BAB I
PENDAHULUAN
Dalam surat Al-Lahab terdapat bukti-bukti yang sangat banyak dan jelas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kebenaran. Beliau tidak mengajak demi mendapatkan kekuasaan, kehormatan dan jabatan di kalangan kaummnya. Dalam mensikapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para paman beliau terbagi menjadi tiga kelompok.
[a]. Kelompok yang beriman, berjihad bersama beliau dan tunduk kepada Allah Rabb sekalian alam.
[b]. Kelompok yang mendukung dan menolong beliau, namun tetap kafir.
[c]. Kelompok yang ingkar dan berpaling. Mereka ini kafir terhadap agama beliau.
BAB II
TAFSIR SURAT AL-LAHAB
1. binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa.
2. tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
3. kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
4. dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.
5. yang di lehernya ada tali dari sabut.
Abu Lahab adalah paman dari Nabi Muhammad sendiri, saudara dari ayah beliau. Nam kecilnya Abdul ‘Uzza. Sebagaimana kita tahu, Uzza adalah nama sebuah berhala yang di puja orang Quraisy.
Seperti yang dijelaskan tadi bahwa dalam mensikapi Rasulullah para Pamannya terpecah menjadi 3 kelompok.
Adapun kelompok pertama, seperti Al-Abbas bin Abdul Muthalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah lebih afdhal dari pada Abbas, karena beliau dijuluki sebagai syuhada yang terbaik disisi Allah Azza wa Jalla, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya gelar asadullah dan asudarasuluhu (singa Allah dan rasulNya). Beliau terbunuh pada perang Uhud di tahun kedua hijrah.
Adapun yang mendukung serta menolong tetapi masih tetap dalam kekafiran, seperti Abu Thalib. Dia telah bersikap baik kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta membela dan mendukung beliau, namun –wal ‘iyaadzu billah- Allah telah menentukan adzab untuknya, tidak memeluk agama Islam sampai akhir hayatnya. Di detik-detik akhir kehidupannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya masuk Islam tetapi ia tetap enggan dan meninggal dengan pernyataannya bahwa ia berada di atas agamanya Abdul Muthalib. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya syafaat untuknya (untuk meringankan adzab) hingga diadzab di naar dengan cara dipakaikan sandal lalu menggelegak isi otaknya.
Ketiga yaitu yang ingkar dan berpaling, seperti Abu Lahab. Allah menurunkan satu surat penuh, yang dibaca di dalam shalat wajib dan sunnah, shalt sir (yang bacaannya pelan) dan jahar (yang bacaannya terang) diberi pahala orang yang membacanya, setiap huruf sepuluh kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” [Al-Lahab : 1] Ini merupakan bantahan terhadap Abu Lahab, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka ke jalan Allah, mengingatkan dan memberi mereka kabar gembira. Berkata Abu Lahab : “Celakalah engkau! Hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami? Perkataan “hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami” adalah untuk meremehkan. Artinya, ini adalah perkara sepele, sehingga tidak perlu mengumpulkan para pemimpin Quraisy.
Yang demikian ini sama seperti firman Allah Ta’ala. “Artinya : Apakah ini orang yang mencela ilah-ilah kalian?” [Al-Anbiyaa: 36]
Yaitu meremehkannya. Tidak acuh dan tidak peduli. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Dan mengapa mereka berkata : “Mengapa Al-Qut’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah danThaif) ini?’ [Az-Zukhruf : 31]
Wal hasil, Abu Lahab berkata : “Celakalah engkau, hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami?” Maka Allah Ta’ala membantah dengan menurunkan surat ini “Tabbat yadaa abii lahabiw watabb”, Al-Tabaab artinya Al-Khasaar yaitu kerugian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala. “Artinya : … Dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian” [Al-Mu’min : 37]
Dan Allah memulai dengan menyebutkan tangan sebelum yang lainnya, karena kedua tanganlah yang sering bekerja dan bergerak, mengambil dan memberi dan lain-lain. Dan gelar Abu Lahab adalah gelar yang pantas dan sesuai dengan kondisi dan tempat kembalinya. Gelar ini pantas untuknya karena ia akan dimasukkan ke dalam naar yang menyala-nyala yang mengeluarkan lidah api yang dahsyat.
Berkata seorang penyair. Katakan, tidaklah matamu melihat seorang yang punya gelar. Kecuali kamu akan berfikir makna dari gelarnya. Ketika Suhail bin Amr datang pada perang Hudaibiyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Ini adalah Suhail bin Amr, aku tidak melihat kecuali ia telah mudahkan urusan kalian”
Karena nama tersebut sesuai dengan perbuatannya. Allah berfirman. “Artinya : Tidaklah berpelajaran kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” [Al-Lahab : 2]
-Ma- berkemungkinan mempunyai makna istifham (pertanyaan) yang berarti : Manfaat apa yang ia dapatkan dari hartanya dan apa yang ia usahakan? Jawabnya : Tidak ada sama sekali. Atau bermakna naïf (penolakan), berarti maknanya : Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kedua makna tersebut saling berkaitan, yaitu ; bahwa harta dan apa yang ia usahakan tidak bermanfaat sedikitpun untuknya ? Padahal menurut kebiasaan, harta itu bermanfaat. Harta dapat dijadikan alat penebus jika seseorang ditawan musuh. Ia katakana : “Jika engkau membebaskanku maka aku akan memberimu uang sekian-sekian”. Dengan meminta harta sedikit atau banyak, musuhnya akan membebaskannya. Jika seseorang, sakit atau lapar dapat memanfaatkan hartanya. Harta sangatlah bermanfaat, namun dikatakan tidak bermanfaat jika tidak dapat menyelamatkan pemiliknya dari naar.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman “ Maa agnaa anhu maaluhu” yakni hartanya tidak dapat menyelamatkannya dari siksaan Allah Ta’ala. FirmanNya “Wamaa kasab” dikatakan maknanya adalah anaknya. Yakni, tidak bermanfaat baginya harta dan anaknya. Sebagaimana yang dikatakan Nabi Nuh ‘Alaihis salam “Artinya : …. Dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka…” [Al-Ma’aarij : 21]
Maka mereka artikan “wamaa kasab” ialah anak. Pendapat ini juga didukung dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Sebaik-baik hasil yang kamu makan adalah hasil dari jerih payahmu, dan anak-anakmu tersebut termasuk dari hasil jerih payahmu”
Pendapat yang benar adalah ayat tersebut lebih umum dari yang demikian. Ayat di atas mencakup anak. Juga mencakup harta yang sedang ia usahakan untuk ia dapatkan, juga mencakup apa yang ia usahakan untuk meraih kemuliaan dan kehormatan. Setiap usaha yang dilakukan untuk menambah kemualian dan kehormatan, tidak bermanfaat untuknya sedikitpun “ Maa agnaa anhu maaluhu wamaa kasab” = Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” Firman Allah. “Artinya : Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak” [Al-Lahab : 3]
Huruf –sin- pada “sayashla” untuk ‘at-tanfis’ yang menunjukkan ‘al-haqiqah’ (hakiki) dan al-qurb (waktu dekat). Yakni, Allah Ta’ala mengancamnya dalam waktu dekat dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Karena kemewahan dunia, dan bagaimanapun lamanya tinggal di dunia, tetap saja dikatakan akhirat itu dekat. Sehingga manusia yang ada di alam barzakh merasa sebentar walaupun tahun demi tahun yang panjang telah berlalu.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : … mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik”[Al-Ahqaaf : 35] Sesaat yang ada di siang hari tentunya waktu yang sangat singkat.
Firman Allah “Artinya : Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar” [Al-Lahab : 4] Yaitu wanita (istri) yang yang ada bersamanya. Dia adalah wanita terhormat di kalangan suku Quraisy, yaitu Ummu Jamil. Namanya Arwa Binti Harb Bin Umayyah. Dia saudara perempuan Abu Sufyan. Namun kehormatan tersebut tidak bermanfaat untuknya karena ikut membantu suaminya dalam permusuhan dan dosa serta tetap di dalam kekafiran. Firman Allah : “Hammaa latal hathab” = pembawa kayu bakar, dibaca nashab (fathah) atau rafa (dhamah). Adapun jika dibaca nasab, maka menunjukkan keadaan istrinya. Yaitu, keadaan istrinya membawa kayu bakar. Atau manshub dengan arti celaan. Karena na’at yang terputus boleh dinashabkan dengan maksud pencelaan. Artinya, Aku mencela si pembawa kayu bakar. Adapun jika dibaca rafa’ menunjukan sifat si wanita tersebut, -Hammaalah- bentuk mubalaghah, artinya banyak membawa. Disebutkan bahwa ia membawa kayu yang berduri kemudian ia letakkan di jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Firman Allah. “Artinya : Yang di lehernya ada tali dari sabut” [Al-Lahab : 5] Al-jid ialah al-‘unuq artinya leher. Habl ialah tali, al-masad : sabut. Yakni, ia pergi ke gurun dengan membawa tali untuk mengikat kayu-kayu berduri yang akan ia letakkan di jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, na’udzubillah min dzalik. Hal ini mengisyaratkan rendahnya cara berfikir, karena ia menghinakan dirinya sendiri. Seorang wanita dari kabilah yang terkemuka dari kalangan suku Quraisy pergi ke gurun dengan melilitkan tali sabut di lehernya. Tetapi demi untuk menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia rela melakukannya.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam surat Al-Lahab terdapat bukti-bukti yang sangat banyak dan jelas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kebenaran. Beliau tidak mengajak demi mendapatkan kekuasaan, kehormatan dan jabatan di kalangan kaummnya.
