya pun ikut menangis juga.
"Wahai ibu yang penuh cinta dan kasih, apa yang membuatmu menangis tersedu sedan ?” tanya ahli ibadah bashroh ini.
Ibunya menjawab, “Wahai putraku, aku menangis karena akan berpisah denganmu dan aku bersedih karena akan merasa kesepian sepeninggalmu.”
Kemudian keluarga dan putra-putranya ikut menangis juga.
Melihat mereka menangis, ahli ibadah bertanya kepada mereka, "Wahai putra-putraku yang akan menjadi yatim sepeninggalku, apa yang membuat kalian menangis ?”
“Wahai ayah, kami menangis karena akan berpisah denganmu dan akan menjadi yatim sepeninggalmu.” Jawab putra-putranya.
Sang ahli ibadah pun berkata, “Dudukkanlah aku, dudukkanlah aku. Menurutku, kalian semua hanya menangisi duniaku. Tidakkah ada di antara kalian yang menangisi akheratku ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis ketika Allah menelungkupkan wajahku ke dasar bumi ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis karena pertanyaan malaikat munkar nakir yang ditujukan kepadaku ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis ketika aku berdiri di hadapan Robbku, Allah Ta’ala ?”.
Kemudian beliau berteriak dengan teriakan yang keras lalu meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. ( Shifatus Shofwah : 4/18 ).
Kisah 7 : Hati-hati dengan doa orang tua
Di riwayatkan dari Al-Hasan bin Ali رضي الله عنه bahwa beliau pernah bercerita, "Ketika aku dan ayah sedang melaksanakan thowaf di sekitar Ka'bah di malam yang gelap gulita, tepatnya di saat mata sudah terlelap tidur dan suasana sunyi sepi, tiba-tiba ayahku mendengar suara rintihan yang memelas dengan menyenandungkan do'a,
Duhai Dzat yang menjawab do'a orang yang berada dalam kesulitan di kegelapan malam
Wahai Dzat yang menyingkap mudhorot, musibah dan penyakit
Utusan yang mendatangimu di sekitar Ka'bah telah tidur lalu mereka terjaga
Namun mata-Mu tidak pernah tidur, wahai Dzat yang Maha selalu mengurusi hamba-Nya
Dengan kedermawanan-Mu, karuniakanlah ampunan-Mu atas dosa-dosa hamba
Wahai Dzat yang d tuju oleh seluruh hamba yang pergi ke tanah haram
Jika ampunan-Mu tidak bisa di raih oleh orang yang melampaui batas
Maka siapakah yang dengan kedermawanannya mampu memberikan ampunan kepada orang-orang yang bergelimang dosa?
Maka ayah berkata kepadaku, "Tolong cari orang yang mengucapkan do'a tersebut."
Akupun pergi mendatanginya sembari berkata, 'penuhilah panggilan Amirul mukminin !'
Lalu dia pergi menghadap Amirul mukminin dengan menarik setengah bagian tubuhnya sebelah kanan karena lumpuh, hingga sampai di hadapan Ayah.
Ayahku bertanya, "Aku telah mendengar keluh kesahmu, maka ceritakanlah kepadaku perihal musibah apa yang menimpamu ?"
Dia pun bercerita, 'Aku adalah seorang laki-laki yang menyibukkan diri dengan lumpuran dosa dan maksiat dan ayahku selalu menasehatiku, "Hati-hatilah terhadap kesalahan dan ketergelinciran di masa muda karena Allah memiliki kekuasaan dan amarah yang tidak akan jauh dari orang-orang yang berbuat dzolim.” Ketika ayah berulang-ulang menasehatiku dengan nasehat tersebut, aku memukulnya dengan pukulan yang amat keras, lalu ayah bersumpah dengan nama Allah dan dengan penuh kesungguhan bahwa beliau benar-benar akan mendatangi Baitulloh Al-Haram kemudian menggantungkan dirinya kepada Allah di tabir-tabir ka'bah untuk mendo'akan kecelakaan bagiku.
Akhirnya Ayah pergi keluar hingga sampai di Baitul Haram lalu bersimpuh di tabir-tabir ka'bah dan berdo'a di sana. Belum selesai lantunan do'anya, bagian tubuhku yang sebelah kanan tidak bisa bergerak –terkena lumpuh pada setengah tubuhnya -.
Akupun menyesali perbuatan yang ku lakukan terhadap ayahku. Aku pun berusaha membujuk agar ayah menaruh iba dan meridhoiku, sehingga beliau menjamin akan mendo'akan kesembuhan bagiku sebagaimana beliau mendo'akan kecelakaan bagiku di Ka'bah.
Akupun mempersiapkan onta untuk ayah dan menaikkan beliau di atas onta namun malang nian, onta tersebut lari dan menjatuhkan ayah di antara dua batu besar sehingga beliau meninggal dunia.
Mendengar alur ceritanya, Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه berkata kepadanya, "Bergembiralah, karena pertolongan Allah telah datang kepadamu."
Al-Hasan melanjutkan ceritanya, “Kemudian ayah berdiri untuk melaksanakan sholat dua roka'at lalu memerintahkan pemuda tersebut untuk menyingkapkan tubuh bagian kanannya yang lumpuh, dengan tangannya. Ayahku langsung mendo'akan kesembuhan baginya berulang-berulang kali. Sehingga dia kembali sehat sebagaimana semula.”
Kemudian ayah berkata kepadanya, "Kalau kamu tidak bersumpah bahwa ayahmu ridho kepadamu, aku tidak akan berdo'a untuk kesembuhanmu."
Ali juga pernah berkata, "Hati-hatilah kalian terhadap do'anya ke dua orang tua karena do'a mereka bisa menambah rizki dan memulihkan penyakit atau mendatangkan kebinasaan dan mengundang malapetaka.. (Thobaqotus Syafi'iyyah Al-Kubro : 2/328-329 dan At-Tawwabin : 1/237-241).
Kisah 8 : Barokah nasehat anak shaleh
Dan di riwayatkan juga bahwa As-Surry bin Muflis As-Saqothi membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada gurunya, yaitu ayat
وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا {86}
"Dan kami menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka jahannam dalam keadaan dahaga." ( QS. Maryam : 86 )
Kemudian As-Surry bertanya kepada gurunya, "Wahai ustadz, apa itu Al-Wirdu."
"Saya tidak tahu." Jawab gurunya.
As –Surry melanjutkan ayat setelahnya,
لاَيَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلاَّ مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا {87}
“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Allah Yang Maha Pemurah.” ( QS. Maryam : 87 )
Dan bertanya, "Wahai ustadz, apa makna dari Al-Ahdu ?"
"Saya tidak tahu." Jawab gurunya lagi.
Akhirnya, As-Surry menghentikan bacaannya dan berkata dengan lantang, "Kalau anda tidak tahu, mengapa anda menipu manusia ?"
Gurunya pun memukul As-Surry yang di anggap telah berbuat lancang.
"Wahai ustadz, tidak cukupkah kebodohan dan ketertipuan yang ada pada diri anda sehingga anda menambahnya dengan kedzoliman dan penganiayaan !" Jelas As-Surry
Kemudian sang guru sadar akan kekeliruannya dan meminta kehalalan apa yang telah dia lakukan kepada muridnya, As-Surry. Sang guru juga bertobat kepada Allah dan menuntut ilmu lagi.
Setelah beberapa waktu, Gurunya tersebut berkata, "As-Surry telah membebaskan aku dari kebodohan. ( Anba'u Nujaba'il Abna' : 146-148 ).
Kisah 9 : Bebaskan ayahmu dari neraka nak…
Kebiasaan Umar bin Abdul Aziz Rohimahulloh setelah melaksanakan sholat Isya', menemui putri-putrinya dengan memberi salam kepada mereka. Pada suatu malam, ketika beliau datang, putrid-putrinya meletakkan tangan-tangan mereka di mulut, kemudian mereka buru-buru pergi ke dekat pintu untuk menjauh dari Umar bin Abdul Aziz.
Melihat tingkah laku mereka, Umar bertanya kepada pengasuhnya, "Kenapa mereka berbuat demikian ?"
"Mereka tidak memiliki makan malam kecuali hanya kacang adas dan bawang merah sehingga mereka tidak suka kalau anda sampai mencium bau tak sedap dari mulut-mulut mereka" Jawab sang pengasuh.
Setelah mendengar hal tersebut, Umar menangis kemudian berkata kepada mereka, "Wahai putri-putriku, jika kalian bisa makan dengan berbagai macam menu makanan, maka itu tidak akan memberi manfaat kepada kalian bila dengan hal tersebut ayah kalian di perintahkan untuk masuk neraka."
Merekapun menangis hingga suara mereka meninggi. Kemudian Umar pergi meninggalkan mereka. ( Siyaru A'lamin Nubala' : 1/54 )
Kisah 10 : Anakku, ingatlah si empunya roti
Ketika Abu Musya Al-Asy'ari ingin meninggal dunia, beliau memanggil putra-putranya seraya berkisah kepada mereka, "Wahai putra-putraku, Ingatlah selalu kisah si empunya roti."
Beliau melanjutkan, "Dahulu, dari kalangan bani isro'il terdapat seorang laki-laki yang beribadah kepada Allah di sinagog selama 70 tahun. Lalu syetan berusaha menggodanya dengan menjelma menjadi seorang perempuan yang rupawan nan cantik jelita.
Lelaki tersebut tinggal bersama perempuan ini selama 7 malam secara tidak halal. Setelah itu, aibnya tersingkap. Lalu dia pergi meninggalkan perkampungannya untuk bertaubat kepada Allah.
Setiap menginjakkan satu langkah kaki, dia selalu sholat dan sujud. Hingga datangnya malam membuatnya menginap di sebuah gubuk yang dihuni oleh 12 orang-orang miskin.
Dia langsung menyelusup di antara dua orang miskin. Dan kebetulan pada waktu malam hari, seorang rahib membawa dan memberikan 12 roti sesuai dengan jumlah orang-orang miskin yang bertempat tinggal di sana.
Rohib tersebut membagi satu persatu hingga roti tersebut habis. Namun ada satu orang miskin yang datang terlambat, dia tidak mendapat roti. Lalu bertanya kepada rohib, "Mengapa kamu tidak memberikan roti kepadaku ?"
Sang rohib menjawab, "Apakah kamu melihat aku masih membawa dan menahannya darimu ? Tanyakan kepada mereka, apakah ada di antara mereka yang aku beri dua roti ?"
"Tidak." Jawab mereka secara serempak.
Rohib berkata lagi, "Apakah kamu melihatku menahannya darimu. Demi Allah, aku tidak akan memberimu apa-apa malam ini."
Kemudian ahlul ibadah yang sejak tadi mendengar percakapan mereka berdua, langsung memberikan rotinya kepada lelaki yang tidak mendapat rotinya. Ketika hari memasuki waktu pagi, ternyata ahlul ibadah yang bertaubat tersebut meninggal dunia.
Abu Musa Al-Asy'ari melanjutkan kisahnya, "Lalu ibadah yang dia kerjakan selama 70 puluh tahun di timbang dengan dosa yang dia lakukan selama 7 malam. Ternyata, dosa yang dia kerjakan selama 7 malam lebih berat dari pada ibadahnya selama 70 tahun. Kemudian roti yang dia berikan kepada orang miskin ditimbang dengan dosanya selama 7 malam. Ajaibnya, pahala roti yang dia berikan lebih berat timbangannya dari pada dosa yang dia lakukan selama 7 malam."
Setelah selesai berkisah, Abu Musa menasehati putra-putranya, "Wahai putra-putraku, Ingatlah selalu kisah si empunya roti…( Shifatus Shofwah : 1/ 561-562 -dengan sedikit perubahan.)
Kisah 11 : Kebahagiaan tidak terkira
Pada suatu hari Ma'ruf Al-Kurkhy –abid Baghdad yang wafat pada 200 H- duduk di tepian sungai dajlah yang terletak di kota Baghdad sambil berbincang-bincang dengan para sahabatnya, tiba-tiba ada sebagian pemuda yang melewati mereka dengan mengendarai sampan sembari mendendangkan alat-alat musik dan meminum khomer.
Para sahabat Ma'ruf berkata kepada beliau, "Tidakkah kamu melihat, mereka berada di sungai ini untuk bermaksiat kepada Allah, maka berdo'alah untuk kebinasaan mereka.”
Ma'ruf Al-Kurkhy pun mengangkat tangannya ke langit dan berdo'a, "Ya Allah, ya Tuhanku…., aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberikan kebahagiaan kepada mereka di jannah sebagaimana Engkau memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia."
Para sahabatnya mencela Ma'ruf dengan berkata, "Kami hanya menginginkan agar anda mendo'akan kecelakaan buat mereka bukan malah mendo'akan kebaikan untuk mereka."
"Jika Allah memberikan kebahagiaan mereka di akherat, Allah akan memberi pintu taubat bagi mereka ketika di dunia. Dan hal itu tidak memberikan mudhorot bagi kalian." Jawab Ma’ruf. ( Shifatus Shofwah : 2/321 )
Kisah 12 : Doa ayah untuk anaknya
Di riwayatkan bahwa Fudhoil bin Iyadh, abidul Haramain, pernah mendo'akan untuk kebaikan putranya, Ali dengan do'a, "Ya Allah, sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh untuk mendidik putraku, Ali namun aku tidak mampu untuk mendidiknya maka didiklah dia untukku, ya Allah."
Allah pun mengabulkan do'a beliau sehingga putra beliau, Ali menjadi ahli ibadah, zuhud, waro' dan bertaqwa. ( Siyaru A'lamin Nubala' : 8/445 dan Hilyatul Auliya' : 8/299 )
Kisah 13 : Menghargai Hadits Nabi.
Seorang pakar hadits yang terkenal zuhud, Ibrohim bin Adham berkata, “Ayah pernah berkata kepadaku, “Wahai putraku, carilah hadits Nabawi. Setiap hadits yang kamu dengar dan kamu hafalkan akan aku ganti dengan satu dirham." Lalu aku mencari hadits karena perintah ini… ( Lihat, Syarofu Ashabil Hadits, halaman : 10 )
Dikisahkan juga bahwa di kota Baghdad ada seorang pakar hadits, Amir bin Ashim yang hidup pada masa Abad 2 hijriyah. Beliau menceritakan pengalamannya dalam memburu hadits Nabi dengan berkata, “Ayahku akan membayar 100.000 dirham dan akan membelikan satu binatang tunggangan yang senilai dengan 1000 dirham kepadaku.”
Ayahku juga pernah berkata, “Pergilah memburu hadits Nabi hingga aku tidak melihat wajahmu kecuali engkau kembali dengan membawa 100.000 hadits Nabawi yang mulia.”
Ali bin Ashim melanjutkan kisahnya, “Aku pun melalang buana untuk mencari hadits Nabi hingga aku kembali dengan membawa 100.000 hadits untuk ayahku. (Al-Muntadzom : 10/103, Tarikhu Baghdad : 11/447 dan Al-Ansab : 4/473 )
.
Kisah 14 : Anakku, Hati-hatilah dengan Doa Orang yang Terdzalimi
Dahulu, Yahya Al-Barmaki adalah seorang menteri yang memiliki kekuasaan dan kekuatan di masa Kholifah Harun Ar-Rosyid. Kemudian kondisinya berubah, beliau dan putra-putranya masuk ke dalam penjara. Di kisahkan bahwa putra Yahya berkata kepada ayah dan orang yang berada dalam penjara dalam keadaan di borgol, “Wahai Ayah, setelah berkuasa memerintah dan melarang serta berkuasa dalam memegang harta, kita menjadi seperti ini…?"
Sang ayah, Yahya menjawab dengan bijak, “Wahai putraku, do’a orang terdzolimi yang bersembunyi di kegelapan malam lah yang membuat kita demikian. Kita mungkin lupa dengan do’a mereka namun Allah tidak akan pernah lalai akan do’a-do’a mereka. ( Siyaru A’lamin Nubala’ : 9/60-61 ) .
Kisah 15 : Apa Cita-citamu ?
Pada suatu hari, Umar bin Khottob رضي الله عنه berkata kepada orang-orang yang berada di sekitar beliau, “Ungkapkanlah harapan-harapan dan cita-cita kalian !”
Sebagian dari mereka berkata, “Saya berharap kalau seandainya rumah ini di penuhi dengan emas sehingga saya bisa menginfakkannya di jalan Allah.”
Umar رضي الله عنه berkata lagi, “Ungkapkanlah harapan-harapan dan cita-cita kalian !”
Lalu seorang laki-laki yang lain berkata dengan mantap, “Saya berharap kalau rumah ini penuh dengan intan, berlian dan permata, sehingga saya bisa menginfakkan dan mensedekahkannya di jalan Allah."
Sampai di sini, Umar bin Khottob رضي الله عنه berkata, “Saya berharap kalau seandainya rumah ini dipenuhi oleh para lelaki semisal Abu Ubaidah bin Jaroh, Muadz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah dan Hudzaifah bin Yaman رضي الله عنهم . ( Fadhoilus Shohabah : 2/740, Hilyatul Auliya’ : 1/102, Siyaru A’lamin Nubala’ : 1/14 dan Sifatush Sofwah : 1/367-368 )
Kisah 16 : Persiapkanlah Bekalmu, wahai anakku…
Ada orang sholih yang berkata bijak kepada putranya, “Wahai putraku, hanyasanya engkau hanyalah kumpulan hari-hari yang berbilang. Jika sebagian harimu hilang maka seluruh hidupmu juga ikut hilang. Wahai putraku, ketahuilah bahwa para penghuni kubur sedang menunggumu di antara waktu yang satu dengan waktu yang lain, maka waspadalah, jangan sampai kamu pergi menyusul mereka tanpa membawa perbekalan…”
Kisah 17 : Karena Surat Al-Fatihah Begitu Berharga….