Abu Lahab adalah paman dari Nabi Muhammad sendiri, saudara dari ayah beliau. Nam kecilnya Abdul ‘Uzza. Sebagaimana kita tahu, Uzza adalah nama sebuah berhala yang di puja orang Quraisy
Dalam mensikapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para paman beliau terbagi menjadi tiga kelompok. [a]. Kelompok yang beriman, [b]. Kelompok yang mendukung dan menolong beliau, namun tetap kafir. [c]. Kelompok yang ingkar dan berpaling.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Kamil dan Terjemahan. Pustaka Darus Sunnah. 2008
Alu Syaikh, Abdullah Bin Muhammad: Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Imam Syafii. Jakarta. 2008
Al-Mubarakfuri,Syafiyurrahman: Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Ibnu Katsir. Jakarta. 2007
Prof. Dr. Hamka: Tafsir al-Azhar Juzu’ XXIX-XXX. Pustaka Islam. Surabaya. 1983
Utsaimin, Syaikh Muhammad Shalih: Tafsir Juz ‘Amma. Penerbit At-Tibyan. Solo. 2005
Tampilkan postingan dengan label TAFSIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAFSIR. Tampilkan semua postingan
16 April 2009
Tafsir Al-Baqarah 1-5
BAB I
PENDAHULUAN
Para mufasir berbeda pendapat tentang potongan huruf-huruf di awal-awal surah. Di antara mereka ada yang mengatakan, itu termasuk sesuatu yang hanya diketahui Allah. Mereka mengembalikan pengetahuan tentang makna ayat tersebut kepada Allah dan tidak menafsirkannya, sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya.
Di antara mereka ada yang menafsirkan ayat pertama tersebut, meski mereka berbeda pendapat tentang maknanya. Dan di antara mereka ada yang mengatakan, ia merupakan nama-nama surah. Ada pula pendapat lain, ia merupakan salah satu nama Allah yang menjadi pembuka surah-surah. Masing-masing hurufnya menunjukan sebuah nama-Nya atau sifat-Nya. Jadi alif pada alif lam lim merupakan kunci (awal) Lafzhul-Jalalah, lafal kebesaran, yaitu lafal "Allah", huruf lam merupakan kunci nama-Nya Lathif, dan huruf mim kunci nama-Nya Majid.
Ibn Katsir mengatakan, karena itulah setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf seperti itu, di dalamnya mesti terdapat pembelaan terhadap Al-Quran serta penjelasan tentang kemukjizatan dan keagungannya. Ini dapat diketahui melalui penyimpulan yang didapat di 29 surah.
BAB II
TAFSIR ALBAQARAH 1-5
1. Alif laam miin.
2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki] yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Alif laam Miin
Telah disebutkan dalam muqaddimah (pendahuluan) mengenai tafsirannya.
Dzalikal-kitab
Ibn Abbas mengatakan, Dzalikal-kitab (kitab itu) artinya hadzal-kitab (kitab ini). Orang-orang Arab suka menggunakan dua isim isyarah, kata penunjuk, secara saling menggantikan. Mereka menggunakan masing-masing di tempat yang lain, sebagaimana dikenal dalam bahasa perbincangan mereka. Kitab di sini adalah Al-Quran. Barang siapa yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Taurat dan Injil, berarti ia menanggung sesuatu yang ia tidak ketahui.
Makna ayat ini, tidak ada keraguan bahwa Al-Quran diturunkan dari sisi Allah sebagaimana yang Dia firmankan (yang artinya), "Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam." (QS As-Sajdah:2).
Sebagian mufasir mengatakan, meski ayat ini berupa berita, maknanya adalah perintah. Yakni, janganlah kalian meragukannya. Hidayah dikhususkan bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya, "Katakanlah., 'Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman." (QS Fush-shilat:44).
Dalam ayat lain dikatakan (yang artinya), "Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS Al-Isra:82). Ayat-ayat lainnya juga menunjukan, hanya orang mukminlah yang dapat mengambil manfaat Al-Quran (penawar dan rahmat), karena ia sendiri merupakan petunjuk, tetapi itu tak dapat dicapai kecuali oleh orang-orang yang baik.
As-Sudi mengatakan hudan-lil-muttaqin artinya nuran-lil-muttaqin ( cahaya bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari Ibn Abbas disebutkan, Al-muttaqun adalah orang-orang beriman yang menjauhkan diri dari syirik dan menjalankan ketaatan kepada Allah. Al-Hasan al-Bishri berkata, mereka menjauhkan diri dari apa-apa yang diharamkan atas mereka dan mereka menunaikan apa-apa yang diwajibkan atas mereka.
Qatadah mengatakan, mereka adalah orang-orang yang disifati Allah dengan firman-Nya alladzina yu'minuna bil-qhaibi wa yuqimunash-shalah, "Yaitu orang-orang yang beriman kepada hal yang ghaib dan mendirikan shalat." Ibn Jarir berpendapat, ayat ini mencakup semuanya itu. Di dalam hadist dikatakan, "Tidaklah seorang hamba tergolong orang muttaqin sampai ia meninggalkan dengan hati-hati apa-apa yang tidak perlu untuk yang perlu."
Kata al-huda terkadang digunakan dengan pengertian iman yang tertanam di dalam hati dan tidak ada yang mampu menempatkannya di hati para hamba kecuali Allah SWT. Di dalam Al-Quran disebutkan, "Sesungguhnya engkau tak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai." Di dalam ayat lain dikatakan, "Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk." Terkadang ia digunakan dengan pengertian penjelasan kebenaran.
(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.(03)
Kata iman secara bahasa digunakan dengan pengertian semata-mata membenarkan, sebagaimana firman Allah Ta'alla, "Ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin." Sebagaimana juga yang dikatakan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf kepada ayah mereka, "Dan engkau sekali-kali tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami adalah orang-orang yang beriman." (QS Yusuf:17).
Demikian pula jika ia disertai dengan kata amal. Sedangkan jika ia digunakan secara mutlak (tanpa disertai apa-apa), iman yang dituntut haruslah merupakan I'tiqad (keyakinan), perkataan, dan perbuatan sekaligus. Inilah pendapat sebagian besar imam. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad sepakat, iman merupakan ucapan dan perbuatan, ia dapat bertambah dan dapat berkurang. Mengenai hal itu, terdapat banyak atsar, periwayatan yang bersumber dari sahabat.
Ada pula ulama yang menafsirkan iman sebagai "perasaan takut". Dalam ayat Al-Quran disebutkan, "(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka sedang mereka tidak melihat-Nya." (QS Al-Anbiya:49). Perasaan takut, yakni takut kepada Allah, adalah inti iman dan ilmu.
Mengenai apa yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib di sini, para ulama salaf berbeda pendapat. Abu Al-Aliyah mengatakan, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, surga-Nya, perjumpaan dengan-Nya, dan kehidupan setelah mati. Semua itu adalah hal-hal yang ghaib.
As-Sudi menyebutkan keterangan dari Ibn Abbas dan Ibn Mas'ud bahwa yang ghaib adalah yang tidak diketahui oleh hamba-hamba Allah tentang perkara surga, neraka, dan apa-apa yang disebutkan dalam Al-Quran. Sedangkan Atha' mengatakan, orang yang beriman kepada Allah berarti beriman kepada yang ghaib. Semuanya ini berdekatan dan semuanya itulah yang dimaksud.
Dalam riwayat dari Abdurrahman bin Yazid disebutkan, ia mengatakan, "Suatu ketika kami sedang duduk di tempat Abdullah bin Mas'ud. Kemudian ia menyebutkan perihal para sahabat Nabi dan orang-orang lain yang pernah berjumpa dengan beliau. Abdullah bin Mas'ud lalu berkata, 'Perkara Muhammad SAW adalah jelas bagi orang yang melihatnya. Demi Zat yang tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Dia. Tidaklah seorang mengimani sesuatu yang lebih utama daripada beriman kepada yang ghaib." Kemudian ia membaca ayat Alladzina yu'minuna bil-ghaibi dan seterusnya.
Hadist serupa juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibn Muhairiz, ia mengatakan, "Aku berkata kepada Abi Jum'ah, 'Katakanlah kepada kami sebuah hadist yang engkau dengar dari Rasulullah SAW'." Ia menjawab, "Baiklah, aku akan menyebutkan kepadamu sebuah hadist yang bagus, 'Kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW di mana bersama kami turut pula Ubaidah bin Al-Jarrah. Ia lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, adakah orang yang lebih baik daripada kami? Kami masuk islam denganmu dan kami berjuang bersamamu.' Beliau menjawab, 'Ya, ada, yaitu kaum sesudah kalian yang beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah melihatku."
Dalam riwayat lain dari Shalih bin Jubair, ia mengatakan, "Datang kepada kami di Baitul Maqdis, Abu Jum'ah Al-Anshari, sahabat Rasulullah SAW. Ia melakukan shalat di situ. Ketika itu ada bersama kami Raja bin Hayawah.
Saat ia hendak pergi, kami keluar melepasnya. Ia lalu berkata, 'Sesungguhnya kalian memiliki ganjaran dan hak. Aku akan menyebutkan kepada kalian sebuah hadist yang aku dengar dari Rasulullah SAW, 'Kami bilang, 'Sebutkanlah, semoga Allah merahmatimu, 'Ia lalu mengatakan, 'Suatu ketika kami berada bersama Rasulullah dan bersama kami terdapat pula Mu'adz bin Jabal. Kami berkata, 'Wahai Rasulullah, adakah suatu kaum yang lebih besar ganjarannya dibandingkan kami? Kami beriman kepadamu dan kami mengikutimu." Rasulullah menjawab, 'Apa yang menghalangi kalian dari itu sedangkan Rasulullah berada di tengah-tengah kalian dan ia membawakan kepada kalian wahyu dari langit? Tetapi kaum setelah kalian yang didatangkan kitab kepada mereka, mereka beriman dengannya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Mereka itulah yang lebih besar ganjarannya dibandingkan kalian;."
Mengenai firman Allah Ta'ala wa yuqimunash-shalah (dan mereka mendirikan shalat), Ibn Abbas mengatakan, arti mendirikan shalat adalah menyempurnakan rukuk, sujud, bacaan Al-Quran yang dibaca, juga khusyu'. Sedangkan Qatadah berkata, mendirikan shalat artinya memelihara waktu-waktunya, wudhunya, rukuknya, dan sujudnya. Shalat dalam perkataan orang Arab pada asalnya berarti doa.
Wa mimma razaqnahum yunfiqun
Ibn Abbas mengatakan, artinya adalah mereka mengeluarkan zakat harta mereka. Sejumlah sahabat Rasulullah SAW berkata bahwa yang dimaksud adalah nafkah yang dikeluarkan oleh seseorang untuk keluarganya, dan ini sebelum turunnya ayat tentang zakat. Sedangkan Qatadah mengatakan, mereka menafkahkan apa yang Allah berikan kepada mereka. Semua harta ini merupakan titipan di sisi manusia, dan mereka akan meninggalkannya. Ibn Jarir berpendapat, ayat ini mencakup zakat dan nafkah.
Allah sering mengiringkan shalat dan menafkahkan harta. Shalat merupakan hak Allah dan ibadah kepada-Nya, dan ia mencakup pengesaan terhadap-Nya, pujian kepada-Nya, doa, serta tawakal kepada-Nya. Sedangkan menafkahkan harta adalah kebaikan kepada para makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka. Orang yang paling patut menerima itu adalah keluarga, kerabat, hamba-hamba sahaya, kemudian orang-orang lain (yang tak ada hubungan apa-apa dengannya). Setiap nafkah yang wajib dan zakat yang wajib masuk di dalam firma Allah wa mimma razaqnahum yunfiqun.
Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yang yakin akan adanya kehidupan akhirat.(04)
Ibn Abbas mengatakan, pengertian ayat ini, mereka adalah orang-orang yang membenarkan apa-apa yang engkau bawa dari Allah Ta'ala dan juga apa-apa yang dibawa oleh para rasul sebelummu. Mereka tidak membedakan para rasul dan tidak menentang apa yang para rasul bawa kepada mereka. Mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat, artinya yakin dengan adanya kebangkitan, kiamat, surga, dan neraka, perhitungan dan timbangan.
Mujahid mengatakan, empat ayat dari surah Al-Baqarah menyifati orang-orang mukmin, dua ayat menyifati orang-orang kafir, dan tiga belas ayat menyifati orang-orang munafik.
Empat ayat yang menyifati orang-orang mukmin itu bersifat umum berlaku pada setiap mukmin yang memiliki sifat demikian, baik orang Arab, ajam (non-Arab), maupun Kitabi, baik manusia maupun jin. Dan tidak bisa hanya sebagian sifat sedangkan yang lainnya tidak ada. Semuanya harus ada. Bahkan, setiap sifatnya menuntut adanya sifat yang lain dan menjadi syarat bersamanya. Jadi, tidak sah iman kepada yang ghaib kecuali beriman pula kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah dan apa-apa yang dibawa oleh para rasul sebelum beliau, juga yakin akan datangnya hari akhirat.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.(05)
Ula-ika (mereka itu) artinya mereka yang digambarkan sebelumnya, yakni yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menafkahkan apa yang Allah rezekikan kepada mereka, beriman kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah dan meyakini datangnya hari akhirat.
'Ala hudan (di atas petunjuk) artinya berjalan di atas cahaya, keterangan, dan bashirah (penglihatan batin) dari Allah. Wa ulaika humul-muflihun (dan mereka itulah orang-orang yang beruntung), di dunia dan akhirat. Ibn Abbas mengatakan, ala hudan min rabbihim artinya berjalan di atas cahaya dari Tuhan mereka dan senantiasa istiqamah atas apa yang dibawakan kepada mereka. Sedangkan wa ulaika humul muflihun artinya mereka mendapatkan apa yang mereka tuntut dan mereka selamat dari keburukan yang mereka hindari.
BAB III
KESIMPULAN
Para mufasir berbeda pendapat tentang potongan huruf-huruf di awal-awal surah. Di antara mereka ada yang mengatakan, itu termasuk sesuatu yang hanya diketahui Allah.
Ibn Abbas mengatakan, Dzalikal-kitab (kitab itu) artinya hadzal-kitab (kitab ini). Orang-orang Arab suka menggunakan dua isim isyarah, kata penunjuk, secara saling menggantikan. Mereka menggunakan masing-masing di tempat yang lain.
As-Sudi mengatakan hudan-lil-muttaqin artinya nuran-lil-muttaqin ( cahaya bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari Ibn Abbas disebutkan, Al-muttaqun adalah orang-orang beriman yang menjauhkan diri dari syirik dan menjalankan ketaatan kepada Allah.
Allah sering mengiringkan shalat dan menafkahkan harta. Shalat merupakan hak Allah dan ibadah kepada-Nya, dan ia mencakup pengesaan terhadap-Nya, pujian kepada-Nya, doa, serta tawakal kepada-Nya. Sedangkan menafkahkan harta adalah kebaikan kepada para makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka. Orang yang paling patut menerima itu adalah keluarga, kerabat, hamba-hamba sahaya, kemudian orang-orang lain (yang tak ada hubungan apa-apa dengannya).
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Kamil dan Terjemahan. Pustaka Darus Sunnah. 2008
Al-Qur’an Al-Hikmah dan Terjemahan. Penerbit Diponegoro. 2007
Alu Syaikh, Abdullah Bin Muhammad: Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Imam Syafii. Jakarta. 2006
Al-Mubarakfuri,Syafiyurrahman: Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Ibnu Katsir. Jakarta. 2007
PENDAHULUAN
Para mufasir berbeda pendapat tentang potongan huruf-huruf di awal-awal surah. Di antara mereka ada yang mengatakan, itu termasuk sesuatu yang hanya diketahui Allah. Mereka mengembalikan pengetahuan tentang makna ayat tersebut kepada Allah dan tidak menafsirkannya, sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya.
Di antara mereka ada yang menafsirkan ayat pertama tersebut, meski mereka berbeda pendapat tentang maknanya. Dan di antara mereka ada yang mengatakan, ia merupakan nama-nama surah. Ada pula pendapat lain, ia merupakan salah satu nama Allah yang menjadi pembuka surah-surah. Masing-masing hurufnya menunjukan sebuah nama-Nya atau sifat-Nya. Jadi alif pada alif lam lim merupakan kunci (awal) Lafzhul-Jalalah, lafal kebesaran, yaitu lafal "Allah", huruf lam merupakan kunci nama-Nya Lathif, dan huruf mim kunci nama-Nya Majid.