Ketika Hammad bin Abu Hanifah menguasai surat Al-Fatihah dengan baik, Abu Hanifah memberi uang 500 dirham kepada gurunya padahal harga satu kambing pada saat itu adalah satu dirham. Sang guru menganggap bahwa apa yang di berikan oleh Abu Hanifah terlampau banyak karena dia tidak mengajari putranya kecuali hanya surat Al-Fatihah.
Maka Abu Hanifah berkata, “Janganlah kamu menganggap remeh perihal apa yang telah engkau ajarkan kepada putraku. Kalau seandainya kami memiliki dirham yang lebih banyak dari yang kami berikan niscaya kami akan memberikannya kepadamu juga demi menghormati Al-Qur’an. ( Fathu Babil ‘Inayah yang di tahqiq oleh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Hal : 19 )
.
Jazakumullah, Ibnu Abdul Bari el-‘Afifi. Semoga bermanfaat.
Disadur dari buku Syahrun Wahid li Tarbiyati Jilin Wa’id
karya Abdulloh Muhammad Abdul Mu'thi
Rosululloh صلى الله عليه وسلم pernah bersabda,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِى الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَارَبِّ أَنَّى لِى هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ ».
Di riwayatkan dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah ’Azza Wa Jalla benar-benar akan meninggikan derajat hamba-Nya yang sholih ketika berada di surga,” kemudian dia bertanya, ‘Wahai Robb ku, dari manakah kiranya derajat yang ku peroleh ini ?’ Allah menjawab, “Dari istighfar anakmu untukmu.” ( Lihat : Sunan Ibnu Majah 2/1207 dan Musnad Imam Ahmad 2/509. )
Kisah 1 : Demi kebaikanmu, wahai anakku
Di riwayatkan bahwa pada suatu malam, Shohabat Abdulloh bin Abbas رضي الله عنه sedang melaksanakan Qiyamul lail sedangkan putranya yang masih kecil tidur terlelap. Ketika beliau melihat putranya, beliau berkata, “Demi kebaikanmu, wahai anakku.”
Dan ketika membaca QS. Al-Kahfi ayat 82, “Sedangkan ayahnya adalah seorang yang sholih.” beliau menangis.
Sa’id bin Jubair juga pernah berkata, “Sesungguhnya aku betul-betul akan menambah sholatku untuk kebaikan putraku ini.” (Hilyatul Auliya’ : 4/279)
Kisah 2 : Indahnya saudara seiman
Diriwayatkan oleh Ka’ab Al-Ahbar رضي الله عنه bahwa beliau berkata, “Berapa banyak orang yang Qiyamul lail dikaruniai rasa syukur oleh Allah dan berapa banyak orang yang tidur terlelap diampuni oleh Allah; yaitu pada dua insan yang saling mencinta karena Allah. Kemudian salah seorang dari keduanya melaksanakan sholat malam lalu Allah meridhoi sholat dan do’anya sehingga Dia tidak menolak do’anya sedikitpun. Di sela-sela do'an tersebut, dia tertidur saudaranya yang tertidur dengan berdo’a, “Ya Allah, ampunilah saudaraku, fulan.” Allah pun mengampuni saudaranya padahal dia dalam keadaan tidur. (Hilyatul Auliya’ : 6/31 dan Al-Faiq karya Az-Zamahsyary : 3/234-235)
Kisah 3 : Anakku, Aku telah berbuat baik kepada kalian ketika kalian besar, ketika kalian masih kecil dan ketika kalian belum dilahirkan.”
Tabi’in yang mulia, Abul Aswad Ad-Du’ali yang di kenal sebagai Qodhi di bashroh dan pencetus ilmu nahwu yang meninggal pada tahun 69 H, pernah berkata kepada putra-putrinya, “Aku telah berbuat baik kepada kalian ketika kalian besar, ketika kalian masih kecil dan ketika kalian belum dilahirkan oleh ibu kalian.”
“Bagaimana ayah bisa berbuat baik kepada kami sebelum kami dilahirkan ?” tanya mereka keheranan.
“Aku telah memilih ibu yang tidak kalian cela untuk kalian.” Jawab beliau menerangkan. ( At-Tarikhul Kabir : 4/273, Al-‘Ibar Fi Khobarin Man Ghabar : 1/77, Al-Kamil Fit Tarikh : 4/91 dan Syadzarotud Dzahab : 1/76)
Kisah 4 : “Kami telah kehilangan moment untuk mendidik putra-putri kami.”
Ar-Roghib Al-Asfahani pernah berkisah, “Bahwa Kholifah Abbasiyah, Al-Manshur, mengutus seseorang kepada para tawanan dari kalangan bani Umayyah untuk menanyakan kondisi mereka, ‘Apa penderitaan paling berat yang kalian rasakan di dalam penjara ini ?’ “Kami telah kehilangan moment untuk mendidik putra-putri kami.” jawab mereka.
Kisah 5 : Pahala untuk ayahku
Seorang pemuda yang hidup pada abad ke 5 hijriyah pernah bercerita, “Saya mewajibkan sholat dua roka’at untuk diriku sendiri pada setiap malamnya dengan banyak membaca Al-Qur’an pada dua roka’at tersebut.
Dan aku hadiahkan pahala sholat dan tilawahku untuk ayahku, sehingga aku bermimpi melihat ayah sembari berkata kepadaku, ‘Jazaakallohu, Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepadamu, wahai putraku. Sungguh, kebaikan dan apa saja yang engkau hadiahkan kepadaku telah sampai kepadaku.’ ( Mu’jamu As-Safar : 1/217 )
Kisah 6 : Tangisilah Akheratku
Di masa tabi'in, ada seorang ahli ibadah bashroh yang sedang menghadapi kematian, kemudian para kerabatnya datang menjenguk sedangkan dia kelihatan tersiksa dengan apa yang dialaminya, sehingga ayahnya menangis.
Ketika melihat ayahnya menangis, ahli ibadah ini bertanya, "Wahai ayah, apa yang membuatmu menangis ?"
“Wahai putraku, aku menangis karena akan kehilangan dirimu dan kepayahan yang sedang engkau rasakan.” Jawab Ayahnya.
Mendengar percakapan keduanya, ibunya pun ikut menangis juga.
"Wahai ibu yang penuh cinta dan kasih, apa yang membuatmu menangis tersedu sedan ?” tanya ahli ibadah bashroh ini.
Ibunya menjawab, “Wahai putraku, aku menangis karena akan berpisah denganmu dan aku bersedih karena akan merasa kesepian sepeninggalmu.”
Kemudian keluarga dan putra-putranya ikut menangis juga.
Melihat mereka menangis, ahli ibadah bertanya kepada mereka, "Wahai putra-putraku yang akan menjadi yatim sepeninggalku, apa yang membuat kalian menangis ?”
“Wahai ayah, kami menangis karena akan berpisah denganmu dan akan menjadi yatim sepeninggalmu.” Jawab putra-putranya.
Sang ahli ibadah pun berkata, “Dudukkanlah aku, dudukkanlah aku. Menurutku, kalian semua hanya menangisi duniaku. Tidakkah ada di antara kalian yang menangisi akheratku ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis ketika Allah menelungkupkan wajahku ke dasar bumi ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis karena pertanyaan malaikat munkar nakir yang ditujukan kepadaku ? tidakkah ada di antara kalian yang menangis ketika aku berdiri di hadapan Robbku, Allah Ta’ala ?”.
Kemudian beliau berteriak dengan teriakan yang keras lalu meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. ( Shifatus Shofwah : 4/18 ).
Kisah 7 : Hati-hati dengan doa orang tua
Di riwayatkan dari Al-Hasan bin Ali رضي الله عنه bahwa beliau pernah bercerita, "Ketika aku dan ayah sedang melaksanakan thowaf di sekitar Ka'bah di malam yang gelap gulita, tepatnya di saat mata sudah terlelap tidur dan suasana sunyi sepi, tiba-tiba ayahku mendengar suara rintihan yang memelas dengan menyenandungkan do'a,
Duhai Dzat yang menjawab do'a orang yang berada dalam kesulitan di kegelapan malam
Wahai Dzat yang menyingkap mudhorot, musibah dan penyakit
Utusan yang mendatangimu di sekitar Ka'bah telah tidur lalu mereka terjaga
Namun mata-Mu tidak pernah tidur, wahai Dzat yang Maha selalu mengurusi hamba-Nya
Dengan kedermawanan-Mu, karuniakanlah ampunan-Mu atas dosa-dosa hamba
Wahai Dzat yang d tuju oleh seluruh hamba yang pergi ke tanah haram
Jika ampunan-Mu tidak bisa di raih oleh orang yang melampaui batas
Maka siapakah yang dengan kedermawanannya mampu memberikan ampunan kepada orang-orang yang bergelimang dosa?
Maka ayah berkata kepadaku, "Tolong cari orang yang mengucapkan do'a tersebut."
Akupun pergi mendatanginya sembari berkata, 'penuhilah panggilan Amirul mukminin !'
Lalu dia pergi menghadap Amirul mukminin dengan menarik setengah bagian tubuhnya sebelah kanan karena lumpuh, hingga sampai di hadapan Ayah.
Ayahku bertanya, "Aku telah mendengar keluh kesahmu, maka ceritakanlah kepadaku perihal musibah apa yang menimpamu ?"
Dia pun bercerita, 'Aku adalah seorang laki-laki yang menyibukkan diri dengan lumpuran dosa dan maksiat dan ayahku selalu menasehatiku, "Hati-hatilah terhadap kesalahan dan ketergelinciran di masa muda karena Allah memiliki kekuasaan dan amarah yang tidak akan jauh dari orang-orang yang berbuat dzolim.” Ketika ayah berulang-ulang menasehatiku dengan nasehat tersebut, aku memukulnya dengan pukulan yang amat keras, lalu ayah bersumpah dengan nama Allah dan dengan penuh kesungguhan bahwa beliau benar-benar akan mendatangi Baitulloh Al-Haram kemudian menggantungkan dirinya kepada Allah di tabir-tabir ka'bah untuk mendo'akan kecelakaan bagiku.
Akhirnya Ayah pergi keluar hingga sampai di Baitul Haram lalu bersimpuh di tabir-tabir ka'bah dan berdo'a di sana. Belum selesai lantunan do'anya, bagian tubuhku yang sebelah kanan tidak bisa bergerak –terkena lumpuh pada setengah tubuhnya -.
Akupun menyesali perbuatan yang ku lakukan terhadap ayahku. Aku pun berusaha membujuk agar ayah menaruh iba dan meridhoiku, sehingga beliau menjamin akan mendo'akan kesembuhan bagiku sebagaimana beliau mendo'akan kecelakaan bagiku di Ka'bah.
Akupun mempersiapkan onta untuk ayah dan menaikkan beliau di atas onta namun malang nian, onta tersebut lari dan menjatuhkan ayah di antara dua batu besar sehingga beliau meninggal dunia.
Mendengar alur ceritanya, Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه berkata kepadanya, "Bergembiralah, karena pertolongan Allah telah datang kepadamu."
Al-Hasan melanjutkan ceritanya, “Kemudian ayah berdiri untuk melaksanakan sholat dua roka'at lalu memerintahkan pemuda tersebut untuk menyingkapkan tubuh bagian kanannya yang lumpuh, dengan tangannya. Ayahku langsung mendo'akan kesembuhan baginya berulang-berulang kali. Sehingga dia kembali sehat sebagaimana semula.”
Kemudian ayah berkata kepadanya, "Kalau kamu tidak bersumpah bahwa ayahmu ridho kepadamu, aku tidak akan berdo'a untuk kesembuhanmu."
Ali juga pernah berkata, "Hati-hatilah kalian terhadap do'anya ke dua orang tua karena do'a mereka bisa menambah rizki dan memulihkan penyakit atau mendatangkan kebinasaan dan mengundang malapetaka.. (Thobaqotus Syafi'iyyah Al-Kubro : 2/328-329 dan At-Tawwabin : 1/237-241).
Kisah 8 : Barokah nasehat anak shaleh
Dan di riwayatkan juga bahwa As-Surry bin Muflis As-Saqothi membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada gurunya, yaitu ayat
وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا {86}
"Dan kami menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka jahannam dalam keadaan dahaga." ( QS. Maryam : 86 )
Kemudian As-Surry bertanya kepada gurunya, "Wahai ustadz, apa itu Al-Wirdu."
"Saya tidak tahu." Jawab gurunya.
As –Surry melanjutkan ayat setelahnya,
لاَيَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلاَّ مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا {87}
“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Allah Yang Maha Pemurah.” ( QS. Maryam : 87 )
Dan bertanya, "Wahai ustadz, apa makna dari Al-Ahdu ?"
"Saya tidak tahu." Jawab gurunya lagi.
Akhirnya, As-Surry menghentikan bacaannya dan berkata dengan lantang, "Kalau anda tidak tahu, mengapa anda menipu manusia ?"
Gurunya pun memukul As-Surry yang di anggap telah berbuat lancang.
"Wahai ustadz, tidak cukupkah kebodohan dan ketertipuan yang ada pada diri anda sehingga anda menambahnya dengan kedzoliman dan penganiayaan !" Jelas As-Surry
Kemudian sang guru sadar akan kekeliruannya dan meminta kehalalan apa yang telah dia lakukan kepada muridnya, As-Surry. Sang guru juga bertobat kepada Allah dan menuntut ilmu lagi.
Setelah beberapa waktu, Gurunya tersebut berkata, "As-Surry telah membebaskan aku dari kebodohan. ( Anba'u Nujaba'il Abna' : 146-148 ).
Kisah 9 : Bebaskan ayahmu dari neraka nak…
Kebiasaan Umar bin Abdul Aziz Rohimahulloh setelah melaksanakan sholat Isya', menemui putri-putrinya dengan memberi salam kepada mereka. Pada suatu malam, ketika beliau datang, putrid-putrinya meletakkan tangan-tangan mereka di mulut, kemudian mereka buru-buru pergi ke dekat pintu untuk menjauh dari Umar bin Abdul Aziz.
Melihat tingkah laku mereka, Umar bertanya kepada pengasuhnya, "Kenapa mereka berbuat demikian ?"
"Mereka tidak memiliki makan malam kecuali hanya kacang adas dan bawang merah sehingga mereka tidak suka kalau anda sampai mencium bau tak sedap dari mulut-mulut mereka" Jawab sang pengasuh.
Setelah mendengar hal tersebut, Umar menangis kemudian berkata kepada mereka, "Wahai putri-putriku, jika kalian bisa makan dengan berbagai macam menu makanan, maka itu tidak akan memberi manfaat kepada kalian bila dengan hal tersebut ayah kalian di perintahkan untuk masuk neraka."
Merekapun menangis hingga suara mereka meninggi. Kemudian Umar pergi meninggalkan mereka. ( Siyaru A'lamin Nubala' : 1/54 )
Kisah 10 : Anakku, ingatlah si empunya roti
Ketika Abu Musya Al-Asy'ari ingin meninggal dunia, beliau memanggil putra-putranya seraya berkisah kepada mereka, "Wahai putra-putraku, Ingatlah selalu kisah si empunya roti."
Beliau melanjutkan, "Dahulu, dari kalangan bani isro'il terdapat seorang laki-laki yang beribadah kepada Allah di sinagog selama 70 tahun. Lalu syetan berusaha menggodanya dengan menjelma menjadi seorang perempuan yang rupawan nan cantik jelita.
Lelaki tersebut tinggal bersama perempuan ini selama 7 malam secara tidak halal. Setelah itu, aibnya tersingkap. Lalu dia pergi meninggalkan perkampungannya untuk bertaubat kepada Allah.
Setiap menginjakkan satu langkah kaki, dia selalu sholat dan sujud. Hingga datangnya malam membuatnya menginap di sebuah gubuk yang dihuni oleh 12 orang-orang miskin.
Dia langsung menyelusup di antara dua orang miskin. Dan kebetulan pada waktu malam hari, seorang rahib membawa dan memberikan 12 roti sesuai dengan jumlah orang-orang miskin yang bertempat tinggal di sana.
Rohib tersebut membagi satu persatu hingga roti tersebut habis. Namun ada satu orang miskin yang datang terlambat, dia tidak mendapat roti. Lalu bertanya kepada rohib, "Mengapa kamu tidak memberikan roti kepadaku ?"
Sang rohib menjawab, "Apakah kamu melihat aku masih membawa dan menahannya darimu ? Tanyakan kepada mereka, apakah ada di antara mereka yang aku beri dua roti ?"
"Tidak." Jawab mereka secara serempak.
Rohib berkata lagi, "Apakah kamu melihatku menahannya darimu. Demi Allah, aku tidak akan memberimu apa-apa malam ini."
Kemudian ahlul ibadah yang sejak tadi mendengar percakapan mereka berdua, langsung memberikan rotinya kepada lelaki yang tidak mendapat rotinya. Ketika hari memasuki waktu pagi, ternyata ahlul ibadah yang bertaubat tersebut meninggal dunia.