Ibn Katsir mengatakan, karena itulah setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf seperti itu, di dalamnya mesti terdapat pembelaan terhadap Al-Quran serta penjelasan tentang kemukjizatan dan keagungannya. Ini dapat diketahui melalui penyimpulan yang didapat di 29 surah.
BAB II
TAFSIR ALBAQARAH 1-5
1. Alif laam miin.
2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki] yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Alif laam Miin
Telah disebutkan dalam muqaddimah (pendahuluan) mengenai tafsirannya.
Dzalikal-kitab
Ibn Abbas mengatakan, Dzalikal-kitab (kitab itu) artinya hadzal-kitab (kitab ini). Orang-orang Arab suka menggunakan dua isim isyarah, kata penunjuk, secara saling menggantikan. Mereka menggunakan masing-masing di tempat yang lain, sebagaimana dikenal dalam bahasa perbincangan mereka. Kitab di sini adalah Al-Quran. Barang siapa yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Taurat dan Injil, berarti ia menanggung sesuatu yang ia tidak ketahui.
Makna ayat ini, tidak ada keraguan bahwa Al-Quran diturunkan dari sisi Allah sebagaimana yang Dia firmankan (yang artinya), "Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam." (QS As-Sajdah:2).
Sebagian mufasir mengatakan, meski ayat ini berupa berita, maknanya adalah perintah. Yakni, janganlah kalian meragukannya. Hidayah dikhususkan bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya, "Katakanlah., 'Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman." (QS Fush-shilat:44).
Dalam ayat lain dikatakan (yang artinya), "Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS Al-Isra:82). Ayat-ayat lainnya juga menunjukan, hanya orang mukminlah yang dapat mengambil manfaat Al-Quran (penawar dan rahmat), karena ia sendiri merupakan petunjuk, tetapi itu tak dapat dicapai kecuali oleh orang-orang yang baik.
As-Sudi mengatakan hudan-lil-muttaqin artinya nuran-lil-muttaqin ( cahaya bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari Ibn Abbas disebutkan, Al-muttaqun adalah orang-orang beriman yang menjauhkan diri dari syirik dan menjalankan ketaatan kepada Allah. Al-Hasan al-Bishri berkata, mereka menjauhkan diri dari apa-apa yang diharamkan atas mereka dan mereka menunaikan apa-apa yang diwajibkan atas mereka.
Qatadah mengatakan, mereka adalah orang-orang yang disifati Allah dengan firman-Nya alladzina yu'minuna bil-qhaibi wa yuqimunash-shalah, "Yaitu orang-orang yang beriman kepada hal yang ghaib dan mendirikan shalat." Ibn Jarir berpendapat, ayat ini mencakup semuanya itu. Di dalam hadist dikatakan, "Tidaklah seorang hamba tergolong orang muttaqin sampai ia meninggalkan dengan hati-hati apa-apa yang tidak perlu untuk yang perlu."
Kata al-huda terkadang digunakan dengan pengertian iman yang tertanam di dalam hati dan tidak ada yang mampu menempatkannya di hati para hamba kecuali Allah SWT. Di dalam Al-Quran disebutkan, "Sesungguhnya engkau tak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai." Di dalam ayat lain dikatakan, "Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk." Terkadang ia digunakan dengan pengertian penjelasan kebenaran.
(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.(03)
Kata iman secara bahasa digunakan dengan pengertian semata-mata membenarkan, sebagaimana firman Allah Ta'alla, "Ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin." Sebagaimana juga yang dikatakan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf kepada ayah mereka, "Dan engkau sekali-kali tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami adalah orang-orang yang beriman." (QS Yusuf:17).
Demikian pula jika ia disertai dengan kata amal. Sedangkan jika ia digunakan secara mutlak (tanpa disertai apa-apa), iman yang dituntut haruslah merupakan I'tiqad (keyakinan), perkataan, dan perbuatan sekaligus. Inilah pendapat sebagian besar imam. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad sepakat, iman merupakan ucapan dan perbuatan, ia dapat bertambah dan dapat berkurang. Mengenai hal itu, terdapat banyak atsar, periwayatan yang bersumber dari sahabat.
Ada pula ulama yang menafsirkan iman sebagai "perasaan takut". Dalam ayat Al-Quran disebutkan, "(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka sedang mereka tidak melihat-Nya." (QS Al-Anbiya:49). Perasaan takut, yakni takut kepada Allah, adalah inti iman dan ilmu.
Mengenai apa yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib di sini, para ulama salaf berbeda pendapat. Abu Al-Aliyah mengatakan, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, surga-Nya, perjumpaan dengan-Nya, dan kehidupan setelah mati. Semua itu adalah hal-hal yang ghaib.
As-Sudi menyebutkan keterangan dari Ibn Abbas dan Ibn Mas'ud bahwa yang ghaib adalah yang tidak diketahui oleh hamba-hamba Allah tentang perkara surga, neraka, dan apa-apa yang disebutkan dalam Al-Quran. Sedangkan Atha' mengatakan, orang yang beriman kepada Allah berarti beriman kepada yang ghaib. Semuanya ini berdekatan dan semuanya itulah yang dimaksud.
Dalam riwayat dari Abdurrahman bin Yazid disebutkan, ia mengatakan, "Suatu ketika kami sedang duduk di tempat Abdullah bin Mas'ud. Kemudian ia menyebutkan perihal para sahabat Nabi dan orang-orang lain yang pernah berjumpa dengan beliau. Abdullah bin Mas'ud lalu berkata, 'Perkara Muhammad SAW adalah jelas bagi orang yang melihatnya. Demi Zat yang tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Dia. Tidaklah seorang mengimani sesuatu yang lebih utama daripada beriman kepada yang ghaib." Kemudian ia membaca ayat Alladzina yu'minuna bil-ghaibi dan seterusnya.
Hadist serupa juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibn Muhairiz, ia mengatakan, "Aku berkata kepada Abi Jum'ah, 'Katakanlah kepada kami sebuah hadist yang engkau dengar dari Rasulullah SAW'." Ia menjawab, "Baiklah, aku akan menyebutkan kepadamu sebuah hadist yang bagus, 'Kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW di mana bersama kami turut pula Ubaidah bin Al-Jarrah. Ia lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, adakah orang yang lebih baik daripada kami? Kami masuk islam denganmu dan kami berjuang bersamamu.' Beliau menjawab, 'Ya, ada, yaitu kaum sesudah kalian yang beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah melihatku."
Dalam riwayat lain dari Shalih bin Jubair, ia mengatakan, "Datang kepada kami di Baitul Maqdis, Abu Jum'ah Al-Anshari, sahabat Rasulullah SAW. Ia melakukan shalat di situ. Ketika itu ada bersama kami Raja bin Hayawah.
Saat ia hendak pergi, kami keluar melepasnya. Ia lalu berkata, 'Sesungguhnya kalian memiliki ganjaran dan hak. Aku akan menyebutkan kepada kalian sebuah hadist yang aku dengar dari Rasulullah SAW, 'Kami bilang, 'Sebutkanlah, semoga Allah merahmatimu, 'Ia lalu mengatakan, 'Suatu ketika kami berada bersama Rasulullah dan bersama kami terdapat pula Mu'adz bin Jabal. Kami berkata, 'Wahai Rasulullah, adakah suatu kaum yang lebih besar ganjarannya dibandingkan kami? Kami beriman kepadamu dan kami mengikutimu." Rasulullah menjawab, 'Apa yang menghalangi kalian dari itu sedangkan Rasulullah berada di tengah-tengah kalian dan ia membawakan kepada kalian wahyu dari langit? Tetapi kaum setelah kalian yang didatangkan kitab kepada mereka, mereka beriman dengannya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Mereka itulah yang lebih besar ganjarannya dibandingkan kalian;."
Mengenai firman Allah Ta'ala wa yuqimunash-shalah (dan mereka mendirikan shalat), Ibn Abbas mengatakan, arti mendirikan shalat adalah menyempurnakan rukuk, sujud, bacaan Al-Quran yang dibaca, juga khusyu'. Sedangkan Qatadah berkata, mendirikan shalat artinya memelihara waktu-waktunya, wudhunya, rukuknya, dan sujudnya. Shalat dalam perkataan orang Arab pada asalnya berarti doa.
Wa mimma razaqnahum yunfiqun
Ibn Abbas mengatakan, artinya adalah mereka mengeluarkan zakat harta mereka. Sejumlah sahabat Rasulullah SAW berkata bahwa yang dimaksud adalah nafkah yang dikeluarkan oleh seseorang untuk keluarganya, dan ini sebelum turunnya ayat tentang zakat. Sedangkan Qatadah mengatakan, mereka menafkahkan apa yang Allah berikan kepada mereka. Semua harta ini merupakan titipan di sisi manusia, dan mereka akan meninggalkannya. Ibn Jarir berpendapat, ayat ini mencakup zakat dan nafkah.
Allah sering mengiringkan shalat dan menafkahkan harta. Shalat merupakan hak Allah dan ibadah kepada-Nya, dan ia mencakup pengesaan terhadap-Nya, pujian kepada-Nya, doa, serta tawakal kepada-Nya. Sedangkan menafkahkan harta adalah kebaikan kepada para makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka. Orang yang paling patut menerima itu adalah keluarga, kerabat, hamba-hamba sahaya, kemudian orang-orang lain (yang tak ada hubungan apa-apa dengannya). Setiap nafkah yang wajib dan zakat yang wajib masuk di dalam firma Allah wa mimma razaqnahum yunfiqun.
Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yang yakin akan adanya kehidupan akhirat.(04)
Ibn Abbas mengatakan, pengertian ayat ini, mereka adalah orang-orang yang membenarkan apa-apa yang engkau bawa dari Allah Ta'ala dan juga apa-apa yang dibawa oleh para rasul sebelummu. Mereka tidak membedakan para rasul dan tidak menentang apa yang para rasul bawa kepada mereka. Mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat, artinya yakin dengan adanya kebangkitan, kiamat, surga, dan neraka, perhitungan dan timbangan.
Mujahid mengatakan, empat ayat dari surah Al-Baqarah menyifati orang-orang mukmin, dua ayat menyifati orang-orang kafir, dan tiga belas ayat menyifati orang-orang munafik.
Empat ayat yang menyifati orang-orang mukmin itu bersifat umum berlaku pada setiap mukmin yang memiliki sifat demikian, baik orang Arab, ajam (non-Arab), maupun Kitabi, baik manusia maupun jin. Dan tidak bisa hanya sebagian sifat sedangkan yang lainnya tidak ada. Semuanya harus ada. Bahkan, setiap sifatnya menuntut adanya sifat yang lain dan menjadi syarat bersamanya. Jadi, tidak sah iman kepada yang ghaib kecuali beriman pula kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah dan apa-apa yang dibawa oleh para rasul sebelum beliau, juga yakin akan datangnya hari akhirat.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.(05)
Ula-ika (mereka itu) artinya mereka yang digambarkan sebelumnya, yakni yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menafkahkan apa yang Allah rezekikan kepada mereka, beriman kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah dan meyakini datangnya hari akhirat.
'Ala hudan (di atas petunjuk) artinya berjalan di atas cahaya, keterangan, dan bashirah (penglihatan batin) dari Allah. Wa ulaika humul-muflihun (dan mereka itulah orang-orang yang beruntung), di dunia dan akhirat. Ibn Abbas mengatakan, ala hudan min rabbihim artinya berjalan di atas cahaya dari Tuhan mereka dan senantiasa istiqamah atas apa yang dibawakan kepada mereka. Sedangkan wa ulaika humul muflihun artinya mereka mendapatkan apa yang mereka tuntut dan mereka selamat dari keburukan yang mereka hindari.
BAB III
KESIMPULAN
Para mufasir berbeda pendapat tentang potongan huruf-huruf di awal-awal surah. Di antara mereka ada yang mengatakan, itu termasuk sesuatu yang hanya diketahui Allah.
Ibn Abbas mengatakan, Dzalikal-kitab (kitab itu) artinya hadzal-kitab (kitab ini). Orang-orang Arab suka menggunakan dua isim isyarah, kata penunjuk, secara saling menggantikan. Mereka menggunakan masing-masing di tempat yang lain.
As-Sudi mengatakan hudan-lil-muttaqin artinya nuran-lil-muttaqin ( cahaya bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari Ibn Abbas disebutkan, Al-muttaqun adalah orang-orang beriman yang menjauhkan diri dari syirik dan menjalankan ketaatan kepada Allah.
Allah sering mengiringkan shalat dan menafkahkan harta. Shalat merupakan hak Allah dan ibadah kepada-Nya, dan ia mencakup pengesaan terhadap-Nya, pujian kepada-Nya, doa, serta tawakal kepada-Nya. Sedangkan menafkahkan harta adalah kebaikan kepada para makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka. Orang yang paling patut menerima itu adalah keluarga, kerabat, hamba-hamba sahaya, kemudian orang-orang lain (yang tak ada hubungan apa-apa dengannya).
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Kamil dan Terjemahan. Pustaka Darus Sunnah. 2008
Al-Qur’an Al-Hikmah dan Terjemahan. Penerbit Diponegoro. 2007
Alu Syaikh, Abdullah Bin Muhammad: Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Imam Syafii. Jakarta. 2006
Al-Mubarakfuri,Syafiyurrahman: Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Ibnu Katsir. Jakarta. 2007
03 April 2009
TAFSIR AL - FATIHAH
BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu Tafsir adalah suatu bidang ilmu yang sangat penting dalam perbendaharaan ilmu-ilmu Islam. Karena kajian serta upaya memahami dan memahamkan al-Qur’an, belajar dan mengajarkannya pada orang lain termasuk tujuan amat luhur dan sasaran yang sangat mulia. Dan ilmu tentang al-Qur’an yang paling Sempurna adalah ilmu tafsir .
A. Latar Belakang Penulisan Makalah
Adapun penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing Ustadz Mulkan Darajat Sena Silaen, S.Pd.I.
B. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mencoba memahami dan memperdalam pengetahuan kami selaku pemakalah khususnya, dan para pembaca makalah umumnya dalam bidang ilmu tafsir yang sangat jarang sekali pada saat ini kita dapatkan pakar ataupun ahlinya.
BAB II
TAFSIR SURAT AL-FATIHAH
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
86. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
7. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
A. Pengertian Al-Fatihah
Surat ini disebut al-Fatihah yang artinya adalah pembuka kitab secara tertulis. Dengan surat inilah dibukanya bacaan dalam shalat. Shalat ini disebut juga Ummul Kitab (induk al-Qur’an) berdasarkan pendapat jumhur.
Surah ini juga mempunyai banyak nama lain, antara lain Ummul-Kitab, Asy-Syifa’, Al-Waqiyah, Al-Kafiyah, Asas Al-Quran, dan sebagainya.
Surat al-Fatihah ini melengkapi unsur-unsur pokok Syariat Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat al-Qur’an yang 113 surat berikutnya.
B. Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat per Ayat
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Para sahabat memulai membaca Al-Quran dengan ucapan ini. Membaca bismillahir-rahmanir-rahim dianjurkan di awal setiap pembicaraan dan pekerjaan. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan membaca bismillahir-rahmanir-rahim, ia menjadi terputus,” Arti “terputus”, sedikit keberkahannya.
Membaca basmalah juga disunahkan ketika berwudhu , berdasarkan sabda Nabi SAW, “Tidak sempurna wudu seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” Menurut mazhab Syafi’I, disunahkan membaca basmalah ketika menyembelih, sedangkan menurut mazhab yang lain hukumnya wajib. Disunahkan juga membaca basmalah ketika hendak bersetubuh, berdasarkan sabda Nabi SAW, “Seandainya salah seorang di antara kalian ketika hendak bersetubuh mengucapkan, “bismillah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau berikan kepada kami (yakni anak yang akan Allah berikan)’, seandainya ia ditakdirkan mempunyai anak dari hubungannya disaat itu – anak itu tak akan dicelakakan oleh setan selamanya.
Membaca basmalah disunnahkan pada saat mengawali setiap pekerjaan. Disunnahkan juga pada saat hendak masuk ke kamar kecil (toilet).
Menurut Ibn Jarir, Sifat ar-rahman atau pengasih Allah adalah untuk semua mahluk, dan ar-rahim-Nya untuk orang-orang mukmin. Lafaz ar-rahman juga nama Allah yang khusus yang tidak boleh digunakan oleh selain Dia (Artinya, jika hanya memakai Ar-Rahman atau Rahman saja. Jika seseorang mempunyai nama Abdurrahman tentu sangat bagus, karena artinya “hamba Allah yang bersifat rahman”).
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Al-Qurthubi mengatakan, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-rahmanir-rahim setelah firman-Nya rabbil-alamin adalah untuk mengiringkan tarhib (pernyataan yang mengandung ancaman, meskipun implisit) dengan targhib (pernyataan yang mengandung kabar gembira) . Sebagaimana firman Allah :
49. Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, 50. dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.
Didalam kata rabb yang telah kita ketahui maknanya di atas terkandung pengertian ancaman, karena pemilik sesuatu berhak melakukan suatu tindakan terhadap miliknya, sedangkan ucapan ar-rahmanir-rahim mengandung kabar gembira.