Abu Musa Al-Asy'ari melanjutkan kisahnya, "Lalu ibadah yang dia kerjakan selama 70 puluh tahun di timbang dengan dosa yang dia lakukan selama 7 malam. Ternyata, dosa yang dia kerjakan selama 7 malam lebih berat dari pada ibadahnya selama 70 tahun. Kemudian roti yang dia berikan kepada orang miskin ditimbang dengan dosanya selama 7 malam. Ajaibnya, pahala roti yang dia berikan lebih berat timbangannya dari pada dosa yang dia lakukan selama 7 malam."
Setelah selesai berkisah, Abu Musa menasehati putra-putranya, "Wahai putra-putraku, Ingatlah selalu kisah si empunya roti…( Shifatus Shofwah : 1/ 561-562 -dengan sedikit perubahan.)
Kisah 11 : Kebahagiaan tidak terkira
Pada suatu hari Ma'ruf Al-Kurkhy –abid Baghdad yang wafat pada 200 H- duduk di tepian sungai dajlah yang terletak di kota Baghdad sambil berbincang-bincang dengan para sahabatnya, tiba-tiba ada sebagian pemuda yang melewati mereka dengan mengendarai sampan sembari mendendangkan alat-alat musik dan meminum khomer.
Para sahabat Ma'ruf berkata kepada beliau, "Tidakkah kamu melihat, mereka berada di sungai ini untuk bermaksiat kepada Allah, maka berdo'alah untuk kebinasaan mereka.”
Ma'ruf Al-Kurkhy pun mengangkat tangannya ke langit dan berdo'a, "Ya Allah, ya Tuhanku…., aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberikan kebahagiaan kepada mereka di jannah sebagaimana Engkau memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia."
Para sahabatnya mencela Ma'ruf dengan berkata, "Kami hanya menginginkan agar anda mendo'akan kecelakaan buat mereka bukan malah mendo'akan kebaikan untuk mereka."
"Jika Allah memberikan kebahagiaan mereka di akherat, Allah akan memberi pintu taubat bagi mereka ketika di dunia. Dan hal itu tidak memberikan mudhorot bagi kalian." Jawab Ma’ruf. ( Shifatus Shofwah : 2/321 )
Kisah 12 : Doa ayah untuk anaknya
Di riwayatkan bahwa Fudhoil bin Iyadh, abidul Haramain, pernah mendo'akan untuk kebaikan putranya, Ali dengan do'a, "Ya Allah, sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh untuk mendidik putraku, Ali namun aku tidak mampu untuk mendidiknya maka didiklah dia untukku, ya Allah."
Allah pun mengabulkan do'a beliau sehingga putra beliau, Ali menjadi ahli ibadah, zuhud, waro' dan bertaqwa. ( Siyaru A'lamin Nubala' : 8/445 dan Hilyatul Auliya' : 8/299 )
Kisah 13 : Menghargai Hadits Nabi.
Seorang pakar hadits yang terkenal zuhud, Ibrohim bin Adham berkata, “Ayah pernah berkata kepadaku, “Wahai putraku, carilah hadits Nabawi. Setiap hadits yang kamu dengar dan kamu hafalkan akan aku ganti dengan satu dirham." Lalu aku mencari hadits karena perintah ini… ( Lihat, Syarofu Ashabil Hadits, halaman : 10 )
Dikisahkan juga bahwa di kota Baghdad ada seorang pakar hadits, Amir bin Ashim yang hidup pada masa Abad 2 hijriyah. Beliau menceritakan pengalamannya dalam memburu hadits Nabi dengan berkata, “Ayahku akan membayar 100.000 dirham dan akan membelikan satu binatang tunggangan yang senilai dengan 1000 dirham kepadaku.”
Ayahku juga pernah berkata, “Pergilah memburu hadits Nabi hingga aku tidak melihat wajahmu kecuali engkau kembali dengan membawa 100.000 hadits Nabawi yang mulia.”
Ali bin Ashim melanjutkan kisahnya, “Aku pun melalang buana untuk mencari hadits Nabi hingga aku kembali dengan membawa 100.000 hadits untuk ayahku. (Al-Muntadzom : 10/103, Tarikhu Baghdad : 11/447 dan Al-Ansab : 4/473 )
.
Kisah 14 : Anakku, Hati-hatilah dengan Doa Orang yang Terdzalimi
Dahulu, Yahya Al-Barmaki adalah seorang menteri yang memiliki kekuasaan dan kekuatan di masa Kholifah Harun Ar-Rosyid. Kemudian kondisinya berubah, beliau dan putra-putranya masuk ke dalam penjara. Di kisahkan bahwa putra Yahya berkata kepada ayah dan orang yang berada dalam penjara dalam keadaan di borgol, “Wahai Ayah, setelah berkuasa memerintah dan melarang serta berkuasa dalam memegang harta, kita menjadi seperti ini…?"
Sang ayah, Yahya menjawab dengan bijak, “Wahai putraku, do’a orang terdzolimi yang bersembunyi di kegelapan malam lah yang membuat kita demikian. Kita mungkin lupa dengan do’a mereka namun Allah tidak akan pernah lalai akan do’a-do’a mereka. ( Siyaru A’lamin Nubala’ : 9/60-61 ) .
Kisah 15 : Apa Cita-citamu ?
Pada suatu hari, Umar bin Khottob رضي الله عنه berkata kepada orang-orang yang berada di sekitar beliau, “Ungkapkanlah harapan-harapan dan cita-cita kalian !”
Sebagian dari mereka berkata, “Saya berharap kalau seandainya rumah ini di penuhi dengan emas sehingga saya bisa menginfakkannya di jalan Allah.”
Umar رضي الله عنه berkata lagi, “Ungkapkanlah harapan-harapan dan cita-cita kalian !”
Lalu seorang laki-laki yang lain berkata dengan mantap, “Saya berharap kalau rumah ini penuh dengan intan, berlian dan permata, sehingga saya bisa menginfakkan dan mensedekahkannya di jalan Allah."
Sampai di sini, Umar bin Khottob رضي الله عنه berkata, “Saya berharap kalau seandainya rumah ini dipenuhi oleh para lelaki semisal Abu Ubaidah bin Jaroh, Muadz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah dan Hudzaifah bin Yaman رضي الله عنهم . ( Fadhoilus Shohabah : 2/740, Hilyatul Auliya’ : 1/102, Siyaru A’lamin Nubala’ : 1/14 dan Sifatush Sofwah : 1/367-368 )
Kisah 16 : Persiapkanlah Bekalmu, wahai anakku…
Ada orang sholih yang berkata bijak kepada putranya, “Wahai putraku, hanyasanya engkau hanyalah kumpulan hari-hari yang berbilang. Jika sebagian harimu hilang maka seluruh hidupmu juga ikut hilang. Wahai putraku, ketahuilah bahwa para penghuni kubur sedang menunggumu di antara waktu yang satu dengan waktu yang lain, maka waspadalah, jangan sampai kamu pergi menyusul mereka tanpa membawa perbekalan…”
Kisah 17 : Karena Surat Al-Fatihah Begitu Berharga….
Ketika Hammad bin Abu Hanifah menguasai surat Al-Fatihah dengan baik, Abu Hanifah memberi uang 500 dirham kepada gurunya padahal harga satu kambing pada saat itu adalah satu dirham. Sang guru menganggap bahwa apa yang di berikan oleh Abu Hanifah terlampau banyak karena dia tidak mengajari putranya kecuali hanya surat Al-Fatihah.
Maka Abu Hanifah berkata, “Janganlah kamu menganggap remeh perihal apa yang telah engkau ajarkan kepada putraku. Kalau seandainya kami memiliki dirham yang lebih banyak dari yang kami berikan niscaya kami akan memberikannya kepadamu juga demi menghormati Al-Qur’an. ( Fathu Babil ‘Inayah yang di tahqiq oleh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Hal : 19 )
.
Jazakumullah, Ibnu Abdul Bari el-‘Afifi. Semoga bermanfaat.
Disadur dari buku Syahrun Wahid li Tarbiyati Jilin Wa’id
karya Abdulloh Muhammad Abdul Mu'thi
Label:
adab,
dakwah islam : khairuddin,
manhaj,
Tazkiyatun Nufs
24 November 2009
Siapa Pencetus Pertama Istilah Wahhabi ?
Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ‘ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ‘ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India.
Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali. Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.
Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan ‘Utsmâniyyah (Ottomans), Ibrâhîm Basyâ (Pasha), anak angkat Muhammad ‘Alî Basyâ (Pasha), juga menggunakan istilah ‘Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah (Heretics)’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb dan Negara Saudî. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah ‘Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan :
“Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan (menisbatkan) istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini.
- Margoliouth sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah ‘Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup ‘pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah ‘Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”.
- Thomas Patrick Hughes menggambarkan “Wahhâbiyyah” sebagai gerakan reformis Islâm yang didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb, yang menyatakan bahwa musuh-musuh mereka tidak mau menyebut mereka sebagai “Muhammadiyyah” (Muhammadans), malahan, mereka menyebutnya sebagai ‘Wahhâbî’, sebuah nama setelah namanya ayahnya Syaikh….
- George Rentz mengatakan bahwa istilah ‘Wahhâbî’ digunakan untuk mengambarkan para pengikut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb oleh musuh-musuh mereka sebagai ejekan bahwa Syaikh mendirikan sebuah sekte baru yang harus dihentikan dan aqidahnya ditentang. Mereka yang disebut dengan sebutan ‘Wahhâbî’ ini beranggapan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb hanyalah seorang pengikut Sunnah, oleh karena itulah mereka menolak istilah ini dan bahkan menuntut agar dakwah beliau disebut dengan ‘ad-Da’wah ila’t Tauhîd’, dimana istilah yang tepat untuk menggambarkan para pengikutnya adalah ‘Muwahhidŭn’…. Rentz juga mengatakan bahwa, para penulis barat ketika menggunakan istilah ‘Wahhâbî’ adalah dengan maksud ejekan, ia juga menyatakan bahwa ia menggunakan istilah itu sebagai klarifikasi.
Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya :
- Mereka menyebut dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb sebagai ‘Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh ‘Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad.
- Pada awalnya, ‘Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya.
Musuh-musuh dakwah, tidak menyebut dakwah ini dengan sebutan Muhammadiyyah –terutama semenjak Muhammad, bukan ayahnya, ‘Abdul Wahhâb, memulai dakwah ini- karena dengan menyebutkan kata ini, Muhammad, mereka bisa mendapatkan simpati dan dukungan dakwah, ketimbang permusuhan dan penolakan.
Istilah “Wahhâbi”, dimaksudkan sebagai ejekan dan untuk meyakinkan kaum muslimin supaya tidak mengambil ilmu atau menerima dakwah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb, yang telah digelari oleh mereka sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang tidak mencintai Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Walaupun demikian, penggunaan istilah ini telah menjadi sinonim dengan seruan (dakwah) untuk berpegang al-Qur`ân dan as-Sunnah dan suatu indikasi memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap salaf, yang berdakwah untuk mentauhîdkan Allôh semata serta memerintahkan untuk mentaati semua perintah Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.
Hal ini adalah kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh dakwah. Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya ‘alaihim`us Salâm untuknya (untuk dakwah tauhîd ini).
Menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah’ ini, tidak akan menghentikan penyebaran dakwah ini ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pada kenyataannya, walaupun berada di tengah-tengah dunia barat, banyak kaum muslimin yang mempraktekkan Islam murni ini, yang mana Imâm Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb secara antusias mendakwahkannya dan menjadikannya sebagai misi dakwah beliau. Semua ini disebabkan karena tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan al-Qur`ân dan as-Sunnah, tidak peduli sekuat apapun seseorang itu.
Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan (tashfiyah) dan mendidik (tarbiyah) bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ‘ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”.
Imâm Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik.
======
Oleh: Jalâl Abŭ Alrub dan Alâ Mencke (ed.), Biography and Mission of Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb (Orlando, Florida: Madinah Publisher, 1424/2003), hal. 677-81.
Sumber: Disini
Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali. Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.
Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan ‘Utsmâniyyah (Ottomans), Ibrâhîm Basyâ (Pasha), anak angkat Muhammad ‘Alî Basyâ (Pasha), juga menggunakan istilah ‘Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah (Heretics)’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb dan Negara Saudî. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah ‘Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan :
“Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan (menisbatkan) istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini.
- Margoliouth sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah ‘Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup ‘pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah ‘Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”.
- Thomas Patrick Hughes menggambarkan “Wahhâbiyyah” sebagai gerakan reformis Islâm yang didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb, yang menyatakan bahwa musuh-musuh mereka tidak mau menyebut mereka sebagai “Muhammadiyyah” (Muhammadans), malahan, mereka menyebutnya sebagai ‘Wahhâbî’, sebuah nama setelah namanya ayahnya Syaikh….
- George Rentz mengatakan bahwa istilah ‘Wahhâbî’ digunakan untuk mengambarkan para pengikut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb oleh musuh-musuh mereka sebagai ejekan bahwa Syaikh mendirikan sebuah sekte baru yang harus dihentikan dan aqidahnya ditentang. Mereka yang disebut dengan sebutan ‘Wahhâbî’ ini beranggapan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb hanyalah seorang pengikut Sunnah, oleh karena itulah mereka menolak istilah ini dan bahkan menuntut agar dakwah beliau disebut dengan ‘ad-Da’wah ila’t Tauhîd’, dimana istilah yang tepat untuk menggambarkan para pengikutnya adalah ‘Muwahhidŭn’…. Rentz juga mengatakan bahwa, para penulis barat ketika menggunakan istilah ‘Wahhâbî’ adalah dengan maksud ejekan, ia juga menyatakan bahwa ia menggunakan istilah itu sebagai klarifikasi.
Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya :
- Mereka menyebut dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb sebagai ‘Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh ‘Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad.
- Pada awalnya, ‘Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya.
Musuh-musuh dakwah, tidak menyebut dakwah ini dengan sebutan Muhammadiyyah –terutama semenjak Muhammad, bukan ayahnya, ‘Abdul Wahhâb, memulai dakwah ini- karena dengan menyebutkan kata ini, Muhammad, mereka bisa mendapatkan simpati dan dukungan dakwah, ketimbang permusuhan dan penolakan.
Istilah “Wahhâbi”, dimaksudkan sebagai ejekan dan untuk meyakinkan kaum muslimin supaya tidak mengambil ilmu atau menerima dakwah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb, yang telah digelari oleh mereka sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang tidak mencintai Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Walaupun demikian, penggunaan istilah ini telah menjadi sinonim dengan seruan (dakwah) untuk berpegang al-Qur`ân dan as-Sunnah dan suatu indikasi memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap salaf, yang berdakwah untuk mentauhîdkan Allôh semata serta memerintahkan untuk mentaati semua perintah Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.
Hal ini adalah kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh dakwah. Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya ‘alaihim`us Salâm untuknya (untuk dakwah tauhîd ini).
Menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah’ ini, tidak akan menghentikan penyebaran dakwah ini ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pada kenyataannya, walaupun berada di tengah-tengah dunia barat, banyak kaum muslimin yang mempraktekkan Islam murni ini, yang mana Imâm Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb secara antusias mendakwahkannya dan menjadikannya sebagai misi dakwah beliau. Semua ini disebabkan karena tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan al-Qur`ân dan as-Sunnah, tidak peduli sekuat apapun seseorang itu.
Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan (tashfiyah) dan mendidik (tarbiyah) bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ‘ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”.
Imâm Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik.
======
Oleh: Jalâl Abŭ Alrub dan Alâ Mencke (ed.), Biography and Mission of Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb (Orlando, Florida: Madinah Publisher, 1424/2003), hal. 677-81.
Sumber: Disini
Label:
adab,
aqidah,
dakwah islam : khairuddin,
manhaj,
sejarah
23 November 2009
Suara Hati Ibu dan Ayah..........., ANAKKU, AKU MENCINTAIMU
Anakku yang ku sayangi….
Pada suatu saat di kala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku
Jika banyak makanan yang tercecer di kala aku makan…
Jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri….sabarlah !
Jika aku mengulang hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku ! Dengarlah aku !
Ketika kau masih kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulanga-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur. Dan aku lakukan itu untukmu !
Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan bilang kepadaku bahwa itu memalukan.
Ingatlah berapa banyak pengertian yang ku berikan padamu menyuruhmu mandi di kala kecilmu.
By seeing my ignorance towards the new technologies, do not laugh of me but leave me rather the time to undeerstand
Aku mengajarimu banyak hal…..cara makan yang baik…cara berpakaian yang baik….berperilaku yang baik….bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan……
Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku,
karena yang penting bagiku adalah…..aku dapat bersamamu dan dapat berbicara denganmu
Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku !
Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tidak lapar.
Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya….
Bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu…….
Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup……, ketika aku ingin mati….jangan marah…., karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti !
Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar “hidup” lagi, namun kita juga “tidak mati”
Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.
Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usiaku yang sudah bertambah tua.
Kau harus ada di dekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang ku lakukan pada saat kau lahir.
Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran.
Satu hal yang membuatku harus berterima kasih padamu adalah senyum dan kecintaanmu padaku.
Aku mencintaimu anakku……
Ayahmu, Ibumu……
Selagi ada waktu, mari kita banggain kedua Orang Tua kita . Jangan pernah lelah meminta doa mereka, karena doa mereka lah yang akan mengawali kesuksesan kita. Dan juga jangan pernah bosan tuk selalu berdoa dan beristighfar untuk keduanya. Semoga kita sekeluarga bisa berkumpul kembali di jannah-Nya. Amin.