4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.
Yaumid diin adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja.
Sebagian ahli qiraah membaca maaliki dengan maliki (ma-nya tidak dipanjangkan). Kedua bacaan itu (baik ma-nya dibaca panjang maupun pendek) adalah bacaan yang sahih dan mutawatir (diriwayatkan secara sahih dari berbagai jalur yang sangat banyak). Disebutkannya Allah sebagai yang menguasai di hari kemudian, karena pada saat itu tak seorang pun yang mengakui memiliki sesuatu dan tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.
Di dalam sebuah ayat dikatakan, “Mereka tidak berkata-kata, kecuali yang telah diizinkan oleh Tuhan, Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar.” Raja yang sebenarnya adalah Allah, sedangkan penamaan segala sesuatu selain Dia dengan kata “raja” adalah kiasan saja. Sedangkan kata diin pada ayat ini berarti pembalasan dan perhitungan, karena pada hari ini semua mahluk diperhitungkan dan diberi balasan atas perbuatannya.
5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah[, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
Menurut syara’, ibadah adalah yang menghimpunkan cinta, ketundukan, dan rasa takut yang sempurna. Arti ayat ini, “Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu, dan Kami tidak berserah diri kecuali kepada-Mu juga.” Inilah taat yang sempurna. Agama secara keseluruhannya terpulang kepada dua hal ini. Yang pertama membebaskan diri dari perbuatan syirik, sedangkan yang kedua membebaskan diri dari pengakuan memiliki upaya dan kekuatan, serta menyerahkannya kepada Allah SWT.
Kalimat iyyaka na’budu didahulukan daripada iyyaka nasta’in karena beribadah kepada Allah itulah yang merupakan tujuan, sedangkan meminta pertolongan adalah perantara untuk menuju ke sana. Karena, pada dasarnya segala yang terpenting didahulukan, kemudian setelah itu baru yang penting, dan seterusnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”
Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.”
6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
Setelah memuji Zat yang akan diminta, tepatlah jika kemudian diikuti dengan mengajukan permintaan. Ini adalah kondisi peminta yang sempurna, yakni ia memuji siapa yang akan diminta, setelah itu baru meminta kebutuhannya. Cara demikian tentu akan lebih membawa keberhasilan. Karena itulah, Allah menunjukkan hal tersebut.
Yang dimaksud hidayah di sini adalah bimbingan dan taufik. Para mufasir dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun khalaf (ulama kini) berbeda pendapat tentang penafsiran ash-shirathal-mustaqim sekalipun semuanya terpulang kepada satu poin yang sama, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Ada riwayat yang menyebutkan, ash-shirathal-mustaqiim artinya Kitabullah. Ada pula riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah agama islam.
Ibn Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah agama Allah yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Sedangkan Ibn Al-Hanafiyah menyebutkan, yang dimaksud adalah agama Allah di mana agama lainnya yang dipeluk oleh seorang hamba tidak akan diterima. Mujahid memberikan keterangan yang lain lagi. Ia mengatakan, ash-shiraahal-Mustaqiim adalah kebenaran. Pengertian ini mempunyai cakupan yang lebih luas dan tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat yang disebutkan tadi.
Jika ada yang bertanya, mengapa seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu salat padalah hal itu telah ia miliki, jawabannya sebagai berikut:
Seorang hamba setiap saat dan di setiap keadaan butuh agar Allah menetapkan dan menguatkan hidayah yang telah dimilikinya. Maka Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya agar ia meminta kepada-Nya di setiap waktu agar memberikannya pertolongan, ketetapan (kemantapan), dan taufik.
Abu Bakar pernah membaca ayat ini dalam rakaat ketiga pada shalat Maghrib secara sirri (tidak keras), setelah selesai membaca al-Fatihah
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Kalimat shiraathal-ladziina an’amta ‘alaihim menjelaskan ash-shiraathal-mustaqiim. Mereka yang telah diberi nikmat adalah yang disebutkan dalam surah An-nisa’, yang artinya, “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Ibn Abbas menjelaskan, mereka adalah para malaikat, para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Rabi’ bin Anas mengatakan, mereka adalah para nabi, sedangkan Ibn Juraij dan Mujahid berpendapat, mereka adalah orang-orang mukmin. Penafsiran Ibn Abbas tampak lebih umum dan lebih luas cakupannya..
Pengertian orang-orang yang dimurkai adalah orang –orang yang mengetahui kebenaran tetapi berpaling darinya, sedangkan orang-orang yang sesat adalah yang tidak memiliki pengetahuan sehingga mereka berada dalam kesesatan, tidak mendapatkan petunjuk menuju kebenaran. Pengingkaran pertama (bukan jalan orang-orang yang dimurkai) diikuti dengan pengingkaran kedua (dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat) menunjukan, ada dua jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani.
Selain untuk menguatkan pengingkaran, juga untuk membedakan dua jalan yang rusak itu agar kedua-duanya dihindari, karena jalan orang-orang yang beriman mencakup dua hal sekaligus: mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Orang-orang Yahudi mengetahui tapi tidak mengamalkannya, sedangkan orang-orang Nasrani tidak memiliki pengetahuan tentang itu tapi mengamalkannya. Karena itu, orang Yahudi dimurkai dan orang Nasrani berada dalam kesesatan. Hadis-hadis banyak yang menjelaskan hal itu. Di antaranya yang diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah ghairil-maghdhuubi ‘alaihim, beliau menjawab, ‘Mereka orang-orang Yahudi,’ sedangkan waladh-dhaalliin, kata beliau, ‘Mereka orang-orang Nasrani,”
Bagi orang yang membaca surah Al-Fatihah, disunahkan sesudahnya mengucapkan amiin, yang artinya, “Kabulkanlah permintaan kami, Ya Allah,” Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW, apabila membaca ghairil-maghdhubi ‘alaihim, sesudahnya mengucapkan amiin, sehingga dapat didengar oleh orang yang berada di saf pertama di belakang beliau.”
Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang
C. Asbabun Nuzul
Mengenai asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) surat al-Fatihah, sebagaimana diriwatkan oleh Ali bin Abi Tholib (mantu Rosulullah Muhammad saw: “Surat al-Fatihah turun di Mekah dari perbendaharaan di bawah ‘arsy’”
Riwayat lain menyatakan, Amr bin Shalih bertutur kepada kami: “Ayahku bertutur kepadaku, dari al-Kalbi, dari Abu Salih, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Nabi berdiri di Mekah, lalu beliau membaca, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Kemudian orang-orang Quraisy mengatakan, “Semoga Allah menghancurkan mulutmu (atau kalimat senada).”
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rosulullah saw. bersabda saat Ubai bin Ka’ab membacakan Ummul Quran pada beliau, “Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan semisal surat ini di dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Quran. Sesungguhnya surat ini adalah as-sab’ul matsani (tujuh kalimat pujian) dan al-Quran al-’Azhim yang diberikan kepadaku.”
D. Keutamaan Al-Fatihah
Pertama, al-Fatihah adalah surat yang paling utama. Dari Anas bin Malik ra. berkata: Tatkala Nabi saw dalam sebuah perjalanan lalu turun dari kendaraannya, turun pula seorang lelaki di samping beliau. Lalu Nabi menoleh ke arah lelaki tersebut kemudian berkata: “Maukah kamu aku beritahukan surat yang paling utama di dalam al-Quran? Anas berkata: Kemudian Nabi saw membacakan ayat ’segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.’
Kedua, al-Fatihah dapat digunakan untuk meruqyah. Dari Abi Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah ra (keduanya) berkata: “Rosulullah saw bersabda, surat pembuka al-Kitab dapat menyembuhkan dan menawarkan racun.”
Ketiga, mengucapkan amin akan menghapus dosa-dosa. Dari Abu Hurairah ra., Sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Jika imam mengucapkan ‘ghoiril magdhubi ‘alaihim waladh dhallin’, maka sambutlah dengan ucapan ‘amin’, karena para malaikatpun mengucapkan ‘amin’ dan sesungguhnya imampun mengucapkan ‘amin’ pula. Maka barang siapa yang ucapan ‘amin’-nya sesuai dengan ucapan malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.
Keempat, tanpa al-Fatihah salat akan tidak sempurna. Dari A’isyah ra. berkata: Aku mendengar Rosulullah saw. bersabda: “Setiap salat yang tidak membaca surat al-Fatihah maka salatnya tergolong khaddaj (tidak sempurna).”
Kelima, al-Fatihah adalah induk al-Quran. Dari Abu Hurairah ra., Rosulullah bersabda: Induk al-Quran adalah tujuh ayat yang berulang dan al-Quran yang agung.”
BAB III
KESIMPULAN
Surat yang demikian ringkas ini sesungguhnya telah merangkum berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu di dalam surat-surat yang lain di dalam Al Quran. Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat Rabbil ‘alamiin terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya seperti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya. Di dalam kata Allah dan Iyyaaka na’budu terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya. Demikian juga di dalam penggalan ayat Alhamdu terkandung makna tauhid asma’ wa sifat. Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya. Allah telah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi diri-Nya sendiri. Demikian pula Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Maka kewajiban kita adalah mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan itu benar-benar dimiliki oleh Allah. Kita mengimani ayat ataupun hadits yang berbicara tentang nama dan sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak maknanya ataupun menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat Ihdinash shirathal mustaqiim. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasul. Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat Maaliki yaumid diin. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas. Dari ayat ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil. Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Allah ta’ala sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah. Bahkan di dalam ayat Ihdinash shirathal mustaqiim itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid’ah dan penganut ajaran sesat. Karena pada hakikatnya semua pelaku kebid’ahan maupun penganut ajaran sesat itu pasti menyimpang dari jalan yang lurus; yaitu memahami kebenaran dan mengamalkannya. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan dalam beragama demi Allah ta’ala semata. Ibadah maupun isti’anah, semuanya harus lillaahi ta’aala. Kandungan ini tersimpan di dalam ayat Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.
Allah ta’ala berfirman : ‘Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.’ Kalau hamba itu membaca, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Kalau dia membaca, ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Maliki yaumid din’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku’. Kemudian Allah mengatakan, ‘Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.’. dan kalau dia membaca, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin” maka Allah berfirman, ‘Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya.’.”
Makna dari firman Allah di dalam hadits qudsi ini, “Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.” ialah : kalimat yang pertama yaitu ‘Iyyaka na’budu’ mencakup ibadah, dan itu merupakan hak Allah. sedangkan kalimat yang kedua (yaitu wa iyyaka nasta’in, pen) mengandung permintaan hamba untuk memperoleh pertolongan dari Allah dan menunjukkan bahwa Allah berkenan memberikan kemuliaan baginya dengan mengabulkan permintaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Kariim dan Terjemahan. Depag. 1974
Alu Syaikh, Abdullah Bin Muhammad: Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Imam Syafii. Jakarta.2008
Al-Mubarakfuri,Syafiyurrahaman: Shahih Tafsir Ibnu Katsir.Pustaka Ibnu Katsir.Jakarta.2007
As-Sa’di, Abdurrahman: Tafsir As-Sa’di. Pustaka Darul Haq. Jakarta.2008
PENDAHULUAN
Ilmu Tafsir adalah suatu bidang ilmu yang sangat penting dalam perbendaharaan ilmu-ilmu Islam. Karena kajian serta upaya memahami dan memahamkan al-Qur’an, belajar dan mengajarkannya pada orang lain termasuk tujuan amat luhur dan sasaran yang sangat mulia. Dan ilmu tentang al-Qur’an yang paling Sempurna adalah ilmu tafsir .
A. Latar Belakang Penulisan Makalah
Adapun penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing Ustadz Mulkan Darajat Sena Silaen, S.Pd.I.
B. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mencoba memahami dan memperdalam pengetahuan kami selaku pemakalah khususnya, dan para pembaca makalah umumnya dalam bidang ilmu tafsir yang sangat jarang sekali pada saat ini kita dapatkan pakar ataupun ahlinya.
BAB II
TAFSIR SURAT AL-FATIHAH
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
86. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
7. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
A. Pengertian Al-Fatihah
Surat ini disebut al-Fatihah yang artinya adalah pembuka kitab secara tertulis. Dengan surat inilah dibukanya bacaan dalam shalat. Shalat ini disebut juga Ummul Kitab (induk al-Qur’an) berdasarkan pendapat jumhur.
Surah ini juga mempunyai banyak nama lain, antara lain Ummul-Kitab, Asy-Syifa’, Al-Waqiyah, Al-Kafiyah, Asas Al-Quran, dan sebagainya.
Surat al-Fatihah ini melengkapi unsur-unsur pokok Syariat Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat al-Qur’an yang 113 surat berikutnya.
B. Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat per Ayat
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Para sahabat memulai membaca Al-Quran dengan ucapan ini. Membaca bismillahir-rahmanir-rahim dianjurkan di awal setiap pembicaraan dan pekerjaan. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan membaca bismillahir-rahmanir-rahim, ia menjadi terputus,” Arti “terputus”, sedikit keberkahannya.
Membaca basmalah juga disunahkan ketika berwudhu , berdasarkan sabda Nabi SAW, “Tidak sempurna wudu seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” Menurut mazhab Syafi’I, disunahkan membaca basmalah ketika menyembelih, sedangkan menurut mazhab yang lain hukumnya wajib. Disunahkan juga membaca basmalah ketika hendak bersetubuh, berdasarkan sabda Nabi SAW, “Seandainya salah seorang di antara kalian ketika hendak bersetubuh mengucapkan, “bismillah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau berikan kepada kami (yakni anak yang akan Allah berikan)’, seandainya ia ditakdirkan mempunyai anak dari hubungannya disaat itu – anak itu tak akan dicelakakan oleh setan selamanya.
Membaca basmalah disunnahkan pada saat mengawali setiap pekerjaan. Disunnahkan juga pada saat hendak masuk ke kamar kecil (toilet).
Menurut Ibn Jarir, Sifat ar-rahman atau pengasih Allah adalah untuk semua mahluk, dan ar-rahim-Nya untuk orang-orang mukmin. Lafaz ar-rahman juga nama Allah yang khusus yang tidak boleh digunakan oleh selain Dia (Artinya, jika hanya memakai Ar-Rahman atau Rahman saja. Jika seseorang mempunyai nama Abdurrahman tentu sangat bagus, karena artinya “hamba Allah yang bersifat rahman”).
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Al-Qurthubi mengatakan, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-rahmanir-rahim setelah firman-Nya rabbil-alamin adalah untuk mengiringkan tarhib (pernyataan yang mengandung ancaman, meskipun implisit) dengan targhib (pernyataan yang mengandung kabar gembira) . Sebagaimana firman Allah :
49. Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, 50. dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.
Didalam kata rabb yang telah kita ketahui maknanya di atas terkandung pengertian ancaman, karena pemilik sesuatu berhak melakukan suatu tindakan terhadap miliknya, sedangkan ucapan ar-rahmanir-rahim mengandung kabar gembira.
4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.
Yaumid diin adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja.
Sebagian ahli qiraah membaca maaliki dengan maliki (ma-nya tidak dipanjangkan). Kedua bacaan itu (baik ma-nya dibaca panjang maupun pendek) adalah bacaan yang sahih dan mutawatir (diriwayatkan secara sahih dari berbagai jalur yang sangat banyak). Disebutkannya Allah sebagai yang menguasai di hari kemudian, karena pada saat itu tak seorang pun yang mengakui memiliki sesuatu dan tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.
Di dalam sebuah ayat dikatakan, “Mereka tidak berkata-kata, kecuali yang telah diizinkan oleh Tuhan, Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar.” Raja yang sebenarnya adalah Allah, sedangkan penamaan segala sesuatu selain Dia dengan kata “raja” adalah kiasan saja. Sedangkan kata diin pada ayat ini berarti pembalasan dan perhitungan, karena pada hari ini semua mahluk diperhitungkan dan diberi balasan atas perbuatannya.
5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah[, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
Menurut syara’, ibadah adalah yang menghimpunkan cinta, ketundukan, dan rasa takut yang sempurna. Arti ayat ini, “Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu, dan Kami tidak berserah diri kecuali kepada-Mu juga.” Inilah taat yang sempurna. Agama secara keseluruhannya terpulang kepada dua hal ini. Yang pertama membebaskan diri dari perbuatan syirik, sedangkan yang kedua membebaskan diri dari pengakuan memiliki upaya dan kekuatan, serta menyerahkannya kepada Allah SWT.
Kalimat iyyaka na’budu didahulukan daripada iyyaka nasta’in karena beribadah kepada Allah itulah yang merupakan tujuan, sedangkan meminta pertolongan adalah perantara untuk menuju ke sana. Karena, pada dasarnya segala yang terpenting didahulukan, kemudian setelah itu baru yang penting, dan seterusnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”
Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.”
6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
Setelah memuji Zat yang akan diminta, tepatlah jika kemudian diikuti dengan mengajukan permintaan. Ini adalah kondisi peminta yang sempurna, yakni ia memuji siapa yang akan diminta, setelah itu baru meminta kebutuhannya. Cara demikian tentu akan lebih membawa keberhasilan. Karena itulah, Allah menunjukkan hal tersebut.