Afwan hanya ditampilkan kata-katanya, akan lebih bermakna bila dilengkapi dengan gambar-gambarnya (sayang tidak bisa).
Pada suatu saat di kala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku
Jika banyak makanan yang tercecer di kala aku makan…
Jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri….sabarlah !
Jika aku mengulang hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku ! Dengarlah aku !
Ketika kau masih kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulanga-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur. Dan aku lakukan itu untukmu !
Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan bilang kepadaku bahwa itu memalukan.
Ingatlah berapa banyak pengertian yang ku berikan padamu menyuruhmu mandi di kala kecilmu.
By seeing my ignorance towards the new technologies, do not laugh of me but leave me rather the time to undeerstand
Aku mengajarimu banyak hal…..cara makan yang baik…cara berpakaian yang baik….berperilaku yang baik….bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan……
Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku,
karena yang penting bagiku adalah…..aku dapat bersamamu dan dapat berbicara denganmu
Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku !
Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tidak lapar.
Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya….
Bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu…….
Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup……, ketika aku ingin mati….jangan marah…., karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti !
Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar “hidup” lagi, namun kita juga “tidak mati”
Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.
Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usiaku yang sudah bertambah tua.
Kau harus ada di dekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang ku lakukan pada saat kau lahir.
Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran.
Satu hal yang membuatku harus berterima kasih padamu adalah senyum dan kecintaanmu padaku.
Aku mencintaimu anakku……
Ayahmu, Ibumu……
Selagi ada waktu, mari kita banggain kedua Orang Tua kita . Jangan pernah lelah meminta doa mereka, karena doa mereka lah yang akan mengawali kesuksesan kita. Dan juga jangan pernah bosan tuk selalu berdoa dan beristighfar untuk keduanya. Semoga kita sekeluarga bisa berkumpul kembali di jannah-Nya. Amin.
Afwan hanya ditampilkan kata-katanya, akan lebih bermakna bila dilengkapi dengan gambar-gambarnya (sayang tidak bisa).
Label:
adab,
dakwah islam : khairuddin,
Tazkiyatun Nufs
وفي أنفسكم أفلا تبصرون..........
Setiap hari, Bermilyaran Nikmat yang Kita Dapatkan
Manusia diciptakan الله dengan keunikan yang luar bisaa. Menurut hasil penelitian ilmu kedokteran, jika seorang dewasa dengan bobot tubuh rata-rata, maka selama 24 jam ia memiliki kesibukan :
1. Jantung berdenyut 103.689 kali
2. Darah menempuh perjalanan 168.000.000 mil
3. Bernapas sebanyak 23.040 kali
4. menghirup udara sebanyak 483 meter kubik
5. Menelan 1,5 kg makanan
6. meminum 3,5 liter cairan
7. berkata-kata sebanyak 25.000 kata ( termasuk kata-kata yang tidak perlu di ucapkan)
8. Menggerakkan 750 otot
9. Rambut memanjang 0,94353 cm
10. Kuku bertumbuh 0,00012 cm
11. Sel otak sebanyak 7.000 terus bekerja.
Kita bisa membayangkan, bagaimana kalau seandainya kita dibebani Allah untuk membayar setiap kali jantung berdenyut, darah mengalir, bernafas, menghidup udara, menelan makanan, meminum cairan, berkata-kata, otot yang kita gerakkan, rambut yang memanjang, kuku bertumbuh dan sel otak yang bekerja? Berapakah yang harus kita bayar, setiap harinya?
Masihkan kita tidak bersyukur dan berterima kasih kepada Dzat yang Maha Kaya?
فَبِأَيِّ أَلَاءِرَبِّكُمَا تُكَذِّبَان
"Maka terhadap nikmat Rabb-Mu yang manakah yang kamu dustakan ?"
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba Mu yang senantiasa bersyukur. Amien....
Manusia diciptakan الله dengan keunikan yang luar bisaa. Menurut hasil penelitian ilmu kedokteran, jika seorang dewasa dengan bobot tubuh rata-rata, maka selama 24 jam ia memiliki kesibukan :
1. Jantung berdenyut 103.689 kali
2. Darah menempuh perjalanan 168.000.000 mil
3. Bernapas sebanyak 23.040 kali
4. menghirup udara sebanyak 483 meter kubik
5. Menelan 1,5 kg makanan
6. meminum 3,5 liter cairan
7. berkata-kata sebanyak 25.000 kata ( termasuk kata-kata yang tidak perlu di ucapkan)
8. Menggerakkan 750 otot
9. Rambut memanjang 0,94353 cm
10. Kuku bertumbuh 0,00012 cm
11. Sel otak sebanyak 7.000 terus bekerja.
Kita bisa membayangkan, bagaimana kalau seandainya kita dibebani Allah untuk membayar setiap kali jantung berdenyut, darah mengalir, bernafas, menghidup udara, menelan makanan, meminum cairan, berkata-kata, otot yang kita gerakkan, rambut yang memanjang, kuku bertumbuh dan sel otak yang bekerja? Berapakah yang harus kita bayar, setiap harinya?
Masihkan kita tidak bersyukur dan berterima kasih kepada Dzat yang Maha Kaya?
فَبِأَيِّ أَلَاءِرَبِّكُمَا تُكَذِّبَان
"Maka terhadap nikmat Rabb-Mu yang manakah yang kamu dustakan ?"
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba Mu yang senantiasa bersyukur. Amien....
Label:
adab,
dakwah islam : khairuddin,
Tazkiyatun Nufs
20 Oktober 2009
Aku Mencintaimu Ibu :’(
Kenanglah Ibu yang menyayangimu…
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kita pergi…
Ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu…
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu..? Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit..?
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan. Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.
Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang.
Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut. Jangan biarkan engkau kehilangan saat yang akan kau rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada… Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita…
Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia…
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya.
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.
Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan…
Tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit…
Tak ada lagi dan tak ada lagi yang meneteskan air mata mendo’akanmu di setiap hembusan nafasnya…
Kembalilah segera… Peluklah ibu yang selalu menyayangimu… Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.
Sahabat… berdo’alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya.
Jangan biarkan engkau menyesal di masa datang, kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu… Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya…
Ibu… maafkan aku… Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas.
I love you mom,….
Sumber : HORMATI IBUMU (Great Video)
–ummu zalfa–
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kita pergi…
Ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu…
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu..? Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit..?
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan. Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.
Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang.
Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut. Jangan biarkan engkau kehilangan saat yang akan kau rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada… Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita…
Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia…
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya.
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.
Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan…
Tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit…
Tak ada lagi dan tak ada lagi yang meneteskan air mata mendo’akanmu di setiap hembusan nafasnya…
Kembalilah segera… Peluklah ibu yang selalu menyayangimu… Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.
Sahabat… berdo’alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya.
Jangan biarkan engkau menyesal di masa datang, kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu… Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya…
Ibu… maafkan aku… Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas.
I love you mom,….
Sumber : HORMATI IBUMU (Great Video)
–ummu zalfa–
Label:
adab,
amal sosial,
dakwah islam : khairuddin
09 Oktober 2009
KATAKAN TIDAK PADA DORAEMON, SINCHAN, DRAGON BALL
Anak-anak ibarat "kertas putih" yang dapat dituliskan apa saja pada dirinya. Pada masa anak-anak, apa saja yang dilihat dan didengar dapat membekas di dalam sanubarinya yang masih polos, jika telah terukir di dalam hatinya, akan tergambar dan tersalurkan jika kelak mereka menjadi dewasa.
Tidak dipungkiri lagi, banyak beredar kisah-kisah menarik yang dikemas sedemikian rupa agar disukai anak-anak; kebanyakannya termasuk kisah-kisah fiktif yang dibumbui dengan cerita-cerita kebohongan, syirik, kebobrokan akhlaq, dan gambar bernyawa.
Walhasil, kita dapat melihat betapa banyak anak-anak muslim yang lebih mengenal tokoh-tokoh fiktif hasil produksi orang-orang kafir daripada mengenal tokoh-tokoh muslim, seperti para sahabat, dan ulama’ Salaf; betapa banyak anak-anak muslim yang menghafal cerita-cerita khurafat dibandingkan kisah-kisah penuh ibroh (pelajaran) yang telah diceritakan dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
Ketika anak-anak bergerombol di depan televisi tak ada satu orang tua pun yang bergeming dan prihatin sikap anak-anaknya. Padahal apabila kita perhatikan, maka nasib anak-anak kita berada dalam kondisi memprihatinkan. Bagaimana tidak, sementara film-film kartun tersebut mengajarkan kepada mereka pelanggaran-pelanggaran syariat Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
Tulisan yang ada di depan Anda ini akan membongkar kesesatan, dan penyimpangan beberapa film kartun yang paling populer di tengah-tengah masyarakat yang menyesatkan dan meninabobokkan cikal bakal umat ini.
* Doraemon si Boneka Ajaib
Konon kabarnya, Doraemon bisa pergi menjelajah di masa lalu dan di masa yang akan datang. Katanya, ia dapat mengadakan sesuatu yang belum ada menjadi ada dengan "kantong ajaibnya". Dalam kartun, ia digambarkan sebagai tempat untuk dimintai segala sesuatu yang ghaib oleh temannya. Lihatlah bagaiman film kartun tersebut betul-betul menyimpang dari aqidah.
Segala sesuatu telah ditetapkan waktu dan ajalnya oleh Allah -Ta’ala-. Makhluk tak mampu mengatur waktu, baik itu memajukannya atau mengundurkannya. Makhluk tak akan mampu menyebrang dari zaman kekinian menuju zaman lampau atau sebaliknya.
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya". (QS. Al-A’raaf: 34)
Kartun Doraemon telah mengajarkan aqidah (keyakinan) batil dalam benak anak-anak kita tentang adanya makhluk yang memiliki kemampuan yang menyamai Allah -Ta’ala- ; makhluk ini mampu mengadakan segala sesuatu yang belum ada menjadi ada. Padahal telah paten dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa tak ada makhluk yang mampu melakukan segala sesuatu yang ia kehendaki, karena itu semua ada dalam kekuasaan Allah; itu hanyalah sifat yang dimiliki Allah. Dia berfirman,
"Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (QS. Al-Baqoroh:253)
" Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki". (QS.Huud :107)
Tak terasa si Doraemon pun mengajari anak kecil untuk meminta dan berdoa kepada selain Allah dalam perkara yang tak mampu dilakukan oleh seorang makhluk, hanya bisa dilakukan oleh Allah -Ta’ala- . Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
"Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada seseorangpun di dalamnya di samping Allah". (QS. Al-Jin:18 ).
Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata, "Firman Allah ini adalah celaan bagi orang-orang musyrikin saat mereka berdoa kepada selain Allah di samping Allah di Masjidil Haram. Mujahid berkata, "Dulu orang-orang Yahudi dan Nashrani, jika masuk ke gereja, dan kuil mereka, maka mereka mempersekutukan Allah (dalam beribadah). Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya, dan kaum mukminin agar mereka memurnikan doanya hanya kepada Allah, jika mereka masuk ke semua masjid". [Lihat Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an (19/21)]
* Dragon Ball
Cerita ini dalam film ini banyak mengandung unsur kebatilan, seperti adanya penyembahan dewa-dewa seperti Dewa Emperor, Dewa Bumi, Dewa Gunung, Dewa Naga, dan lain-lain. Keyakinan ini seluruhnya berasal dari agama Budha, Hindu dan Shinto yang penuh dengan kebatilan dan kesesatan, sementara Allah hanyalah meridhoi Islam sebagai agama yang benar.
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imron : 19)
Mufassir ulung, Al-Imam Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata, "Firman Allah -Ta’ala- tersebut merupakan pengabaran dari-Nya bahwa tak ada agama di sisi-Nya yang Dia terima dari seorang pun selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul dalam perkara yang mereka diutus oleh Allah dengannya dalam setiap zaman sampai mereka (para rasul itu) ditutup dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang telah menutup semua jalan menuju kepada-Nya, selain dari arah Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Barangsiapa yang setelah diutusnya Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menemui Allah dengan suatu agama yang tidak berdasarkan syari’atnya, maka agama itu tak akan diterima". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (1/471)]
Jadi, agama apapun selain Islam, seperti agama Buddha, Hindu, Shinto, dan lainnya, semuanya tak akan diterima oleh Allah, dan pelakunya akan merugi, karena kekafiran dirinya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS. Ali Imron: 85 )
Seorang Imam Ahli Tafsir, Abul Fadhl Mahmud Al-Alusiy-rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini, "Allah -Ta’ala- menjelaskan bahwa barangsiapa yang–setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memilih selain syari’at beliau, maka agama itu tak akan diterima darinya. Sedangkan diterimanya sesuatu adalah diridhoinya, dan diberikannya balasan bagi pelakunya atas perbuatan itu". [Lihat Ruh Al-Ma'aniy (3/215)]
Jika kita telah mengetahui kebatilan agama selain Islam, maka tak layak bagi kita dan anak-anak kita untuk berbangga, meniru, dan memuji orang-orang kafir itu, dan gaya hidup mereka, apalagi sampai memilih agama mereka sebagai pedoman hidup !! Jauhkanlah anak-anak kita dari orang-orang kafir, jangan sampai mereka bangga dengan orang-orang kafir. Bersihkanlah mulut dan telinga mereka dari istilah-istilah orang-orang kafir, dan paganisme dengan jalan membersihkan rumah kita dari benda pembawa petaka (televisi) yang berisi tayangan yang mendangkalkan, bahkan menghanguskan agama. Kita harus baro’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir, dan sembahan-sembahan mereka,
"Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja". (QS. Al-Mumtahanah: 04).
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar punya pendirian terhadap orang-orang kafir. Kita harus tegas dalam menampakkan keyakinan kita. Jangan malah kita yang bangga dan tertipu dengan kekafiran mereka, karena hanya sekedar kemajuan semu yang mereka capai di dunia ini. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri-negeri". (QS.Ali Imran : 196).
Imam Para Ahli Tafsir, Abu Ja’far Ath-Thobariy-rahimahullah- berkata, "Allah -Ta’ala Dzikruh- melarang Nabi-Nya -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar jangan tertipu dengan bergerak (bebas)nya orang-orang kafir di negeri-negeri, dan penangguhan Allah bagi mereka, padahal mereka berbuat syirik, mengingkari nikmat-nikmat-Nya, dan beribadahnya mereka kepada selain-Nya". [Lihat Jami' Al-Bayan (3/557)]
Jadi, bebasnya mereka di muka bumi ini, dan majunya mereka dalam segala lini kehidupan jangan membuat kita tertipu dengan mereka, sehingga akhirnya tak lagi mengingkari kekafiran mereka, dan malah memilih sikap toleran bersama mereka dalam urusan agama (aqidah, ibadah, akhlaq, dan lainnya).
* Sincan (Simbol Anak Durhaka)
Sincan adalah anak yang sering mendurhakai kedua orang tuanya, dia suka berbohong, mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar kepada kedua orang tuanya, dan suka membuat orang tuanya marah dan jengkel. Jadi, jangan heran kalau banyak anak-anak yang meniru watak Sincan tersebut, karena telah terpengaruh oleh cerita kartun tersebut.
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". (QS. Al-Isroo’: 23 ).
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebutkan diantara dosa-dosa besar,
"Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua". Kemudian Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- duduk -sebelumnya bersandar- sambil bersabda, "Ingatlah, dan juga perkataan dusta". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2511), Muslim Shohih-nya (87), At-Tirmidziy Sunan-nya (1901), Ahmad Musnad-nya (20401)]
Abu Amr Ibnush Sholah-rahimahullah- berkata, "Mungkin bisa dikatakan, Taat kepada kedua orang tua adalah wajib dalam segala sesuatu yang bukan maksiat; menyelisihi perintah keduanya dalam hal itu adalah kedurhakaan". [Lihat Umdah Al-Qoriy (13/216)]
Jadi, termasuk dosa besar, jika seseorang mencela, membentak, merendahkan orang tuanya. Semua ini adalah bentuk-bentuk durhaka yang terlarang di dalam agama kita yang memiliki aturan yang amat sempurna !!
Inilah beberapa kesesatan film-film kartun tersebut. Namun kesalahan dan kesesatannya, sebenarnya masih banyak. Andaikan waktu dan tempat mencukupi, maka kami akan paparkan secara rinci sesuai tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah. Tapi sesuatu yang tak bisa dikerja dominannya, ya jangan ditinggalkan semuanya. Semoga pada waktu yang lain kami akan bahas kembali, Insya Allah.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 38 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Tidak dipungkiri lagi, banyak beredar kisah-kisah menarik yang dikemas sedemikian rupa agar disukai anak-anak; kebanyakannya termasuk kisah-kisah fiktif yang dibumbui dengan cerita-cerita kebohongan, syirik, kebobrokan akhlaq, dan gambar bernyawa.