Yang dimaksud hidayah di sini adalah bimbingan dan taufik. Para mufasir dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun khalaf (ulama kini) berbeda pendapat tentang penafsiran ash-shirathal-mustaqim sekalipun semuanya terpulang kepada satu poin yang sama, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Ada riwayat yang menyebutkan, ash-shirathal-mustaqiim artinya Kitabullah. Ada pula riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah agama islam.
Ibn Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah agama Allah yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Sedangkan Ibn Al-Hanafiyah menyebutkan, yang dimaksud adalah agama Allah di mana agama lainnya yang dipeluk oleh seorang hamba tidak akan diterima. Mujahid memberikan keterangan yang lain lagi. Ia mengatakan, ash-shiraahal-Mustaqiim adalah kebenaran. Pengertian ini mempunyai cakupan yang lebih luas dan tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat yang disebutkan tadi.
Jika ada yang bertanya, mengapa seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu salat padalah hal itu telah ia miliki, jawabannya sebagai berikut:
Seorang hamba setiap saat dan di setiap keadaan butuh agar Allah menetapkan dan menguatkan hidayah yang telah dimilikinya. Maka Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya agar ia meminta kepada-Nya di setiap waktu agar memberikannya pertolongan, ketetapan (kemantapan), dan taufik.
Abu Bakar pernah membaca ayat ini dalam rakaat ketiga pada shalat Maghrib secara sirri (tidak keras), setelah selesai membaca al-Fatihah
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Kalimat shiraathal-ladziina an’amta ‘alaihim menjelaskan ash-shiraathal-mustaqiim. Mereka yang telah diberi nikmat adalah yang disebutkan dalam surah An-nisa’, yang artinya, “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Ibn Abbas menjelaskan, mereka adalah para malaikat, para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Rabi’ bin Anas mengatakan, mereka adalah para nabi, sedangkan Ibn Juraij dan Mujahid berpendapat, mereka adalah orang-orang mukmin. Penafsiran Ibn Abbas tampak lebih umum dan lebih luas cakupannya..
Pengertian orang-orang yang dimurkai adalah orang –orang yang mengetahui kebenaran tetapi berpaling darinya, sedangkan orang-orang yang sesat adalah yang tidak memiliki pengetahuan sehingga mereka berada dalam kesesatan, tidak mendapatkan petunjuk menuju kebenaran. Pengingkaran pertama (bukan jalan orang-orang yang dimurkai) diikuti dengan pengingkaran kedua (dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat) menunjukan, ada dua jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani.
Selain untuk menguatkan pengingkaran, juga untuk membedakan dua jalan yang rusak itu agar kedua-duanya dihindari, karena jalan orang-orang yang beriman mencakup dua hal sekaligus: mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Orang-orang Yahudi mengetahui tapi tidak mengamalkannya, sedangkan orang-orang Nasrani tidak memiliki pengetahuan tentang itu tapi mengamalkannya. Karena itu, orang Yahudi dimurkai dan orang Nasrani berada dalam kesesatan. Hadis-hadis banyak yang menjelaskan hal itu. Di antaranya yang diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah ghairil-maghdhuubi ‘alaihim, beliau menjawab, ‘Mereka orang-orang Yahudi,’ sedangkan waladh-dhaalliin, kata beliau, ‘Mereka orang-orang Nasrani,”
Bagi orang yang membaca surah Al-Fatihah, disunahkan sesudahnya mengucapkan amiin, yang artinya, “Kabulkanlah permintaan kami, Ya Allah,” Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW, apabila membaca ghairil-maghdhubi ‘alaihim, sesudahnya mengucapkan amiin, sehingga dapat didengar oleh orang yang berada di saf pertama di belakang beliau.”
Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang
C. Asbabun Nuzul
Mengenai asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) surat al-Fatihah, sebagaimana diriwatkan oleh Ali bin Abi Tholib (mantu Rosulullah Muhammad saw: “Surat al-Fatihah turun di Mekah dari perbendaharaan di bawah ‘arsy’”
Riwayat lain menyatakan, Amr bin Shalih bertutur kepada kami: “Ayahku bertutur kepadaku, dari al-Kalbi, dari Abu Salih, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Nabi berdiri di Mekah, lalu beliau membaca, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Kemudian orang-orang Quraisy mengatakan, “Semoga Allah menghancurkan mulutmu (atau kalimat senada).”
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rosulullah saw. bersabda saat Ubai bin Ka’ab membacakan Ummul Quran pada beliau, “Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan semisal surat ini di dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Quran. Sesungguhnya surat ini adalah as-sab’ul matsani (tujuh kalimat pujian) dan al-Quran al-’Azhim yang diberikan kepadaku.”
D. Keutamaan Al-Fatihah
Pertama, al-Fatihah adalah surat yang paling utama. Dari Anas bin Malik ra. berkata: Tatkala Nabi saw dalam sebuah perjalanan lalu turun dari kendaraannya, turun pula seorang lelaki di samping beliau. Lalu Nabi menoleh ke arah lelaki tersebut kemudian berkata: “Maukah kamu aku beritahukan surat yang paling utama di dalam al-Quran? Anas berkata: Kemudian Nabi saw membacakan ayat ’segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.’
Kedua, al-Fatihah dapat digunakan untuk meruqyah. Dari Abi Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah ra (keduanya) berkata: “Rosulullah saw bersabda, surat pembuka al-Kitab dapat menyembuhkan dan menawarkan racun.”
Ketiga, mengucapkan amin akan menghapus dosa-dosa. Dari Abu Hurairah ra., Sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Jika imam mengucapkan ‘ghoiril magdhubi ‘alaihim waladh dhallin’, maka sambutlah dengan ucapan ‘amin’, karena para malaikatpun mengucapkan ‘amin’ dan sesungguhnya imampun mengucapkan ‘amin’ pula. Maka barang siapa yang ucapan ‘amin’-nya sesuai dengan ucapan malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.
Keempat, tanpa al-Fatihah salat akan tidak sempurna. Dari A’isyah ra. berkata: Aku mendengar Rosulullah saw. bersabda: “Setiap salat yang tidak membaca surat al-Fatihah maka salatnya tergolong khaddaj (tidak sempurna).”
Kelima, al-Fatihah adalah induk al-Quran. Dari Abu Hurairah ra., Rosulullah bersabda: Induk al-Quran adalah tujuh ayat yang berulang dan al-Quran yang agung.”
BAB III
KESIMPULAN
Surat yang demikian ringkas ini sesungguhnya telah merangkum berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu di dalam surat-surat yang lain di dalam Al Quran. Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat Rabbil ‘alamiin terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya seperti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya. Di dalam kata Allah dan Iyyaaka na’budu terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya. Demikian juga di dalam penggalan ayat Alhamdu terkandung makna tauhid asma’ wa sifat. Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya. Allah telah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi diri-Nya sendiri. Demikian pula Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Maka kewajiban kita adalah mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan itu benar-benar dimiliki oleh Allah. Kita mengimani ayat ataupun hadits yang berbicara tentang nama dan sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak maknanya ataupun menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat Ihdinash shirathal mustaqiim. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasul. Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat Maaliki yaumid diin. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas. Dari ayat ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil. Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Allah ta’ala sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah. Bahkan di dalam ayat Ihdinash shirathal mustaqiim itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid’ah dan penganut ajaran sesat. Karena pada hakikatnya semua pelaku kebid’ahan maupun penganut ajaran sesat itu pasti menyimpang dari jalan yang lurus; yaitu memahami kebenaran dan mengamalkannya. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan dalam beragama demi Allah ta’ala semata. Ibadah maupun isti’anah, semuanya harus lillaahi ta’aala. Kandungan ini tersimpan di dalam ayat Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.
Allah ta’ala berfirman : ‘Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.’ Kalau hamba itu membaca, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Kalau dia membaca, ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Maliki yaumid din’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku’. Kemudian Allah mengatakan, ‘Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.’. dan kalau dia membaca, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin” maka Allah berfirman, ‘Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya.’.”
Makna dari firman Allah di dalam hadits qudsi ini, “Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.” ialah : kalimat yang pertama yaitu ‘Iyyaka na’budu’ mencakup ibadah, dan itu merupakan hak Allah. sedangkan kalimat yang kedua (yaitu wa iyyaka nasta’in, pen) mengandung permintaan hamba untuk memperoleh pertolongan dari Allah dan menunjukkan bahwa Allah berkenan memberikan kemuliaan baginya dengan mengabulkan permintaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Kariim dan Terjemahan. Depag. 1974
Alu Syaikh, Abdullah Bin Muhammad: Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Imam Syafii. Jakarta.2008
Al-Mubarakfuri,Syafiyurrahaman: Shahih Tafsir Ibnu Katsir.Pustaka Ibnu Katsir.Jakarta.2007
As-Sa’di, Abdurrahman: Tafsir As-Sa’di. Pustaka Darul Haq. Jakarta.2008
Langganan:
Postingan (Atom)