Walhasil, kita dapat melihat betapa banyak anak-anak muslim yang lebih mengenal tokoh-tokoh fiktif hasil produksi orang-orang kafir daripada mengenal tokoh-tokoh muslim, seperti para sahabat, dan ulama’ Salaf; betapa banyak anak-anak muslim yang menghafal cerita-cerita khurafat dibandingkan kisah-kisah penuh ibroh (pelajaran) yang telah diceritakan dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
Ketika anak-anak bergerombol di depan televisi tak ada satu orang tua pun yang bergeming dan prihatin sikap anak-anaknya. Padahal apabila kita perhatikan, maka nasib anak-anak kita berada dalam kondisi memprihatinkan. Bagaimana tidak, sementara film-film kartun tersebut mengajarkan kepada mereka pelanggaran-pelanggaran syariat Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
Tulisan yang ada di depan Anda ini akan membongkar kesesatan, dan penyimpangan beberapa film kartun yang paling populer di tengah-tengah masyarakat yang menyesatkan dan meninabobokkan cikal bakal umat ini.
* Doraemon si Boneka Ajaib
Konon kabarnya, Doraemon bisa pergi menjelajah di masa lalu dan di masa yang akan datang. Katanya, ia dapat mengadakan sesuatu yang belum ada menjadi ada dengan "kantong ajaibnya". Dalam kartun, ia digambarkan sebagai tempat untuk dimintai segala sesuatu yang ghaib oleh temannya. Lihatlah bagaiman film kartun tersebut betul-betul menyimpang dari aqidah.
Segala sesuatu telah ditetapkan waktu dan ajalnya oleh Allah -Ta’ala-. Makhluk tak mampu mengatur waktu, baik itu memajukannya atau mengundurkannya. Makhluk tak akan mampu menyebrang dari zaman kekinian menuju zaman lampau atau sebaliknya.
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya". (QS. Al-A’raaf: 34)
Kartun Doraemon telah mengajarkan aqidah (keyakinan) batil dalam benak anak-anak kita tentang adanya makhluk yang memiliki kemampuan yang menyamai Allah -Ta’ala- ; makhluk ini mampu mengadakan segala sesuatu yang belum ada menjadi ada. Padahal telah paten dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa tak ada makhluk yang mampu melakukan segala sesuatu yang ia kehendaki, karena itu semua ada dalam kekuasaan Allah; itu hanyalah sifat yang dimiliki Allah. Dia berfirman,
"Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (QS. Al-Baqoroh:253)
" Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki". (QS.Huud :107)
Tak terasa si Doraemon pun mengajari anak kecil untuk meminta dan berdoa kepada selain Allah dalam perkara yang tak mampu dilakukan oleh seorang makhluk, hanya bisa dilakukan oleh Allah -Ta’ala- . Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
"Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada seseorangpun di dalamnya di samping Allah". (QS. Al-Jin:18 ).
Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata, "Firman Allah ini adalah celaan bagi orang-orang musyrikin saat mereka berdoa kepada selain Allah di samping Allah di Masjidil Haram. Mujahid berkata, "Dulu orang-orang Yahudi dan Nashrani, jika masuk ke gereja, dan kuil mereka, maka mereka mempersekutukan Allah (dalam beribadah). Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya, dan kaum mukminin agar mereka memurnikan doanya hanya kepada Allah, jika mereka masuk ke semua masjid". [Lihat Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an (19/21)]
* Dragon Ball
Cerita ini dalam film ini banyak mengandung unsur kebatilan, seperti adanya penyembahan dewa-dewa seperti Dewa Emperor, Dewa Bumi, Dewa Gunung, Dewa Naga, dan lain-lain. Keyakinan ini seluruhnya berasal dari agama Budha, Hindu dan Shinto yang penuh dengan kebatilan dan kesesatan, sementara Allah hanyalah meridhoi Islam sebagai agama yang benar.
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imron : 19)
Mufassir ulung, Al-Imam Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata, "Firman Allah -Ta’ala- tersebut merupakan pengabaran dari-Nya bahwa tak ada agama di sisi-Nya yang Dia terima dari seorang pun selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul dalam perkara yang mereka diutus oleh Allah dengannya dalam setiap zaman sampai mereka (para rasul itu) ditutup dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang telah menutup semua jalan menuju kepada-Nya, selain dari arah Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Barangsiapa yang setelah diutusnya Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menemui Allah dengan suatu agama yang tidak berdasarkan syari’atnya, maka agama itu tak akan diterima". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (1/471)]
Jadi, agama apapun selain Islam, seperti agama Buddha, Hindu, Shinto, dan lainnya, semuanya tak akan diterima oleh Allah, dan pelakunya akan merugi, karena kekafiran dirinya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS. Ali Imron: 85 )
Seorang Imam Ahli Tafsir, Abul Fadhl Mahmud Al-Alusiy-rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini, "Allah -Ta’ala- menjelaskan bahwa barangsiapa yang–setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memilih selain syari’at beliau, maka agama itu tak akan diterima darinya. Sedangkan diterimanya sesuatu adalah diridhoinya, dan diberikannya balasan bagi pelakunya atas perbuatan itu". [Lihat Ruh Al-Ma'aniy (3/215)]
Jika kita telah mengetahui kebatilan agama selain Islam, maka tak layak bagi kita dan anak-anak kita untuk berbangga, meniru, dan memuji orang-orang kafir itu, dan gaya hidup mereka, apalagi sampai memilih agama mereka sebagai pedoman hidup !! Jauhkanlah anak-anak kita dari orang-orang kafir, jangan sampai mereka bangga dengan orang-orang kafir. Bersihkanlah mulut dan telinga mereka dari istilah-istilah orang-orang kafir, dan paganisme dengan jalan membersihkan rumah kita dari benda pembawa petaka (televisi) yang berisi tayangan yang mendangkalkan, bahkan menghanguskan agama. Kita harus baro’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir, dan sembahan-sembahan mereka,
"Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja". (QS. Al-Mumtahanah: 04).
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar punya pendirian terhadap orang-orang kafir. Kita harus tegas dalam menampakkan keyakinan kita. Jangan malah kita yang bangga dan tertipu dengan kekafiran mereka, karena hanya sekedar kemajuan semu yang mereka capai di dunia ini. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri-negeri". (QS.Ali Imran : 196).
Imam Para Ahli Tafsir, Abu Ja’far Ath-Thobariy-rahimahullah- berkata, "Allah -Ta’ala Dzikruh- melarang Nabi-Nya -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar jangan tertipu dengan bergerak (bebas)nya orang-orang kafir di negeri-negeri, dan penangguhan Allah bagi mereka, padahal mereka berbuat syirik, mengingkari nikmat-nikmat-Nya, dan beribadahnya mereka kepada selain-Nya". [Lihat Jami' Al-Bayan (3/557)]
Jadi, bebasnya mereka di muka bumi ini, dan majunya mereka dalam segala lini kehidupan jangan membuat kita tertipu dengan mereka, sehingga akhirnya tak lagi mengingkari kekafiran mereka, dan malah memilih sikap toleran bersama mereka dalam urusan agama (aqidah, ibadah, akhlaq, dan lainnya).
* Sincan (Simbol Anak Durhaka)
Sincan adalah anak yang sering mendurhakai kedua orang tuanya, dia suka berbohong, mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar kepada kedua orang tuanya, dan suka membuat orang tuanya marah dan jengkel. Jadi, jangan heran kalau banyak anak-anak yang meniru watak Sincan tersebut, karena telah terpengaruh oleh cerita kartun tersebut.
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". (QS. Al-Isroo’: 23 ).
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebutkan diantara dosa-dosa besar,
"Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua". Kemudian Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- duduk -sebelumnya bersandar- sambil bersabda, "Ingatlah, dan juga perkataan dusta". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2511), Muslim Shohih-nya (87), At-Tirmidziy Sunan-nya (1901), Ahmad Musnad-nya (20401)]
Abu Amr Ibnush Sholah-rahimahullah- berkata, "Mungkin bisa dikatakan, Taat kepada kedua orang tua adalah wajib dalam segala sesuatu yang bukan maksiat; menyelisihi perintah keduanya dalam hal itu adalah kedurhakaan". [Lihat Umdah Al-Qoriy (13/216)]
Jadi, termasuk dosa besar, jika seseorang mencela, membentak, merendahkan orang tuanya. Semua ini adalah bentuk-bentuk durhaka yang terlarang di dalam agama kita yang memiliki aturan yang amat sempurna !!
Inilah beberapa kesesatan film-film kartun tersebut. Namun kesalahan dan kesesatannya, sebenarnya masih banyak. Andaikan waktu dan tempat mencukupi, maka kami akan paparkan secara rinci sesuai tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah. Tapi sesuatu yang tak bisa dikerja dominannya, ya jangan ditinggalkan semuanya. Semoga pada waktu yang lain kami akan bahas kembali, Insya Allah.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 38 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Label:
adab,
aqidah,
dakwah islam : khairuddin,
manhaj
07 Oktober 2009
Syaikh Muqbil Keras Atas Terorisme, Usamah bin Ladin Cs. Syaefuddin Zuhri bukan muridnya !
Dalam sebuah pertemuan bersama ‘Allamatul Yaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, dalam surat kabar Ar-Ra’yul ‘Am Kuwait tertanggal 19 Desember 1998 edisi 11.503, beliau berkata :
“Aku berlepas diri di hadapan Allah dari (kesesatan) Bin Laden. Dia merupakan kejahatan dan musibah terhadap umat ini, dan aktivitasnya adalah aktivitas kejahatan.”
Dalam pertemuan yang sama, berkata seorang penanya :
"Kita dapati kaum muslimin selalu dihadapkan dengan tekanan-tekanan di negeri-negeri barat hanya dengan sebab adanya sebuah peledakan di mana saja terjadi di alam ini?“
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab :
“Saya mengetahui hal itu, dan saya telah dihubungi oleh beberapa ikhwan dari negeri Inggris yang mengeluhkan adanya tekanan-tekanan yang mereka alami. Mereka bertanya apakah boleh mengumumkan sikap berlepas diri mereka dari Usamah bin Laden. Maka aku menjawab :
Kami semua berlepas diri darinya dan aktivitas-aktivitasnya sejak jauh sebelum ini. Dan realita menyaksikan bahwa muslimin (yang hidup) di negeri-negeri barat tertekan dengan sebab adanya gerakan-gerakan yang diperankan oleh kelompok Al Ikhwanul Muslimun dan kelompok-kelompok yang lainnya. Wallahul Musta’an.“
Penanya tersebut berkata : “Tidakkah engkau memberikan nasehat kepada Usamah bin Laden?“
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab :
“Aku telah mengirim beberapa kritikan (kepada Usamah bin Laden), tetapi wallahu a’lam apakah nasehat-nasehat tersebut telah sampai kepadanya ataukah tidak. Telah datang kepadaku utusan dari mereka yang menawarkan bantuan pada kami untuk berda’wah. Namun setelah itu kami dikejutkan dengan sikap mereka yang mengirimkan sejumlah uang dan meminta kepada kami untuk membagikannya kepada para pimpinan qabilah untuk pembelian tank-tank dan senjata-senjata. Aku menolak tawaran mereka dan aku meminta kepada mereka untuk tidak datang lagi ke kediamanku. Kemudian aku jelaskan kepada mereka bahwa aktivitas kami adalah aktivitas da’wah saja. Dan tidak akan pernah kami ijinkan kepada murid-murid kami untuk melakukan kegiatan selain da’wah.”
-selesai dari Koran Ar Ra’yul ‘Am–
* * *
Asy-Syaikh Muqbil juga berkata dalam kitabnya Tuhfatul Mujib, hasil transkrip sebuah ceramah beliau tertanggal 18 Shafar 1417 H. dengan judul : “Di Balik Peristiwa Peledakan-peledakan di bumi Al Haramain” :
“…begitu pula adanya penyandaran perkara-perkara umat kepada orang-orang jahil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata :
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَ لَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتىَّ إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهًّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَ أَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dicabut dari qalbu-qalbu manusia. Akan tetapi Allah mencabutnya dengan mewafatkan para ‘ulama. Sehingga kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh, kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [HR. Al Bukhari & Muslim]
Seperti apa yang pernah dikatakan, bahwa sang ‘alim ini dia tidak mengetahui tentang realita umat sedikitpun, atau dijuluki dengan seorang ‘alim yang jumud, hal itu dalam rangka menjauhkan umat dari para ‘ulama tersebut, sebagaimana pernah dimuat dalam majalah “As Sunnah” [1]) –semestinya majalah tersebut diberi nama dengan majalah “Al Bid’ah“– yang telah nampak permusuhannya yang sangat besar terhadap ahlus sunnah sejak pecahnya perang teluk (th. 1990-1991 M).
Aku pun berkata, sesungguhnya kaum muslimin ketika mereka mulai meninggalkan sikap ruju’ (mengembalikan setiap permasalahan mereka) kepada para ‘ulama, akhirmya mereka tersesat. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
و إذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به، و لو ردوه إلى الرسول و إلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم و لو لا فضل الله عليكم و رحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا
Jika datang kepada mereka suatu berita tentang ketentraman atau ketakutan (kekacauan) mereka segera menyiarkannya/menyebarkannya. Seandainya mereka mau menyerahkan (jawaban) perkara tersebut kepada Rasul dan Ulil Amri (para ‘ulama) di tengah-tengah mereka, maka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan mengetahuinya dari mereka (yakni Rasul dan para ‘ulama). Kalaulah tidak karena karunia dan rahmat Allah pada kamu, tentu kamu mengikuti syaithan, kecuali sebagian kecil saja di antara kamu. [An Nisa : 83]
Yang dimaksud Ulil Amri pada ayat tersebut adalah para ‘ulama dan para umara’ (para penguasa) serta para ‘uqala (orang yang berakal jernih) yang shalih.
Begitu pula peristiwa yang terjadi pada masa Qarun, ketika dia keluar di hadapan kaumnya dengan menampilkan segala kekayaannya, maka orang-orang yang cinta dunia menyatakan :
يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون إنّه لذو حظّ عظيم * وقال الّذين أوتوا العلم ويلكم ثواب الله خير لمن آمن وعمل صالحًا ولا يلقّاها إلاّ الصّابرون
‘Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia (Qarun) benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. (Namun) ahlul ilmi berkata : ‘Kecelakaan yang besar bagimu, pahala yang Allah berikan adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala tersebut, kecuali oleh orang-orang yang sabar. [Al Qashash : 79-80]
Sementara para ‘ulama meletakkan semua perkara sesuai pada tempatnya masing-masing. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman :
وتلك الأمثال نضربها للنّاس وما يعقلها إلاّ العالمون
Dan itulah permisalan-permisalan yang Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. [Al ‘Ankabut : 43]
إنّ في ذلك لآيات للعالمين
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu. [Ar Rum : 22]
إنما يخشى الله من عباده العلماء
Sesungguhnya di antara hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ‘ulama. [Fathir : 28]
يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين أوتوا العلم درجات
Allah meninggikan orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat. [Al Mujadalah : 11]
Yang diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala para ‘ulama ataukah mereka para penyeru dan pelaku gerakan revolusi dan kudeta??! Telah disebutkan di dalam Shahih Al Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya :
مَتىَ السَّاعَةُ؟… فقال : إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
Kapan datangnya Hari Kiamat?
Beliau menjawab : “Jika setiap urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kedatangan Hari Kiamat tersebut.” [2])
Kebanyakan para pimpinan partai (kelompok-kelompok) adalah orang-orang jahil. Di antara contoh-contoh fitnah (yang menimpa kaum muslimin) adalah fitnah yang sudah hampir menguasai Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden, yang apabila datang seseorang mengatakan kepadanya : “Kami membutuhkan dana senilai 20 ribu Real Saudi untuk membangun sebuah masjid di suatu tempat tertentu.” Maka dia (Bin Laden) akan menjawab : “Kami tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dana tersebut. Insya Allah kami akan memberikan sebatas kemampuan kami.” Namun apabila dikatakan kepadanya : “Kami membutuhkan tank-tank dan senjata-senjata, dll.” (Serta merta) dia akan menjawab : “Silahkan ambil dana ini yang senilai 100 ribu Real Saudi (atau lebih) dan Insya Allah akan menyusul tambahan berikutnya.”
Asy-Syaikh Muqbil juga berkata di dalam kitab yang sama :
“…Lalu bagaimana pula dengan mereka-mereka yang telah membunuh 20 orang Amerika tetapi dengan itu mereka membikin takut penduduk negeri muslimin secara menyeluruh. Maka wajib bagi kita untuk membekali para pelajar dan para pemuda yang brutal dengan ilmu, dan didatangkan untuk mereka para ‘ulama yang akan membimbing mereka, seperti Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan yang semisalnya dari kalangan para ‘ulama yang mulia untuk menjelaskan kepada umat bahwasanya urusan agama ini tidak boleh diambil dari orang semisal Usamah bin Laden dan Al Mis’ari atau yang lainnya. Tetapi perkara agama ini harus diambil dari kalangan ‘ulama. …. Bahkan sesungguhnya umat ini masih sangat membutuhkan seribu ‘ulama semisal Asy-Syaikh Bin Baz, dan seribu ‘ulama lain semisal Asy-Syaikh Al-Albani.”
(Dari buku Mereka Adalah Teroris, Pustaka Qaulan Sadida, hal. 270 - 274/cet. II)
Benarkah Syaikh Muqbil Mengajarkan & Pro Terorisme ?
Benarkah Syaikh Muqbil pro terorisme, dan juga mengajarkan paham sesat tersebut kepada murid-muridnya?
Menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya kita mendapat verifikasi langsung dari para alumnus yang pernah belajar di Pesantren Syaikh Muqbil. Untuk itu di sini kami ketengahkan jawaban dari Ustadz Luqman.
Alumnus Pesantren Darul Hadits Dammaj yang belajar di sana sejak 1994 itu mengatakan, “Justru Syaikh Muqbil itu sangat dibenci oleh para teroris – khawarij. Karena memang beliau termasuk di antara ‘ulama yang gencar membantah paham terorisme – khawarij serta membongkar berbagai kerancuan dan dalih-dalih mereka,hal ini dapat diketahui dari berbagai pelajaran yang beliau sampaikan, serta berbagai ceramah dan karya tulis beliau. Hal ini mengakibatkan kebencian kaum teroris – khawarij kepada Syaikh Muqbil, sehingga telah dilakukan berkali-kali upaya pembunuhan terhadap beliau. Di antara yang saya ingat adalah kejadian pada akhir 90-an, upaya peledakan di kota ‘Adn, yang sengaja dilakukan oleh kaum teroris – khawarij di Yaman untuk membunuh beliau ketika berceramah di masjid jami’ kota tersebut. Namun dengan taqdir dan pertolongan Allah, beliau terselamatkan, sedangkan bom meledak dengan dahsyat sehingga membuat tubuh si teroris hancur berkeping-keping.”
Dakwah yang ditegakkan oleh Syaikh Muqbil adalah Dakwah Salafiyyah, yaitu dakwah yang ditegakkan di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan meniti jejak para salafush shalih (para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in). Demikian juga di pesantren beliau yang diajarkan adalah ilmu tafsir, hadits, fiqh, dan berbagai cabang ilmu agama lainnya dengan berdasarkan metode manhaj salafiyyah. Sama sekali tidak diajarkan terorisme. Bahkan justru beliau banyak membantah berbagai paham sesat yang ada, baik terorisme – khawarij, Syi’ah Rafidhah, Shufiyyah, Liberalisme, dan lainnya.
Demikian juga para murid syaikh Muqbil yang kini menjadi para ‘ulama besar di Yaman. Antara lain : di kota Al-Hudaidah ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, di Ma’bar ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, di Mafraqhubaisy ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i, di Shan’a ada Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shaumali, di Hadhramaut ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i, di ‘Aden ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i, demikian juga di desa Dzamar ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Adz-Dzamiri, dan lainnya, semuanya adalah para murid besar Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Untuk melihat kiprah mereka silakan kunjungi www.olamayemen.com .
Mereka semua mengajarkan manhaj salaf, ilmu yang benar, ketaatan kepada pemerintah muslim, mengajarkan kedamaian, kelembutan, kasih sayang. Di samping membantah berbagai aliran dan paham sesat, baik khawarij teroris, syi’ah rafidhah, liberalisme, shufi, dan sebagainya.
Demikian juga di Indonesia banyak para alumnus yang kini mereka sebagai para ustadz pengasuh pondok pesantren ahlus sunnah, antara lain : Ust. Muhammad Sarbini pengasuh PP. Minhajus Sunnah Muntilan - Magelang, Ust. Askari pengasuh PP. Ibnul Qayyim di Balikpapan, Ust. Abdush Shamad Pengasuh Ahlus Sunnah di Pemalang, Ust. Syafruddin Abu Ubaidah pengasuh PP. Darul Atsar Al-Islamy di Sorong, Ust. Abdul Jabbar dan Ust. ‘Abdul Haq pengasuh PP. Darus Sunnah Al-Khairiyyah di Bantul, Ust. ‘Abdurrahman Lombok pengasuh PP. Imam Syafi’i Sumbawa Besar, Ust. ‘Abdul Mu’thi pengasuh PP. Al-Anshor di Yogyakarta, Ust. Muslim pengasuh PP. Al-Furqan Kroya – Cilacap, Ust. Azhari pengasuh PP. Darul Mufassirin di Pangkep – Makassar, Ust. Fauzan pengasuh PP. Darus Salaf di Sragen, Ust. Idral Harits pengasuh PP. Darus Salaf di Solo, Ust. Ja’far Shalih pengasuh PP. Madrasah Salafiyah di Depok, Ust. Abu Hamzah Yusuf pengasuh PP. Adhwaus Salaf di Bandung, Ust. Adnan pengasuh PP. Ahlus Sunnah di Manado, Ust. Mahmud Pondok Pesantren Ahlus Sunnah di Purwakarta, dan masih banyak lagi lainnya yang belum disebutkan di sini.
Kiprah para ustadz tersebut sangat jelas. Mereka tampil mengibarkan Dakwah Salafiyyah di Indonesia, dan sangat nampak kebenciannya terhadap paham teroris khawarij, dan berbagai paham sesat lainnya. Bisa dilihat pada ceramah-ceramah mereka, karya tulis mereka, taklim-taklim mereka di pondok pesantren masing-masing, ataupun situs-situs internet mereka.
“Sehingga kalau pun benar pengakuan Syaifuddin bahwa dirinya pernah belajar ke Syaikh Muqbil, maka dia sendirilah yang nyleneh, menyelisihi murid-murid Syaikh Muqbil. Dia bukanlah murid sejati yang bisa mengambil manfaat dari ilmu yang diajarkan oleh Syaikh Muqbil. Justru dia tetap berada di atas kesesatan, walaupun telah sampai di tempat ilmu yang benar. Dengan demikian Syaifuddin telah merusak nama baik Syaikh Muqbil rahimahullah dan Pondok Pesantrennya.”, tandas Ustadz Luqman.
Ustadz Luqman juga menambahkan, "Tentunya kita masih ingat kisah Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri dengan muridnya yang bernama Washil bin 'Atho pada masa tabi'in. Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang tokoh besar ahlus sunnah, di majelisnya beliau senantiasa mengajarkan metode pemahaman ahlus sunnah. Murid-muridnya pun menerima dan berpegang kepada metode pemahaman ahlus sunnah sebagaimana diajarkan oleh gurunya. Namun si Washil bin Atho' adalah seorang murid yang telah bercokol di kepalanya paham sesat Mu'tazilah. Ia tidak bisa menerima pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Maka ia pun pergi meninggalkan majelis sang gurunya. Sehingga dengan itu segala penyimpangan paham Washil bin Atho' tidak boleh dikaitkan dengan imam besar Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah."
(Dikutip dari email al Ustadz Abu Amr Ahmad dan dimuat di http://www.merekaadalahteroris.com/m
“Aku berlepas diri di hadapan Allah dari (kesesatan) Bin Laden. Dia merupakan kejahatan dan musibah terhadap umat ini, dan aktivitasnya adalah aktivitas kejahatan.”
Dalam pertemuan yang sama, berkata seorang penanya :
"Kita dapati kaum muslimin selalu dihadapkan dengan tekanan-tekanan di negeri-negeri barat hanya dengan sebab adanya sebuah peledakan di mana saja terjadi di alam ini?“
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab :
“Saya mengetahui hal itu, dan saya telah dihubungi oleh beberapa ikhwan dari negeri Inggris yang mengeluhkan adanya tekanan-tekanan yang mereka alami. Mereka bertanya apakah boleh mengumumkan sikap berlepas diri mereka dari Usamah bin Laden. Maka aku menjawab :
Kami semua berlepas diri darinya dan aktivitas-aktivitasnya sejak jauh sebelum ini. Dan realita menyaksikan bahwa muslimin (yang hidup) di negeri-negeri barat tertekan dengan sebab adanya gerakan-gerakan yang diperankan oleh kelompok Al Ikhwanul Muslimun dan kelompok-kelompok yang lainnya. Wallahul Musta’an.“
Penanya tersebut berkata : “Tidakkah engkau memberikan nasehat kepada Usamah bin Laden?“
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab :
“Aku telah mengirim beberapa kritikan (kepada Usamah bin Laden), tetapi wallahu a’lam apakah nasehat-nasehat tersebut telah sampai kepadanya ataukah tidak. Telah datang kepadaku utusan dari mereka yang menawarkan bantuan pada kami untuk berda’wah. Namun setelah itu kami dikejutkan dengan sikap mereka yang mengirimkan sejumlah uang dan meminta kepada kami untuk membagikannya kepada para pimpinan qabilah untuk pembelian tank-tank dan senjata-senjata. Aku menolak tawaran mereka dan aku meminta kepada mereka untuk tidak datang lagi ke kediamanku. Kemudian aku jelaskan kepada mereka bahwa aktivitas kami adalah aktivitas da’wah saja. Dan tidak akan pernah kami ijinkan kepada murid-murid kami untuk melakukan kegiatan selain da’wah.”
-selesai dari Koran Ar Ra’yul ‘Am–
* * *
Asy-Syaikh Muqbil juga berkata dalam kitabnya Tuhfatul Mujib, hasil transkrip sebuah ceramah beliau tertanggal 18 Shafar 1417 H. dengan judul : “Di Balik Peristiwa Peledakan-peledakan di bumi Al Haramain” :
“…begitu pula adanya penyandaran perkara-perkara umat kepada orang-orang jahil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata :
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَ لَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتىَّ إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهًّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَ أَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dicabut dari qalbu-qalbu manusia. Akan tetapi Allah mencabutnya dengan mewafatkan para ‘ulama. Sehingga kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh, kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [HR. Al Bukhari & Muslim]
Seperti apa yang pernah dikatakan, bahwa sang ‘alim ini dia tidak mengetahui tentang realita umat sedikitpun, atau dijuluki dengan seorang ‘alim yang jumud, hal itu dalam rangka menjauhkan umat dari para ‘ulama tersebut, sebagaimana pernah dimuat dalam majalah “As Sunnah” [1]) –semestinya majalah tersebut diberi nama dengan majalah “Al Bid’ah“– yang telah nampak permusuhannya yang sangat besar terhadap ahlus sunnah sejak pecahnya perang teluk (th. 1990-1991 M).
Aku pun berkata, sesungguhnya kaum muslimin ketika mereka mulai meninggalkan sikap ruju’ (mengembalikan setiap permasalahan mereka) kepada para ‘ulama, akhirmya mereka tersesat. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
و إذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به، و لو ردوه إلى الرسول و إلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم و لو لا فضل الله عليكم و رحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا
Jika datang kepada mereka suatu berita tentang ketentraman atau ketakutan (kekacauan) mereka segera menyiarkannya/menyebarkannya. Seandainya mereka mau menyerahkan (jawaban) perkara tersebut kepada Rasul dan Ulil Amri (para ‘ulama) di tengah-tengah mereka, maka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan mengetahuinya dari mereka (yakni Rasul dan para ‘ulama). Kalaulah tidak karena karunia dan rahmat Allah pada kamu, tentu kamu mengikuti syaithan, kecuali sebagian kecil saja di antara kamu. [An Nisa : 83]
Yang dimaksud Ulil Amri pada ayat tersebut adalah para ‘ulama dan para umara’ (para penguasa) serta para ‘uqala (orang yang berakal jernih) yang shalih.
Begitu pula peristiwa yang terjadi pada masa Qarun, ketika dia keluar di hadapan kaumnya dengan menampilkan segala kekayaannya, maka orang-orang yang cinta dunia menyatakan :
يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون إنّه لذو حظّ عظيم * وقال الّذين أوتوا العلم ويلكم ثواب الله خير لمن آمن وعمل صالحًا ولا يلقّاها إلاّ الصّابرون
‘Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia (Qarun) benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. (Namun) ahlul ilmi berkata : ‘Kecelakaan yang besar bagimu, pahala yang Allah berikan adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala tersebut, kecuali oleh orang-orang yang sabar. [Al Qashash : 79-80]
Sementara para ‘ulama meletakkan semua perkara sesuai pada tempatnya masing-masing. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman :
وتلك الأمثال نضربها للنّاس وما يعقلها إلاّ العالمون
Dan itulah permisalan-permisalan yang Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. [Al ‘Ankabut : 43]
إنّ في ذلك لآيات للعالمين
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu. [Ar Rum : 22]
إنما يخشى الله من عباده العلماء
Sesungguhnya di antara hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ‘ulama. [Fathir : 28]
يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين أوتوا العلم درجات
Allah meninggikan orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat. [Al Mujadalah : 11]
Yang diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala para ‘ulama ataukah mereka para penyeru dan pelaku gerakan revolusi dan kudeta??! Telah disebutkan di dalam Shahih Al Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya :
مَتىَ السَّاعَةُ؟… فقال : إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
Kapan datangnya Hari Kiamat?
Beliau menjawab : “Jika setiap urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kedatangan Hari Kiamat tersebut.” [2])
Kebanyakan para pimpinan partai (kelompok-kelompok) adalah orang-orang jahil. Di antara contoh-contoh fitnah (yang menimpa kaum muslimin) adalah fitnah yang sudah hampir menguasai Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden, yang apabila datang seseorang mengatakan kepadanya : “Kami membutuhkan dana senilai 20 ribu Real Saudi untuk membangun sebuah masjid di suatu tempat tertentu.” Maka dia (Bin Laden) akan menjawab : “Kami tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dana tersebut. Insya Allah kami akan memberikan sebatas kemampuan kami.” Namun apabila dikatakan kepadanya : “Kami membutuhkan tank-tank dan senjata-senjata, dll.” (Serta merta) dia akan menjawab : “Silahkan ambil dana ini yang senilai 100 ribu Real Saudi (atau lebih) dan Insya Allah akan menyusul tambahan berikutnya.”
Asy-Syaikh Muqbil juga berkata di dalam kitab yang sama :
“…Lalu bagaimana pula dengan mereka-mereka yang telah membunuh 20 orang Amerika tetapi dengan itu mereka membikin takut penduduk negeri muslimin secara menyeluruh. Maka wajib bagi kita untuk membekali para pelajar dan para pemuda yang brutal dengan ilmu, dan didatangkan untuk mereka para ‘ulama yang akan membimbing mereka, seperti Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan yang semisalnya dari kalangan para ‘ulama yang mulia untuk menjelaskan kepada umat bahwasanya urusan agama ini tidak boleh diambil dari orang semisal Usamah bin Laden dan Al Mis’ari atau yang lainnya. Tetapi perkara agama ini harus diambil dari kalangan ‘ulama. …. Bahkan sesungguhnya umat ini masih sangat membutuhkan seribu ‘ulama semisal Asy-Syaikh Bin Baz, dan seribu ‘ulama lain semisal Asy-Syaikh Al-Albani.”
(Dari buku Mereka Adalah Teroris, Pustaka Qaulan Sadida, hal. 270 - 274/cet. II)
Benarkah Syaikh Muqbil Mengajarkan & Pro Terorisme ?
Benarkah Syaikh Muqbil pro terorisme, dan juga mengajarkan paham sesat tersebut kepada murid-muridnya?
Menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya kita mendapat verifikasi langsung dari para alumnus yang pernah belajar di Pesantren Syaikh Muqbil. Untuk itu di sini kami ketengahkan jawaban dari Ustadz Luqman.
Alumnus Pesantren Darul Hadits Dammaj yang belajar di sana sejak 1994 itu mengatakan, “Justru Syaikh Muqbil itu sangat dibenci oleh para teroris – khawarij. Karena memang beliau termasuk di antara ‘ulama yang gencar membantah paham terorisme – khawarij serta membongkar berbagai kerancuan dan dalih-dalih mereka,hal ini dapat diketahui dari berbagai pelajaran yang beliau sampaikan, serta berbagai ceramah dan karya tulis beliau. Hal ini mengakibatkan kebencian kaum teroris – khawarij kepada Syaikh Muqbil, sehingga telah dilakukan berkali-kali upaya pembunuhan terhadap beliau. Di antara yang saya ingat adalah kejadian pada akhir 90-an, upaya peledakan di kota ‘Adn, yang sengaja dilakukan oleh kaum teroris – khawarij di Yaman untuk membunuh beliau ketika berceramah di masjid jami’ kota tersebut. Namun dengan taqdir dan pertolongan Allah, beliau terselamatkan, sedangkan bom meledak dengan dahsyat sehingga membuat tubuh si teroris hancur berkeping-keping.”
Dakwah yang ditegakkan oleh Syaikh Muqbil adalah Dakwah Salafiyyah, yaitu dakwah yang ditegakkan di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan meniti jejak para salafush shalih (para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in). Demikian juga di pesantren beliau yang diajarkan adalah ilmu tafsir, hadits, fiqh, dan berbagai cabang ilmu agama lainnya dengan berdasarkan metode manhaj salafiyyah. Sama sekali tidak diajarkan terorisme. Bahkan justru beliau banyak membantah berbagai paham sesat yang ada, baik terorisme – khawarij, Syi’ah Rafidhah, Shufiyyah, Liberalisme, dan lainnya.
Demikian juga para murid syaikh Muqbil yang kini menjadi para ‘ulama besar di Yaman. Antara lain : di kota Al-Hudaidah ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, di Ma’bar ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, di Mafraqhubaisy ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i, di Shan’a ada Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shaumali, di Hadhramaut ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i, di ‘Aden ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i, demikian juga di desa Dzamar ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Adz-Dzamiri, dan lainnya, semuanya adalah para murid besar Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Untuk melihat kiprah mereka silakan kunjungi www.olamayemen.com .
Mereka semua mengajarkan manhaj salaf, ilmu yang benar, ketaatan kepada pemerintah muslim, mengajarkan kedamaian, kelembutan, kasih sayang. Di samping membantah berbagai aliran dan paham sesat, baik khawarij teroris, syi’ah rafidhah, liberalisme, shufi, dan sebagainya.
Demikian juga di Indonesia banyak para alumnus yang kini mereka sebagai para ustadz pengasuh pondok pesantren ahlus sunnah, antara lain : Ust. Muhammad Sarbini pengasuh PP. Minhajus Sunnah Muntilan - Magelang, Ust. Askari pengasuh PP. Ibnul Qayyim di Balikpapan, Ust. Abdush Shamad Pengasuh Ahlus Sunnah di Pemalang, Ust. Syafruddin Abu Ubaidah pengasuh PP. Darul Atsar Al-Islamy di Sorong, Ust. Abdul Jabbar dan Ust. ‘Abdul Haq pengasuh PP. Darus Sunnah Al-Khairiyyah di Bantul, Ust. ‘Abdurrahman Lombok pengasuh PP. Imam Syafi’i Sumbawa Besar, Ust. ‘Abdul Mu’thi pengasuh PP. Al-Anshor di Yogyakarta, Ust. Muslim pengasuh PP. Al-Furqan Kroya – Cilacap, Ust. Azhari pengasuh PP. Darul Mufassirin di Pangkep – Makassar, Ust. Fauzan pengasuh PP. Darus Salaf di Sragen, Ust. Idral Harits pengasuh PP. Darus Salaf di Solo, Ust. Ja’far Shalih pengasuh PP. Madrasah Salafiyah di Depok, Ust. Abu Hamzah Yusuf pengasuh PP. Adhwaus Salaf di Bandung, Ust. Adnan pengasuh PP. Ahlus Sunnah di Manado, Ust. Mahmud Pondok Pesantren Ahlus Sunnah di Purwakarta, dan masih banyak lagi lainnya yang belum disebutkan di sini.
Kiprah para ustadz tersebut sangat jelas. Mereka tampil mengibarkan Dakwah Salafiyyah di Indonesia, dan sangat nampak kebenciannya terhadap paham teroris khawarij, dan berbagai paham sesat lainnya. Bisa dilihat pada ceramah-ceramah mereka, karya tulis mereka, taklim-taklim mereka di pondok pesantren masing-masing, ataupun situs-situs internet mereka.
“Sehingga kalau pun benar pengakuan Syaifuddin bahwa dirinya pernah belajar ke Syaikh Muqbil, maka dia sendirilah yang nyleneh, menyelisihi murid-murid Syaikh Muqbil. Dia bukanlah murid sejati yang bisa mengambil manfaat dari ilmu yang diajarkan oleh Syaikh Muqbil. Justru dia tetap berada di atas kesesatan, walaupun telah sampai di tempat ilmu yang benar. Dengan demikian Syaifuddin telah merusak nama baik Syaikh Muqbil rahimahullah dan Pondok Pesantrennya.”, tandas Ustadz Luqman.
Ustadz Luqman juga menambahkan, "Tentunya kita masih ingat kisah Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri dengan muridnya yang bernama Washil bin 'Atho pada masa tabi'in. Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang tokoh besar ahlus sunnah, di majelisnya beliau senantiasa mengajarkan metode pemahaman ahlus sunnah. Murid-muridnya pun menerima dan berpegang kepada metode pemahaman ahlus sunnah sebagaimana diajarkan oleh gurunya. Namun si Washil bin Atho' adalah seorang murid yang telah bercokol di kepalanya paham sesat Mu'tazilah. Ia tidak bisa menerima pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Maka ia pun pergi meninggalkan majelis sang gurunya. Sehingga dengan itu segala penyimpangan paham Washil bin Atho' tidak boleh dikaitkan dengan imam besar Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah."
(Dikutip dari email al Ustadz Abu Amr Ahmad dan dimuat di http://www.merekaadalahteroris.com/m
Label:
adab,
aqidah,
dakwah islam : khairuddin,
manhaj,
ulama
06 Oktober 2009
ISTRI, OH ISTRI SHOLEHAH DIMANA MENCARINYA ????
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Kadang jika kita hanya sekedar menyampaikan untaian nasehat, mungkin sebagian orang belum tersentuh. Namun tatkala dikemukakan sebuah kisah, barulah hati kita mulai tersentuh dan baru bisa menarik pelajaran. Semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.terutama untuk saya juga.
Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’I … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah lainya agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…
Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.
Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.
Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.
Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.
Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.
Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar, lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.
Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu. Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???
Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “TIDAK!! Aku TIDAK mau MENIKAHIMU! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak SETIA kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”
Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.
Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.
Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.
Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.
Kadang jika kita hanya sekedar menyampaikan untaian nasehat, mungkin sebagian orang belum tersentuh. Namun tatkala dikemukakan sebuah kisah, barulah hati kita mulai tersentuh dan baru bisa menarik pelajaran. Semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.terutama untuk saya juga.
Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’I … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah lainya agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…
Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.
Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.
Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.
Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.
Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.
Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar, lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.
Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu. Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???
Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “TIDAK!! Aku TIDAK mau MENIKAHIMU! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak SETIA kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”
Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.
Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.
Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.
Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.
Label:
adab,
dakwah islam : khairuddin,
manhaj
05 Mei 2009
PANDANGAN MUI JAKARTA UTARA TENTANG SALAF/SALAFIl
Alhamdulliah,
Buat ikhwan di Lippo Cikarang Pandangan MUI ini seperti Payung disaat Hujan deras, mengingat sudah hampir satu bulan kajian di sana diliburkan karena adanya tekanan (ancaman) untuk membubarkan kajian.
Buat ikhwan yang juga mengalami tekanan di lingkungan atau keluarganya, semoga ini dapat bermanfaat. Karena terkadang sebagian kaum muslimin yang belum mengenal manhaj salaf (seperti kaum tradisional yang biasanya mengandalkan hawanafsu bukan ilmu), selalu bertindak anarkis dan tidak bisa diajak dialog. Sehingga dibutuhkan sekali Pandangan MUI seperti ini.
Buat Bloger Salafyyin supaya dimuat Pandangan MUI ini di Blog antum, agar dapat menyebar luas.
Jazzakallah khairan,…
hasil scanning......




Buat ikhwan di Lippo Cikarang Pandangan MUI ini seperti Payung disaat Hujan deras, mengingat sudah hampir satu bulan kajian di sana diliburkan karena adanya tekanan (ancaman) untuk membubarkan kajian.
Buat ikhwan yang juga mengalami tekanan di lingkungan atau keluarganya, semoga ini dapat bermanfaat. Karena terkadang sebagian kaum muslimin yang belum mengenal manhaj salaf (seperti kaum tradisional yang biasanya mengandalkan hawanafsu bukan ilmu), selalu bertindak anarkis dan tidak bisa diajak dialog. Sehingga dibutuhkan sekali Pandangan MUI seperti ini.
Buat Bloger Salafyyin supaya dimuat Pandangan MUI ini di Blog antum, agar dapat menyebar luas.
Jazzakallah khairan,…
hasil scanning......




23 November 2008
Tukang Kasut/Sepatu
Dari Muhammad bin Al-Muhandits diriwayatkan bahwa ia berkata: "Ada sebuah tiang di Masjid Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang biasa kugunakan untuk shalat dan belajar di malam hari. Pada waktu itu penduduk Madinah mengalami paceklik. Maka merekapun keluar menjalankan shalat Istisqa'. Namun hujan tidak juga turun. Pada malam harinya, seperti biasa aku shalat Isya' di Masjid Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu aku datang mendatangi tiang itu dan menyandarkan tubuhku di sana (istirahat). Tiba-tiba datang seorang lelaki berkulit hitam kecoklat-coklatan, mengenakan kain sarung, dan pada lehernya tergantung kain yang lebih kecil lagi. Lelaki itu kemudian mendekati tiang di depanku, sementara (tanpa dia ketahui) aku berada di belakangnya.
Kemudian dia shalat dua raka'at lalu duduk seraya berdo'a :"Wahai Rabb-ku. Para penduduk Madinah kota Nabi-Mu telah keluar meminta hujan, namun Engkau tidak juga mencurahkan hujan. Kini aku bersumpah atas nama-Mu, turunkanlah hujan." Ibnul Muhandits bergumam : "jangan-jangan ini orang gila."
Ia meneruskan: "Tatkala lelaki itu meletakkan tangannya, tiba-tiba aku mendengar suara guntur, diikuti dengan hujan yang turun dari langit yang menyebabkan diriku berkeinginan kembali ke rumah. Ketika ia mendengar suara hujan, ia segera memuji Allah dengan berbagai pujian yang belum pernah kudengar yang semacam itu sebelumnya." Perawi melanjutkan : "Kemudian lelaki itu berkata : "Siapa saya, dan apa kedudukan saya, sehingga doa saya terkabul. Akan tetapi aku tetap berlindung denagn memuji diri-Mu dan berlindung dengan pertolongan-Mu." Lalu perawi melanjutkan: "kemudian lelaki itu mengenakan kain yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya, lalu kain yang bergantung di punggungnyaia turunkan ke kakinya. Setelah itu ia shalat. Ia terus menjalankan shalatnya, sampai ia merasa akan datang Shubuh. Setelah itu ia melakukan shalat Witir dan shalat sunnah Fajar dua raka'at. Kemudian dikumandangkan iqamat Shubuh, ia turut shalat berjama'ah bersama orang banyak. Akupun turut shalat bersamanya . Setelah imam mengucapkan salam, ia (lelaki hitam) segera bangkit dan keluar masjid. Akupun mengikutinya dari belakang, hingga pintu masjid. Lalu dia mengangkat pakaiannya dan berjalan di air yang tergenang (karena hujan). Akupun ikut mengangkat pakaianku dan berjalan di genangan air. Namun kemudian aku kehilangan jejak.
Pada malam selanjutnya, aku kembali shalat Isya di Masjid Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu aku mendatangi tiang tersebut dan berbaring di sana. Tiba-tiba lelaki itu datang lagi dan berdiri di tempat biasa. Ia menyelimuti tubuhnya dengan kain, sementara kain lainnya yang berada di punggungnya ia selempangkan di kedua kakinya, kemudian melakukan shalat. Ia terus melakukan shalat, sampai ia khawatir kalau datang waktu Shubuh, baru ia melakukan Witir dan dua raka'at sunnah Fajar. Setelah itu iqamat berkumandang. Ia langsung shalat berjama'ah, akupun turut bersamanya. Ketika Imam telah mengucapkan salam, ia keluar. Aku juga keluar mengikutinya. Ia berjalan dengan cepat. Akupun mengikutinya hingga sampai ke salah satu rumah di kota Madinah yang kukenal. Akupun kembali ke masjid.
Setelah terbit matahari, dan aku telah menunaikan shalat (Dhuha). Aku segera keluar mendatangi rumah tersebut. Kudapati dirinya sedang duduk menjahit. Ternyata ia tukang sepatu. Ketika ia melihatku, ia segera mengenaliku. Ia berkata : "Wahai Abu Abdillah, selamat datang. Ada yang bisa kubantu ? Anda ingin saya buatkan sepatu ?" Aku segera duduk dan berkata : "Bukankah engkau yang menjadi temanku di malam pertama itu ?" Rona wajahnya berubah menghitam dan berteriak sambil berkata : "Wahai ibnul Muhandits, apa urusanmu dengan kejadian itu ?" Perawi melanjutkan: "Lelaki itu marah dan akupun segera meninggalkannya." Aku mengatakan: "Sekarang juga aku keluar dari tempat ini."
Pada malam ketiga, aku kembali shalat Isya di akhir waktu di Masjid Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kemudian menuju tempatku untuk berbaring. Namun lelaki itu tak kunjung datang. Ibnul Muhandits bergumam: "Inna lillahi, apa yang telah aku perbuat ?" Pagi harinya, aku duduk di masjid hingga matahari terbit. Kemudian aku keluar untuk mendatangi rumah yang ditempati lelaki tersebut. Ternyata kudapati pintunya terbuka. Dan ternyata rumah itupun sudah tidak berpenghuni lagi. Pemiliki rumah yang ditinggali lelaki itu bertanya kepadaku: "Wahai Abu Abdillah, apa yang terjadi antara anda dengan dirinya kemarin ?" Aku balik bertanya: "Apakah gerangan yang terjadi dengannya ?" Orang-orang di situ berkata :"Ketika anda keluar dari rumahnya kemarin, lelaki itu segera membentangkan kainnya di tengah ruangan rumahnya. Kemudian ia tidak menyisakan selembar kulit ataupun sepatu. Semuanya dia letakkan dalam kainnya, lalu diangkut. Setelah itu kami tidak tahu lagi ke mana lagi dia pergi."
Muhammad bin Al-Muhandits berkata: "Setiap rumah yang ada di kota Madinah yang kuketahui pasti kusinggahi untuk mencarinya. Namun aku tidak menemukannya lagi. Semoga Allah merahmatinya."
Catatan: Dalam buku terjemahannya tertulis Muhammad bin Al-Mukandir, namun menurut seorang sumber yang terpercaya seharusnya Muhammad bin Al-Muhandits.
Sumber : " Panduan akhlak salaf " Hal 24-26
Kemudian dia shalat dua raka'at lalu duduk seraya berdo'a :"Wahai Rabb-ku. Para penduduk Madinah kota Nabi-Mu telah keluar meminta hujan, namun Engkau tidak juga mencurahkan hujan. Kini aku bersumpah atas nama-Mu, turunkanlah hujan." Ibnul Muhandits bergumam : "jangan-jangan ini orang gila."
Ia meneruskan: "Tatkala lelaki itu meletakkan tangannya, tiba-tiba aku mendengar suara guntur, diikuti dengan hujan yang turun dari langit yang menyebabkan diriku berkeinginan kembali ke rumah. Ketika ia mendengar suara hujan, ia segera memuji Allah dengan berbagai pujian yang belum pernah kudengar yang semacam itu sebelumnya." Perawi melanjutkan : "Kemudian lelaki itu berkata : "Siapa saya, dan apa kedudukan saya, sehingga doa saya terkabul. Akan tetapi aku tetap berlindung denagn memuji diri-Mu dan berlindung dengan pertolongan-Mu." Lalu perawi melanjutkan: "kemudian lelaki itu mengenakan kain yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya, lalu kain yang bergantung di punggungnyaia turunkan ke kakinya. Setelah itu ia shalat. Ia terus menjalankan shalatnya, sampai ia merasa akan datang Shubuh. Setelah itu ia melakukan shalat Witir dan shalat sunnah Fajar dua raka'at. Kemudian dikumandangkan iqamat Shubuh, ia turut shalat berjama'ah bersama orang banyak. Akupun turut shalat bersamanya . Setelah imam mengucapkan salam, ia (lelaki hitam) segera bangkit dan keluar masjid. Akupun mengikutinya dari belakang, hingga pintu masjid. Lalu dia mengangkat pakaiannya dan berjalan di air yang tergenang (karena hujan). Akupun ikut mengangkat pakaianku dan berjalan di genangan air. Namun kemudian aku kehilangan jejak.
Pada malam selanjutnya, aku kembali shalat Isya di Masjid Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu aku mendatangi tiang tersebut dan berbaring di sana. Tiba-tiba lelaki itu datang lagi dan berdiri di tempat biasa. Ia menyelimuti tubuhnya dengan kain, sementara kain lainnya yang berada di punggungnya ia selempangkan di kedua kakinya, kemudian melakukan shalat. Ia terus melakukan shalat, sampai ia khawatir kalau datang waktu Shubuh, baru ia melakukan Witir dan dua raka'at sunnah Fajar. Setelah itu iqamat berkumandang. Ia langsung shalat berjama'ah, akupun turut bersamanya. Ketika Imam telah mengucapkan salam, ia keluar. Aku juga keluar mengikutinya. Ia berjalan dengan cepat. Akupun mengikutinya hingga sampai ke salah satu rumah di kota Madinah yang kukenal. Akupun kembali ke masjid.
Setelah terbit matahari, dan aku telah menunaikan shalat (Dhuha). Aku segera keluar mendatangi rumah tersebut. Kudapati dirinya sedang duduk menjahit. Ternyata ia tukang sepatu. Ketika ia melihatku, ia segera mengenaliku. Ia berkata : "Wahai Abu Abdillah, selamat datang. Ada yang bisa kubantu ? Anda ingin saya buatkan sepatu ?" Aku segera duduk dan berkata : "Bukankah engkau yang menjadi temanku di malam pertama itu ?" Rona wajahnya berubah menghitam dan berteriak sambil berkata : "Wahai ibnul Muhandits, apa urusanmu dengan kejadian itu ?" Perawi melanjutkan: "Lelaki itu marah dan akupun segera meninggalkannya." Aku mengatakan: "Sekarang juga aku keluar dari tempat ini."
Pada malam ketiga, aku kembali shalat Isya di akhir waktu di Masjid Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kemudian menuju tempatku untuk berbaring. Namun lelaki itu tak kunjung datang. Ibnul Muhandits bergumam: "Inna lillahi, apa yang telah aku perbuat ?" Pagi harinya, aku duduk di masjid hingga matahari terbit. Kemudian aku keluar untuk mendatangi rumah yang ditempati lelaki tersebut. Ternyata kudapati pintunya terbuka. Dan ternyata rumah itupun sudah tidak berpenghuni lagi. Pemiliki rumah yang ditinggali lelaki itu bertanya kepadaku: "Wahai Abu Abdillah, apa yang terjadi antara anda dengan dirinya kemarin ?" Aku balik bertanya: "Apakah gerangan yang terjadi dengannya ?" Orang-orang di situ berkata :"Ketika anda keluar dari rumahnya kemarin, lelaki itu segera membentangkan kainnya di tengah ruangan rumahnya. Kemudian ia tidak menyisakan selembar kulit ataupun sepatu. Semuanya dia letakkan dalam kainnya, lalu diangkut. Setelah itu kami tidak tahu lagi ke mana lagi dia pergi."
Muhammad bin Al-Muhandits berkata: "Setiap rumah yang ada di kota Madinah yang kuketahui pasti kusinggahi untuk mencarinya. Namun aku tidak menemukannya lagi. Semoga Allah merahmatinya."
Catatan: Dalam buku terjemahannya tertulis Muhammad bin Al-Mukandir, namun menurut seorang sumber yang terpercaya seharusnya Muhammad bin Al-Muhandits.
Sumber : " Panduan akhlak salaf " Hal 24-26
24 Oktober 2008
Bersikap Adil Terhadap Semua Anak
Oleh
Ummu Salamah As-Salafiyyah
Dari Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Ayahku pernah menyedekahkan sebagian hartanya kepadaku. Lalu ibuku, ‘Amrah binti Rawahah berkata, ‘Aku tidak rela sehingga engkau meminta disaksikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Maka ayahku pun berangkat menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi saksi baginya atas sedekah yang diberikan kepadaku. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada anakmu semua?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda:
"Bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah adil di antara anak-anakmu.’ Kemudian ayahku kembali lagi dan mengambil sedekah tersebut” [Al-Bukhari dan Muslim]
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung pengertian keharusan untuk menyamaratakan anak-anak dalam hal pemberian. Di mana masing-masing diberi sama, tidak boleh membedakan satu dengan yang lainnya, serta menyamakan antara anak laki-laki dan perempuan”
MENGAJARI DAN MENDIDIK ANAK PEREMPUAN
Allah Ta’ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" [At-Tahrim: 6]
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahiih keduanya, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi, seperti binatang yang melahirkan binatang juga, apakah engkau melihat kekurangan padanya?”
Anak yang lahir dan tumbuh berdasarkan fithrah yang baik ini bisa menerima yang baik dan bisa juga yang buruk, sehingga ia perlu diajarkan, dibimbing, dan diarahkan dengan pengarahan yang baik dan benar di atas jalan Islam.
Berhati-hatilah, jangan sampai kalian menyepelekan anak perempuan seperti binatang yang tidak mengetahui urusan agamanya dan urusan dunianya. Dan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan yang baik bagi kalian.
Al-Bukhari telah membuat bab tersendiri di dalam kitab Shahiihnya di dalam kitab al-‘Ilmu, bab Ta’liim ar-Rajul Amatahu wa Ahlahu (bab Seseorang yang Mengajari Budak dan Keluarganya). Kemudian dia menyebutkan di bawah judul bab tersebut hadits Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Ada tiga orang yang akan mendapatkan dua pahala: (1) seseorang dari ahlul kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (2) seorang hamba sahaya jika melaksanakan hak Allah dan hak majikannya, (3) dan seseorang yang memiliki hamba sahaya, lalu dia membimbingnya dengan sebaik-baik bimbingan serta mengajarinya dengan sebaik-baik pengajaran kepadanya, kemudian memerdekakan, lalu menikahinya, maka baginya dua pahala.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Sunannya dengan sanad yang hasan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka.”
Di dalam hadits ini terkandung bimbingan yang sangat berarti dalam mendidik anak, yaitu bahwa cara mendidik itu berbeda-beda dari zaman ke zaman. Dan setiap anak diperintah sesuai dengan kemampuannya.
Demikian juga dengan cara memberikan pelajaran, berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya. Ada di antara mereka yang akan baru sadar dengan pukulan dan ada pula yang sadar hanya dengan kata-kata yang baik. Dan setiap tempat memiliki kalimat (cara) tersendiri.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab Shahiih keduanya. Dari hadits ‘Umar bin Abi Salamah, dia berkata, “Dulu ketika masih kecil aku pernah berada di kamar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara tanganku menjulur ke piring, maka Rasulullah berkata kepadaku.
“Wahai anak kecil, sebutlah Nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah makanan yang dekat denganmu.’ Cara makanku setelah itu berlangsung demikian.”
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahiihnya, Dari hadits Hudzaifah, dia berkata, “Jika kami dihidangkan makanan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami tidak akan meletakkan tangan kami di hidangan tersebut sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai, lalu beliau meletakkan tangan beliau di tempat hidangan tersebut. Dan sesungguhnya suatu ketika kami pernah menghadiri suatu jamuan makan. Kami tidak meletakkan tangan kami sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai. Lalu beliau meletakkan tangan beliau. Dan sesungguhnya kami pernah menghadiri jamuan makan bersama beliau, lalu datang seorang anak wanita, seakan-akan ia tergiur, maka ia pun menuju hidangan tersebut dan meletakkan tangannya pada makanan, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menarik tangan anak wanita itu. Setelah itu datang seorang badui, seakan-akan dia didorong sehingga beliau pun menarik tangan orang itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya syaitan itu menghalalkan makanan yang tidak disebutkan Nama Allah padanya. Dan sesungguhnya syaitan itu telah datang menyeret anak wanita ini untuk menghalalkan makanan itu baginya, lalu aku menarik tangannya. Lalu dia juga menyeret orang badui ini untuk mengambil makanan itu, lalu aku menarik tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan badui itu di tanganku bersama dengan tangan anak wanita tersebut.”
Oleh karena itu, janganlah meremehkan dalam pengurusan anak kecil dengan menunda-nunda untuk memberikan pengajaran. Dan janganlah berlebihan serta keras dalam bertindak terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar…" [An-Nisaa': 171]
Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:
“Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit. Berikanlah berita gembira, dan janganlah kalian menakut-nakuti”
Jika pengarahan itu ditujukan bagi orang dewasa, lalu bagai-mana menurut Anda bagi anak kecil?
Demikian juga orang dewasa, yang sudah pasti membutuhkan pengajaran:
Dari ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fathimah pernah mengeluh karena (sakit) akibat batu yang dipergunakan untuk menumbuk. Lalu terdengar olehnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan tawanan. Kemudian Fathimah datang meminta pelayan kepada beliau, tetapi Nabi tidak menyetujuinya. Lalu dia menyebutkan kepada ‘Aisyah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, maka ‘Aisyah pun menceritakan hal tersebut kepada beliau. Lantas beliau mendatangi kami sedang kami tengah berbaring, maka kami pun beranjak bangun, lalu beliau bersabda, “Tetaplah di tempat kalian.” Sehingga aku merasakan dingin kaki beliau di dadaku. Lalu beliau bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan kepada apa yang lebih baik daripada apa yang kalian minta kepadaku? Jika kalian beranjak ke tempat tidur kalian, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, serta bertasbihlah tiga puluh tiga kali, karena sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta.” [Al-Bu-khari dan Muslim]
Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Salah seorang puteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim seorang utusan kepada beliau untuk mengundang dan mengabari beliau bahwa anaknya -atau puteranya- akan meninggal dunia, maka beliau berkata kepada utusan itu:
“Kembali lagi kepadanya dan beritahukan kepadanya bahwa Allah Ta’ala berhak untuk mengambil dan berhak memberi. Dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan batasnya. Maka perintahkanlah dia, suruh dia bersabar serta mengharapkan pahala dari Allah.’” Kemudian Usamah menyebutkan hadits ini secara lengkap” [Al-Bukhari dan Muslim]
Catatan.
Syaikh Mushthafa di dalam kitabnya, Fiqh Tarbiyatul Abnaa’, hal. 135, mengatakan, “Terkadang seorang anak berbuat salah, karenanya ia memerlukan bimbingan. Lalu sang ibu datang untuk membimbingnya. Tetapi, sang suami yang berakal justeru menghardik sang ibu di hadapan anaknya sehingga berdampak negatif bagi anaknya, yang mengakibatkan kewibawaan sang ibu jatuh. Oleh karena itu, berhati-hatilah Anda agar tidak menghardik isteri di hadapan anaknya, tetapi hendaklah Anda berlemah lembut dalam bertutur kata dan berikan penghormatan terhadap kewibawaan dan harga dirinya. Katakan kepadanya, misalnya, ‘Menurutku anak ini belum pantas untuk dipukul, semoga Allah memberikan ampunan pada kali ini, maka maafkanlah untuk kali ini. Dan jika dia mengulanginya lagi, maka berikanlah hukuman. Dan aku akan memberinya hukuman yang sama denganmu.’
Jika seorang ibu dipukul dan dihardik olehmu di hadapan anak-anaknya, maka hal itu akan tampak jelas di mata anak-anaknya dan berpengaruh terhadap psikologinya. Di antara mereka bahkan akan ada yang marah dan membencimu serta sangat sedih atas apa yang dialami ibunya. Dan di antara mereka juga ada yang memendam hal tersebut di dalam dirinya, sehingga apabila ia melakukan kesalahan atau ditegur oleh ibunya, ia akan mengatakan kepadanya, ‘Aku akan adukan kepada ayah, nanti ayah akan memukulmu seperti yang pernah dilakukannya dulu.’ Beranjak dari hal tersebut, maka rumah sangat berpengaruh sekali terhadap anak.”
[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
Ummu Salamah As-Salafiyyah
Dari Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Ayahku pernah menyedekahkan sebagian hartanya kepadaku. Lalu ibuku, ‘Amrah binti Rawahah berkata, ‘Aku tidak rela sehingga engkau meminta disaksikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Maka ayahku pun berangkat menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi saksi baginya atas sedekah yang diberikan kepadaku. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada anakmu semua?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda:
"Bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah adil di antara anak-anakmu.’ Kemudian ayahku kembali lagi dan mengambil sedekah tersebut” [Al-Bukhari dan Muslim]
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung pengertian keharusan untuk menyamaratakan anak-anak dalam hal pemberian. Di mana masing-masing diberi sama, tidak boleh membedakan satu dengan yang lainnya, serta menyamakan antara anak laki-laki dan perempuan”
MENGAJARI DAN MENDIDIK ANAK PEREMPUAN
Allah Ta’ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" [At-Tahrim: 6]
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahiih keduanya, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi, seperti binatang yang melahirkan binatang juga, apakah engkau melihat kekurangan padanya?”
Anak yang lahir dan tumbuh berdasarkan fithrah yang baik ini bisa menerima yang baik dan bisa juga yang buruk, sehingga ia perlu diajarkan, dibimbing, dan diarahkan dengan pengarahan yang baik dan benar di atas jalan Islam.
Berhati-hatilah, jangan sampai kalian menyepelekan anak perempuan seperti binatang yang tidak mengetahui urusan agamanya dan urusan dunianya. Dan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan yang baik bagi kalian.
Al-Bukhari telah membuat bab tersendiri di dalam kitab Shahiihnya di dalam kitab al-‘Ilmu, bab Ta’liim ar-Rajul Amatahu wa Ahlahu (bab Seseorang yang Mengajari Budak dan Keluarganya). Kemudian dia menyebutkan di bawah judul bab tersebut hadits Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Ada tiga orang yang akan mendapatkan dua pahala: (1) seseorang dari ahlul kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (2) seorang hamba sahaya jika melaksanakan hak Allah dan hak majikannya, (3) dan seseorang yang memiliki hamba sahaya, lalu dia membimbingnya dengan sebaik-baik bimbingan serta mengajarinya dengan sebaik-baik pengajaran kepadanya, kemudian memerdekakan, lalu menikahinya, maka baginya dua pahala.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Sunannya dengan sanad yang hasan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka.”
Di dalam hadits ini terkandung bimbingan yang sangat berarti dalam mendidik anak, yaitu bahwa cara mendidik itu berbeda-beda dari zaman ke zaman. Dan setiap anak diperintah sesuai dengan kemampuannya.
Demikian juga dengan cara memberikan pelajaran, berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya. Ada di antara mereka yang akan baru sadar dengan pukulan dan ada pula yang sadar hanya dengan kata-kata yang baik. Dan setiap tempat memiliki kalimat (cara) tersendiri.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab Shahiih keduanya. Dari hadits ‘Umar bin Abi Salamah, dia berkata, “Dulu ketika masih kecil aku pernah berada di kamar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara tanganku menjulur ke piring, maka Rasulullah berkata kepadaku.
“Wahai anak kecil, sebutlah Nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah makanan yang dekat denganmu.’ Cara makanku setelah itu berlangsung demikian.”
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahiihnya, Dari hadits Hudzaifah, dia berkata, “Jika kami dihidangkan makanan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami tidak akan meletakkan tangan kami di hidangan tersebut sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai, lalu beliau meletakkan tangan beliau di tempat hidangan tersebut. Dan sesungguhnya suatu ketika kami pernah menghadiri suatu jamuan makan. Kami tidak meletakkan tangan kami sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai. Lalu beliau meletakkan tangan beliau. Dan sesungguhnya kami pernah menghadiri jamuan makan bersama beliau, lalu datang seorang anak wanita, seakan-akan ia tergiur, maka ia pun menuju hidangan tersebut dan meletakkan tangannya pada makanan, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menarik tangan anak wanita itu. Setelah itu datang seorang badui, seakan-akan dia didorong sehingga beliau pun menarik tangan orang itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya syaitan itu menghalalkan makanan yang tidak disebutkan Nama Allah padanya. Dan sesungguhnya syaitan itu telah datang menyeret anak wanita ini untuk menghalalkan makanan itu baginya, lalu aku menarik tangannya. Lalu dia juga menyeret orang badui ini untuk mengambil makanan itu, lalu aku menarik tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan badui itu di tanganku bersama dengan tangan anak wanita tersebut.”
Oleh karena itu, janganlah meremehkan dalam pengurusan anak kecil dengan menunda-nunda untuk memberikan pengajaran. Dan janganlah berlebihan serta keras dalam bertindak terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar…" [An-Nisaa': 171]
Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:
“Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit. Berikanlah berita gembira, dan janganlah kalian menakut-nakuti”
Jika pengarahan itu ditujukan bagi orang dewasa, lalu bagai-mana menurut Anda bagi anak kecil?
Demikian juga orang dewasa, yang sudah pasti membutuhkan pengajaran:
Dari ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fathimah pernah mengeluh karena (sakit) akibat batu yang dipergunakan untuk menumbuk. Lalu terdengar olehnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan tawanan. Kemudian Fathimah datang meminta pelayan kepada beliau, tetapi Nabi tidak menyetujuinya. Lalu dia menyebutkan kepada ‘Aisyah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, maka ‘Aisyah pun menceritakan hal tersebut kepada beliau. Lantas beliau mendatangi kami sedang kami tengah berbaring, maka kami pun beranjak bangun, lalu beliau bersabda, “Tetaplah di tempat kalian.” Sehingga aku merasakan dingin kaki beliau di dadaku. Lalu beliau bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan kepada apa yang lebih baik daripada apa yang kalian minta kepadaku? Jika kalian beranjak ke tempat tidur kalian, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, serta bertasbihlah tiga puluh tiga kali, karena sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta.” [Al-Bu-khari dan Muslim]
Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Salah seorang puteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim seorang utusan kepada beliau untuk mengundang dan mengabari beliau bahwa anaknya -atau puteranya- akan meninggal dunia, maka beliau berkata kepada utusan itu:
“Kembali lagi kepadanya dan beritahukan kepadanya bahwa Allah Ta’ala berhak untuk mengambil dan berhak memberi. Dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan batasnya. Maka perintahkanlah dia, suruh dia bersabar serta mengharapkan pahala dari Allah.’” Kemudian Usamah menyebutkan hadits ini secara lengkap” [Al-Bukhari dan Muslim]
Catatan.
Syaikh Mushthafa di dalam kitabnya, Fiqh Tarbiyatul Abnaa’, hal. 135, mengatakan, “Terkadang seorang anak berbuat salah, karenanya ia memerlukan bimbingan. Lalu sang ibu datang untuk membimbingnya. Tetapi, sang suami yang berakal justeru menghardik sang ibu di hadapan anaknya sehingga berdampak negatif bagi anaknya, yang mengakibatkan kewibawaan sang ibu jatuh. Oleh karena itu, berhati-hatilah Anda agar tidak menghardik isteri di hadapan anaknya, tetapi hendaklah Anda berlemah lembut dalam bertutur kata dan berikan penghormatan terhadap kewibawaan dan harga dirinya. Katakan kepadanya, misalnya, ‘Menurutku anak ini belum pantas untuk dipukul, semoga Allah memberikan ampunan pada kali ini, maka maafkanlah untuk kali ini. Dan jika dia mengulanginya lagi, maka berikanlah hukuman. Dan aku akan memberinya hukuman yang sama denganmu.’
Jika seorang ibu dipukul dan dihardik olehmu di hadapan anak-anaknya, maka hal itu akan tampak jelas di mata anak-anaknya dan berpengaruh terhadap psikologinya. Di antara mereka bahkan akan ada yang marah dan membencimu serta sangat sedih atas apa yang dialami ibunya. Dan di antara mereka juga ada yang memendam hal tersebut di dalam dirinya, sehingga apabila ia melakukan kesalahan atau ditegur oleh ibunya, ia akan mengatakan kepadanya, ‘Aku akan adukan kepada ayah, nanti ayah akan memukulmu seperti yang pernah dilakukannya dulu.’ Beranjak dari hal tersebut, maka rumah sangat berpengaruh sekali terhadap anak.”
[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
Langganan:
Postingan (Atom)